HomeTrendingGanjar-Mahfud: Demokrasi Bukan Drakor, Jujur Tanpa Nepotisme untuk Masa Depan Indonesia 

Ganjar-Mahfud: Demokrasi Bukan Drakor, Jujur Tanpa Nepotisme untuk Masa Depan Indonesia 

Published on

spot_img

 205 total views

INN NEWS – Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI telah menetapkan nomor urut pasangan calon (Paslon) capres-cawapres untuk Pilpres 2024 pada Selasa, 14 November 2023 malam di gedung KPU RI, Menteng, Jakarta Pusat.

Nomor urut 1 ditempati pasangan Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar, nomor urut 2 ditempati pasangan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka, dan nomor urut tiga ditempati pasangan Ganjar Pranowo dan Mahfud MD.

Para capres-cawapres kemudian diberikan kesempatan untuk menyampaikan pidato.

Capres nomor urut 3 Ganjar Pranowo dalam pidatonya mengatakan, arah reformasi harus dituntaskan dengan jujur, adil, dan tanpa korupsi, kolusi, serta nepotisme (KKN).

Ganjar kemudian menyinggung soal ‘drakor’ yang sangat menarik. Pidato Ganjar sempat terhenti saat terdengar suara riuh dari pendukung yang hadir.

“Tapi beberapa hari ini kita sedang disuguhkan menonton drakor yang sangat menarik, publik …,” ucap Ganjar yang terhenti karena terdengar suara riuh.

Ganjar kemudian meminta pendukungnya untuk tenang. Dia kemudian melanjutkan pidatonya.

“Drama-drama itu lah yang sebenarnya tidak perlu terjadi,” ucapnya

Gubernur Jawa Tengah ke-15 itu mengatakan, pengundian nomor urut ini menjadi awal perayaan demokrasi melalui Pemilu. Ganjar kemudian bicara soal kegelisahan masyarakat.

“Demokrasi harus kita pastikan bahwa demokrasi bisa baik meskipun sekarang belum baik-baik saja,” ucapnya.

“Bapak ibu, diam itu bukanlah pilihan, dan bicara, ungkapkan, dan laporkan praktik-praktik tidak baik yang akan menciderai demokrasi,” tambahnya.

Ganjar pun menyebut bahwa masalah demokrasi bukan hanya menyangkut dirinya dan kontestasi Pilpres. Ganjar berujar bahwa demokrasi merupakan masa depan Indonesia.

“Ini bukan persoalan Ganjar, bukan persoalan Mahfud, bukan sekedar hanya persoalan kekuasaan, ini adalah persoalan masa depan Indonesia yang musti kita jaga bersama,” katanya.

 

Artikel Terbaru

Antrean Panjang di Layanan Imigrasi Bandara Soekarno-Hatta

JAKARTA - Calon penumpang harus mengantre panjang untuk pengecekan keimigrasian secara manual di pintu keberangkatan Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, pada Jumat (21/6).

Pekerjaan sekarang yang Gak Ditemui 10-20 Tahun lalu

INN NEWS - Dunia kerja terus mengalami perkembangan pesat dengan munculnya teknologi baru dan perubahan tren yang konstan. Meskipun teknologi telah menggantikan beberapa jenis pekerjaan, namun sebaliknya, inovasi teknologi juga telah menciptakan banyak kesempatan kerja yang sebelumnya tidak ada, bahkan dalam 10 atau 20 tahun terakhir.

Wah, 46 Persen Penerima Bansos Salah Sasaran

INN NEWS - Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Suharso Monoarfa mengungkapkan, ada 46 persen penerima bantuan sosial (bansos) tidak tepat sasaran.

PT Sritex Terancam Bangkrut, Sempat All In dan Taruh Harapan ke Gibran

SOLO - Salah satu perusahaan tekstil terbesar di Indonesia yakni PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex) terancam bangkrut di tengah gempuran utang yang menumpuk.

artikel yang mirip

Antrean Panjang di Layanan Imigrasi Bandara Soekarno-Hatta

JAKARTA - Calon penumpang harus mengantre panjang untuk pengecekan keimigrasian secara manual di pintu keberangkatan Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, pada Jumat (21/6).

Pekerjaan sekarang yang Gak Ditemui 10-20 Tahun lalu

INN NEWS - Dunia kerja terus mengalami perkembangan pesat dengan munculnya teknologi baru dan perubahan tren yang konstan. Meskipun teknologi telah menggantikan beberapa jenis pekerjaan, namun sebaliknya, inovasi teknologi juga telah menciptakan banyak kesempatan kerja yang sebelumnya tidak ada, bahkan dalam 10 atau 20 tahun terakhir.

Wah, 46 Persen Penerima Bansos Salah Sasaran

INN NEWS - Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Suharso Monoarfa mengungkapkan, ada 46 persen penerima bantuan sosial (bansos) tidak tepat sasaran.