HomeRisetGawat! Tak Hanya Jepang, Krisis Populasi Jadi Tren Global, Indonesia?

Gawat! Tak Hanya Jepang, Krisis Populasi Jadi Tren Global, Indonesia?

Published on

spot_img

 783 total views

INN NEWS – Seperti yang telah dilaporkan, bahwa Jepang mengalami penurunan angka kelahiran sebanyak 805,000 pada 2021. Angka ini diprediksi akan terus menurun hingga 2028.

Hal ini tentu menimbulkan beberapa dampak nyata seperti, penurunan jumlah penduduk angkatan produktif, ditutupnya beberapa sekolah, tingginya angka lansia, yang berdampak langsung pada kondisi ekonomi dan sosial secara nasional.

“Jumlah pernikahan juga berkurang dibandingkan tahun-tahun sebelum pandemi. (Hal ini) berpengaruh pada angka kelahiran yang terus menurun dalam jangka panjang ” kata Takumi Fujinami, kepala analis senior di Japan Research Institute Ltd, kepada The Asahi Shimbun.

Baca juga: Ratusan Sekolah di Jepang Tutup Akibat Resesi Seks

Jepang Bukan Satu-Satunya

Di saat banyak candaan tentang “pandemi dan lockdown akan membuat ledakan kelahiran bayi”, tetapi nyatanya bagi Taiwan, China, Australia, dan negara lainnya, candaan ini tidak berlaku.

Menurut sumber dari Weforum, Taiwan dan China mencatat tingkat kelahiran terendah di dunia pada 2021. Pada 2020, Australia juga melaporkan adanya penurunan populasi untuk pertama kali sejak Perang Dunia-I.

Sementara Yonhap melaporkan, Korea Selatan juga mencatat rekor terendah jumlah kelahiran bayi pada November 2022 lalu.

Beberapa sumber lain juga menyebut pasangan muda yang enggan menikah dan memilih menunda memiliki anak ada di balik penurunan angka kelahiran akhir-akhir ini. Adapun biaya hidup yang tinggi, kurangnya dukungan pengasuhan anak, kesehatan mental, serta pandangan terhadap pernikahan dan keluarga yang berubah belakangan ini menjadi alasan mereka memilih tidak memiliki anak.

Apakah Berdampak Sampai Indonesia?

Eddy Erwan Nopianoor dalam laporannya menyebut Statistisi Madya BPS Banjar yang dimuat Republika, kendati Indonesia belum mengalami krisis populasi namun tingkat kesuburan masyarakat sudah mengalami penurunan dalam beberapa dekade terakhir.

Sensus penduduk di tahun 1971 mencatat total fertility rate (TFR) sebesar 5.61%, namun pada 2020 menurun menjadi 2.18%. Salah satu dampak penurunan ini adalah ketidakseimbangan angka populasi di usia tua dan di usia produktif. Apabila angkatan kerja lebih sedikit jumlahnya, maka tidak akan ada cukup pekerja untuk menunjang kebutuhan populasi di usia tua.

Sementara itu, Kepala BKKBN, Hasto Wardoyo menyatakan bahwa Indonesia masih cukup waktu untuk mempersiapkan strategi menghadapi “tren global” ini. Fokus saat ini adalah untuk meningkatkan kualitas keluarga, salah satunya dengan program KB. Dimana program KB bukan bermaksud agar keluarga tidak punya anak, namun mempersiapkan jarak kelahiran anak demi mewujudkan pengasuhan yang sehat dan optimal dalam keluarga.

Terlepas dari banyaknya negara yang mengalami krisis populasi, Indonesia saat ini justru sedang menuju bonus demografi hingga tahun 2030. Banyaknya penduduk berusia produktif di Indonesia tentu dapat dimaksimalkan dengan mendorong produktivitas kerja.

Dengan pembekalan terhadap dunia kerja dan bisnis, serta pengetahuan yang tepat tentang pembangunan keluarga, maka bonus demografi ini dapat memberikan dampak ekonomi-sosial bagi Indonesia hingga ke generasi yang selanjutnya.

Artikel Terbaru

Antrean Panjang di Layanan Imigrasi Bandara Soekarno-Hatta

JAKARTA - Calon penumpang harus mengantre panjang untuk pengecekan keimigrasian secara manual di pintu keberangkatan Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, pada Jumat (21/6).

Pekerjaan sekarang yang Gak Ditemui 10-20 Tahun lalu

INN NEWS - Dunia kerja terus mengalami perkembangan pesat dengan munculnya teknologi baru dan perubahan tren yang konstan. Meskipun teknologi telah menggantikan beberapa jenis pekerjaan, namun sebaliknya, inovasi teknologi juga telah menciptakan banyak kesempatan kerja yang sebelumnya tidak ada, bahkan dalam 10 atau 20 tahun terakhir.

Wah, 46 Persen Penerima Bansos Salah Sasaran

INN NEWS - Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Suharso Monoarfa mengungkapkan, ada 46 persen penerima bantuan sosial (bansos) tidak tepat sasaran.

PT Sritex Terancam Bangkrut, Sempat All In dan Taruh Harapan ke Gibran

SOLO - Salah satu perusahaan tekstil terbesar di Indonesia yakni PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex) terancam bangkrut di tengah gempuran utang yang menumpuk.

artikel yang mirip

Antrean Panjang di Layanan Imigrasi Bandara Soekarno-Hatta

JAKARTA - Calon penumpang harus mengantre panjang untuk pengecekan keimigrasian secara manual di pintu keberangkatan Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, pada Jumat (21/6).

Pekerjaan sekarang yang Gak Ditemui 10-20 Tahun lalu

INN NEWS - Dunia kerja terus mengalami perkembangan pesat dengan munculnya teknologi baru dan perubahan tren yang konstan. Meskipun teknologi telah menggantikan beberapa jenis pekerjaan, namun sebaliknya, inovasi teknologi juga telah menciptakan banyak kesempatan kerja yang sebelumnya tidak ada, bahkan dalam 10 atau 20 tahun terakhir.

Wah, 46 Persen Penerima Bansos Salah Sasaran

INN NEWS - Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Suharso Monoarfa mengungkapkan, ada 46 persen penerima bantuan sosial (bansos) tidak tepat sasaran.