HomeGlobalRatusan Sekolah di Jepang Tutup Akibat Resesi Seks

Ratusan Sekolah di Jepang Tutup Akibat Resesi Seks

Published on

spot_img

 534 total views

INN NEWS – SCMP melaporkan, populasi di Jepang menurun hingga angka kelahiran bayi mencapai rekor terendah.

Menurunnya populasi tersebut lantaran Jepang disebut dilanda resesi seks.

Menurunnya populasi membawa dampak negatif di berbagai lini kehidupan, salah satunya ratusan sekolah tutup setiap tahun karena kekurangan murid.

Saat Eita Sato dan Aoi Hoshi berjalan menuju upacara kelulusan SMP, langkah mereka bergema di aula yang kini sangat sepi. Keduanya adalah satu-satunya lulusan SMP Yumoto. Sekolah berusia 76 tahun itu akan tutup untuk selamanya ketika tahun ajaran berakhir.

Baca juga: Populasi Nyusut, Korut Bujuk Warga Punya Banyak Anak Pakai Bantuan Sembako

“Kami mendengar desas-desus tentang penutupan sekolah di tahun kedua kami, tetapi saya tak membayangkan itu akan benar-benar terjadi. Saya terkejut,” kata Eita yang dikutip detikINET dari SCMP.

Hanya ada 799.728 kelahiran di Jepang pada tahun 2022, jumlah terkecil dalam catatan dan hampir tak lebih dari setengah dari 1,5 juta kelahiran yang tercatat di tahun 1982.

Adapun tingkat kesuburan, jumlah rata-rata anak yang lahir dari wanita selama masa reproduksi mereka, telah turun menjadi 1,3 atau jauh di bawah 2,1 yang diperlukan untuk mempertahankan populasi yang stabil. Kematian telah melampaui kelahiran selama lebih dari satu dekade.

Karena makin berkurangnya anak-anak, banyak sekolah tutup khususnya di area pedesaan. Menurut data pemerintah, sekitar 450 sekolah tutup setiap tahun. Antara tahun 2002 dan 2020, hampir 9.000 sekolah tutup untuk selamanya.

Tutupnya sekolah di pedesaan akan menimbulkan efek berantai, misalnya orang akan semakin malas tinggal di sana karena fasilitas pendidikan berkurang. Sekolah Yumoto, gedung dua lantai yang terletak di area pegunungan Ten-ei, memiliki sekitar 50 lulusan per tahun saat masa kejayaannya di tahun 1960-an.

Foto-foto setiap kelulusan tergantung di dekat pintu masuk, dari hitam putih menjadi berwarna, dengan jumlah siswa yang terlihat banyak dan tiba-tiba menurun dari sekitar tahun 2000. Sudah tidak ada foto serupa dari tahun lalu. Semuanya sudah berakhir.

 

 

Artikel Terbaru

Antrean Panjang di Layanan Imigrasi Bandara Soekarno-Hatta

JAKARTA - Calon penumpang harus mengantre panjang untuk pengecekan keimigrasian secara manual di pintu keberangkatan Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, pada Jumat (21/6).

Pekerjaan sekarang yang Gak Ditemui 10-20 Tahun lalu

INN NEWS - Dunia kerja terus mengalami perkembangan pesat dengan munculnya teknologi baru dan perubahan tren yang konstan. Meskipun teknologi telah menggantikan beberapa jenis pekerjaan, namun sebaliknya, inovasi teknologi juga telah menciptakan banyak kesempatan kerja yang sebelumnya tidak ada, bahkan dalam 10 atau 20 tahun terakhir.

Wah, 46 Persen Penerima Bansos Salah Sasaran

INN NEWS - Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Suharso Monoarfa mengungkapkan, ada 46 persen penerima bantuan sosial (bansos) tidak tepat sasaran.

PT Sritex Terancam Bangkrut, Sempat All In dan Taruh Harapan ke Gibran

SOLO - Salah satu perusahaan tekstil terbesar di Indonesia yakni PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex) terancam bangkrut di tengah gempuran utang yang menumpuk.

artikel yang mirip

Antrean Panjang di Layanan Imigrasi Bandara Soekarno-Hatta

JAKARTA - Calon penumpang harus mengantre panjang untuk pengecekan keimigrasian secara manual di pintu keberangkatan Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, pada Jumat (21/6).

Pekerjaan sekarang yang Gak Ditemui 10-20 Tahun lalu

INN NEWS - Dunia kerja terus mengalami perkembangan pesat dengan munculnya teknologi baru dan perubahan tren yang konstan. Meskipun teknologi telah menggantikan beberapa jenis pekerjaan, namun sebaliknya, inovasi teknologi juga telah menciptakan banyak kesempatan kerja yang sebelumnya tidak ada, bahkan dalam 10 atau 20 tahun terakhir.

Wah, 46 Persen Penerima Bansos Salah Sasaran

INN NEWS - Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Suharso Monoarfa mengungkapkan, ada 46 persen penerima bantuan sosial (bansos) tidak tepat sasaran.