HomeGlobalArab Saudi Hapus Konten Anti-Israel di Buku Sekolah, Akan Ada Normalisasi Hubungan?

Arab Saudi Hapus Konten Anti-Israel di Buku Sekolah, Akan Ada Normalisasi Hubungan?

Published on

spot_img

 402 total views

INN NEWS – Menurut sebuah laporan baru-baru ini oleh Institute for Monitoring Peace and Cultural Tolerance in School Education (IMPACT-se), referensi tentang orang Kristen dan Yahudi baru-baru ini diubah dalam buku teks sekolah di Arab Saudi.

Laporan tersebut menyoroti penghapusan konten klaim bahwa Yahudi dan Kristen adalah musuh Islam, dan buku sekolah sekarang memoderasi pemilihan bahasa mereka terkait Israel.

Referensi untuk “musuh Israel” atau “musuh Zionis” telah diganti dengan frasa seperti “pendudukan Israel” atau “tentara pendudukan Israel.”

Selain itu contoh-contoh penting yang dihilangkan termasuk implikasi “bahwa Yahudi dan Kristen adalah musuh Islam,” atau bahwa “Yahudi dan Kristen dikritik karena telah ‘menghancurkan dan mendistorsi’ Taurat dan Injil.”

IMPACT-se, sebuah organisasi Israel yang fokus memantau representasi Israel dan Yahudi dalam materi pendidikan. Organisasi IMPACT-se telah memantau buku-buku pelajaran Saudi sejak awal tahun 2000-an, memeriksa perubahan yang dilakukan pada lebih dari 80 buku teks dari kurikulum Saudi 2022-2023 dan lebih dari 180 buku teks dari kurikulum sebelumnya.

Menurut CEO IMPACT-se, Marcus Sheff, sikap terhadap Israel menjadi “lebih seimbang dan toleran,”. Meskipun dalam laporan terbaru tidak ditemukan adanya tambahan materi tentang toleransi yang disuntikkan ke kurikulum, setidaknya, sejumlah besar materi yang ofensif (tentang Yahudi dan Israel) telah dihapus.

“Sejauh ini perubahan yang dilakukan membawa pada kurikulum yang lebih moderat dan toleran. Perlu dilakukan perbaikan lebih lanjut. Tapi yang mengesankan adalah kesediaan (Arab Saudi) untuk terlibat, berpartisipasi dalam dialog mengenai isi kurikulum dan akhirnya bergerak menuju reformasi buku pelajaran,” ungkap IMPACT-se dalam pernyataannya.

Normalisasi Hubungan dengan Israel?

Perkembangan ini merupakan langkah signifikan lainnya dalam proses normalisasi yang sedang berlangsung antara Arab Saudi dan Israel.

Selama bertahun-tahun, pemerintah Saudi telah berusaha membangun legitimasi, baik secara domestik maupun internasional, dengan menekankan posisinya sebagai tempat kelahiran Islam dan penjaga dua situs tersucinya.

Langkah “normalisasi” ini bukanlah yang pertama dilakukan oleh Arab Saudi. Tahun lalu (15/6/2022), Kerajaan Arab Saudi mengizinkan pesawat dari dan ke Israel melintas di wilayah udaranya.

Dalam beberapa tahun terakhir, Arab Saudi hanya mengizinkan maskapai Israel terbang dari Tel Aviv ke Arab Saudi dan Bahrain melalui wilayah udaranya.

Kendati demikian, beberapa ahli masih menganggap normalisasi hubungan dengan Israel sebagai sebuah perjalanan yang panjang. Aziz Alghashian, seorang peneliti yang berfokus pada kebijakan luar negeri Saudi dan hubungan Kerajaan dengan Israel, menyoroti bahwa Arab Saudi saat ini sedang mengalami transformasi dalam hubungannya dengan Islam.

Alghashian sesuai dengan pernyataan yang dikutip CNN, berpendapat bahwa penyesuaian yang dilakukan pada buku teks sekolah Saudi, meski signifikan, tidak boleh dilihat sebagai perubahan substansial menuju penerimaan penuh terhadap Israel.

Sementara itu, menurut Kristin Diwan, seorang peneliti di Gulf States Institute di Washington, mengakui bahwa perubahan bahasa dalam buku teks mencerminkan tingkat toleransi beragama yang lebih tinggi terhadap Yudaisme, tetapi masih belum pasti apakah ini berarti penerimaan politik terhadap Israel.

Namun, progress sekecil apapun tetaplah hal yang perlu dipandang sebagai kemajuan dalam sebuah hubungan normalisasi kedua negara.

Sebagai salah satu negara terbesar dan pengaruh di Timur Tengah, langkah Saudi ini perlu dilihat dari kacamata politik dan hubungan internasional, bukan hanya sebuah kebijakan nasional yang tidak memiliki arti apapun.

Artikel Terbaru

Kalau Tak Ada Reformasi, PDIP: Tidak Ada Tukang Kayu Jadi Presiden, Sekarang Songong

Jakarta - PDI Perjuangan (PDIP) menggelar Diskusi Kudatuli dalam rangka mengenang peristiwa pengambilalihan secara paksa Kantor DPP PDIP yang dikuasai Megawati Soekarnoputri oleh massa pendukung Ketum PDI hasil kongres Medan, Soerjadi, pada 27 Juli 1996.

Teguh Prakosa Resmi Jadi Wali Kota Solo

SEMARANG - Pj Gubernur Jateng Nana Sudjana resmi melantik Teguh Prakosa Wali Kota Solo menggantikan Gibran Rakabuming Raka di Gedung Gradhika Bakti Praja, Kota Semarang, Jateng, Jumat (19/7) malam.

Menteri PMK Bilang Rp7.500 Sudah Sangat Besar untuk Makan Bergizi Gratis  

INN NEWS - Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Muhadjir Effendy turut buka suara soal anggaran program makan bergizi gratis Prabowo-Gibran yang mau dipangkas menjadi Rp 7.500 per porsi.

Makan Bergizi Gratis Prabowo-Gibran Ala Ahok, Gimana Itu?

JAKARTA - Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), mantan Gubernur DKI Jakarta yang dikenal dengan nama Ahok, memberikan komentarnya tentang program makan siang gratis yang menjadi program utama presiden terpilih Prabowo-Gibran. 

artikel yang mirip

Kalau Tak Ada Reformasi, PDIP: Tidak Ada Tukang Kayu Jadi Presiden, Sekarang Songong

Jakarta - PDI Perjuangan (PDIP) menggelar Diskusi Kudatuli dalam rangka mengenang peristiwa pengambilalihan secara paksa Kantor DPP PDIP yang dikuasai Megawati Soekarnoputri oleh massa pendukung Ketum PDI hasil kongres Medan, Soerjadi, pada 27 Juli 1996.

Teguh Prakosa Resmi Jadi Wali Kota Solo

SEMARANG - Pj Gubernur Jateng Nana Sudjana resmi melantik Teguh Prakosa Wali Kota Solo menggantikan Gibran Rakabuming Raka di Gedung Gradhika Bakti Praja, Kota Semarang, Jateng, Jumat (19/7) malam.

Menteri PMK Bilang Rp7.500 Sudah Sangat Besar untuk Makan Bergizi Gratis  

INN NEWS - Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Muhadjir Effendy turut buka suara soal anggaran program makan bergizi gratis Prabowo-Gibran yang mau dipangkas menjadi Rp 7.500 per porsi.