HomeUncategorizedChina Kebingungan, Kebijakan Satu Anak Bikin Populasi Menyusut

China Kebingungan, Kebijakan Satu Anak Bikin Populasi Menyusut

Published on

spot_img

 1,245 total views

INN NEWS – Penasihat politik pemerintah China memberikan lebih dari 20 rekomendasi untuk meningkatkan angka kelahiran menyusul terus menyusutnya populasi di negara kaya itu, meskipun para ahli mengatakan cara terbaik yang dapat mereka lakukan adalah memperlambat penurunan populasi.

Merosotnya populasi China ini dianggap sebagai akibat kebijakan satu anak yang diberlakukan antara 1980 dan 2015. Sadar telah menggali lubang demografi, pemerintah lalu menaikkan batas jumlah anak menjadi tiga anak pada 2021.

Namun pelonggaran itu tidak berdampak pada peningkatan populasi. Bahkan selama masa tinggal di rumah saat pandemi Covid, pasangan enggan memiliki bayi.

Kaum muda menyebut biaya pengasuhan dan pendidikan anak mahal, pendapatan rendah, jaring pengaman sosial lemah, dan ketidaksetaraan gender, sebagai faktor yang membuat mereka enggan mempunyai banyak anak.

Proposal untuk meningkatkan angka kelahiran, yang dibuat pada pertemuan tahunan Konferensi Konsultatif Politik Rakyat China (CPPCC) bulan ini, berkisar dari subsidi untuk keluarga membesarkan anak pertama mereka, bukan hanya anak kedua dan ketiga, memperluas pendidikan publik gratis dan meningkatkan akses ke perawatan kesuburan.

Baca juga: Populasi Nyusut, Korut Bujuk Warga Punya Banyak Anak Pakai Sembako

Para ahli menganggap banyaknya proposal sebagai tanda positif bahwa China memperlakukan penuaan dan penurunan demografi sebagai masalah penting, setelah data menunjukkan populasi menyusut untuk pertama kalinya dalam enam dekade tahun lalu.

“Anda tidak dapat mengubah tren penurunan,” kata Xiujian Peng, peneliti senior di Pusat Studi Kebijakan di Universitas Victoria di Australia. “Tapi tanpa ada kebijakan yang mendorong kesuburan maka kesuburan akan semakin menurun.”

Mosi oleh anggota CPPCC Jiang Shengnan bahwa kaum muda bekerja hanya delapan jam per hari sehingga mereka memiliki waktu untuk “jatuh cinta, menikah dan memiliki anak,” sangat penting untuk memastikan perempuan tidak terlalu banyak bekerja, kata Peng.

Memberi insentif untuk memiliki anak pertama dapat mendorong pasangan untuk memiliki setidaknya satu anak, katanya. Banyak provinsi saat ini hanya mensubsidi anak kedua dan ketiga.

Tingkat kelahiran China tahun lalu turun menjadi 6,77 kelahiran per 1.000 orang, dari 7,52 kelahiran pada 2021, rekor terendah.

Ahli demografi memperingatkan China akan menjadi tua sebelum menjadi kaya, karena tenaga kerjanya menyusut dan pemerintah daerah berhutang membelanjakan lebih banyak untuk populasi lansia mereka.

Para ahli juga memuji usulan untuk membatalkan semua tindakan keluarga berencana, termasuk batas tiga anak dan persyaratan bagi perempuan untuk menikah secara sah untuk mendaftarkan anak-anak mereka.

Arjan Gjonca, profesor asosiasi di London School of Economics, mengatakan insentif keuangan tidak cukup dan kebijakan yang berfokus pada kesetaraan gender dan hak kerja lebih baik bagi perempuan kemungkinan akan berdampak lebih besar.

Proposal CPPCC seperti cuti hamil yang dibayar oleh pemerintah daripada pemberi kerja akan membantu mengurangi diskriminasi terhadap perempuan, sementara meningkatkan cuti melahirkan menghilangkan hambatan bagi ayah dalam mengambil lebih banyak tanggung jawab mengasuh anak, kata para ahli.

Ahli demografi Yi Fuxian tetap skeptis tindakan apa pun akan berdampak signifikan, dengan mengatakan China membutuhkan “revolusi paradigma seluruh ekonomi, masyarakat, politik, dan diplomasi untuk meningkatkan kesuburan.”

REUTERS

Artikel Terbaru

Nanik S Deyang Pimpin BGN, Publik Kembali Soroti Jejak Kasus Hoaks Ratna Sarumpaet

INNNEWS– Presiden Prabowo Subianto resmi menunjuk Nanik S Deyang sebagai Kepala Badan Gizi Nasional...

AI Forward Deployed Engineer: Profesi Baru yang Muncul di Era Kecerdasan Buatan

INNNEWS– Perkembangan kecerdasan buatan (AI) tidak hanya mengubah cara perusahaan bekerja, tetapi juga melahirkan...

Seminar Kebangsaan Rumah Belajar Pancasila Dorong Nilai Gotong Royong dan Toleransi di Masyarakat

INNNEWS – Rumah Belajar Pancasila menyelenggarakan Seminar Kebangsaan bertema “Membangun Masyarakat Keluarga Pancasila” di Pendopo...

Di Depan Macron, Prabowo Instruksikan Sekolah di RI Ajarkan Bahasa Prancis

INNNEWS-Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menyampaikan rencana penguatan kerja sama pendidikan antara Indonesia dan...

artikel yang mirip

Nanik S Deyang Pimpin BGN, Publik Kembali Soroti Jejak Kasus Hoaks Ratna Sarumpaet

INNNEWS– Presiden Prabowo Subianto resmi menunjuk Nanik S Deyang sebagai Kepala Badan Gizi Nasional...

AI Forward Deployed Engineer: Profesi Baru yang Muncul di Era Kecerdasan Buatan

INNNEWS– Perkembangan kecerdasan buatan (AI) tidak hanya mengubah cara perusahaan bekerja, tetapi juga melahirkan...

Seminar Kebangsaan Rumah Belajar Pancasila Dorong Nilai Gotong Royong dan Toleransi di Masyarakat

INNNEWS – Rumah Belajar Pancasila menyelenggarakan Seminar Kebangsaan bertema “Membangun Masyarakat Keluarga Pancasila” di Pendopo...