HomeTrendingKeluh Kesah Baliho: Jokowi Nebeng, Tidak Netral

Keluh Kesah Baliho: Jokowi Nebeng, Tidak Netral

Published on

spot_img

 264 total views

SOLO – Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam pidato kenegaraannya di Sidang Tahunan MPR beberapa waktu lalu menyatakan tidak akan ikut campur dalam pemilihan calon presiden (capres) dan wakil presiden (wapres) alias netral di Pilpres 2024 mendatang.

Penegasan itu kembali diwujudkannya dengan mengundang tiga Capres yakni Anies Baswedan, Prabowo Subianto, dan Ganjar Pranowo makan siang di istana negara belum lama ini.

Namun publik terus meragukan dan mempertanyakan kenetralan Jokowi lantaran putra sulungnya Gibran Rakabuming Raka maju sebagai cawapres di Pilpres 2024.

Banyak yang menilai bawah sulit untuk memercayai janji tersebut. Gesturenya bahkan sejumlah pidatonya dinilai sebagai bentuk kode dukungan pada pasangan Prabowo Subianto-Gibran.

Apalagi di beberapa wilayah, baliho Prabowo Subianto bersama Jokowi dengan ukuran besar masih dipajang di jalanan Kota. Salah satunya di Kota Solo, Jawa Tengah.

Dari pantauan INN Indonesia di sejumlah ruas jalan di Kota Solo pada Kamis (30/11) siang, baliho Prabowo bersama Jokowi, juga baliho Ketum PSI Kaesang Pangarep yang merupakan putra bungsunya bersama salah satu caleg juga dipajang bersamaan dengan gambar politisi PDI Perjuangan itu. Ukurannya juga besar.

Kenetralan Jokowi juga dipertanyakan warga sekitar yang merasa heran dengan baliho tersebut.

“Lah ini Pak Jokowi nebeng terus di baliho Pak Prabowo. Meh ngopo (kenapa)? Dia kan presiden bilang netral, masih juga kader banteng (PDIP), kok begitu yah,” kata Budi (56), salah satu warga Danukusuman, Serengan, Solo saat diwawancarai redaksi di dekat baliho tersebut.

“Kalau netral yo mesti dilarang. Pak Jokowi koyo (seperti) nebeng aja ke Prabowo, ra (netral Ki. Opo (apa) Prabowo yang malah nebeng yah. Kesel (kesal),” ucap Suryono (48).

Harusnya Baliho Kontestan Politik Bersama Jokowi Diturunkan 

Diketahui sebelumnya Pakar komunikasi politik dari Universitas Pelita Harapan (UPH) Tangerang, Emrus Sihombing mengatakan, untuk membuktikan Jokowi netral harusnya foto tokoh politik, kontestan politik yang bersamanya, sekalipun foto lama harusnya diturunkan atau di-take down.

Penegasan Emrus tersebut disampaikan dalam diskusi daring bertajuk ‘Makna Politik di Balik Foto Prabowo, Kaesang, Gibran dan Jokowi’ di akun YouTube Gogo Bangun yang dikutip redaksi, Senin (20/11).

Menurut Emrus, jauh lebih baik jika Presiden Jokowi secara tegas meminta kepada seluruh kontestan politik untuk tidak menggunakan fotonya dalam gelaran Pemilu 2024. Caranya dengan menurunkan semua baliho berbau pemilu yang menyertakan gambar Jokowi.

Sementara itu, pengamat politik Ikrar Nusa Bhakti menganalisa, maraknya baliho Prabowo Subianto maupun PSI yang menyertakan foto presiden Jokowi.

Misalnya baliho PSI yang menuliskan ‘Jokow15me’ dengan foto Ketua Umum PSI Kaesang Pangarep bersanding dengan Jokowi yang adalah ayahnya sendiri.

Ikrar berpandangan, kalau dibaca adalah menjadi ‘Jokowi Is Me’. Pasalnya, Kaesang sudah menjadi PSI, berarti Jokowi adalah bagian dari PSI.

“Tergantung bapaknya, tanpa bapaknya bukan siapa-siapa. Kita yang masih waras tidak menginginkan ada perampasan demokrasi. Kita tidak ingin demokrasi diputar 180 derajat melebihi 1998,” kata Ikrar.

Itu sebabnya, Ikrar mengatakan, tidak perlu foto Jokowi ada di setiap baliho para kontestan Pilpres 2024.

Iman Politik Jokowi Cuman Satu: Dukung Prabowo-Gibran

Direktur Parameter Politik Indonesia (PPI) Adi Prayitno saat berbicara di diskusi Adu Perspektif detikcom bersama Total Politik, Rabu (15/11) malam menyebut bahwa iman politik Jokowi kini hanya ke Prabowo dan anaknya Gibran.

“Kalau saat ini Jokowi dua-duanya ada di Gibran, dua-duanya ada di Prabowo Subianto, nggak bisa dibantah,” kata Adi.

Adi lantas menyebut PDIP sudah membaca arah dukungan Jokowi di 2024.

“Dan PDIP sudah membaca betul bagaimana pertarungan di 2024 tak lagi ingin berharap ada berkah dan faedah elektoral karena sudah ke sana semua dukungan politiknya,” ujarnya.

“Dulu sebelum ada Gibran maju diputuskan secara definitif bisa bertanding, maka di situlah orang masih menilai separuh kepentingan politik ada di PDIP, separuhnya ada di Prabowo Subianto,” sambungnya.

Ketika Jokowi merestui Gibran mendampingi Prabowo, Adi yakin bahwa iman politik Jokowi hanya mengarah ke Prabowo-Gibran.

“Tapi ketika Gibran maju, didoakan dan direstui, fix menurut saya semua kepentingan semua dukungan Jokowi pastinya ke Gibran, bukan ke yang lainnya. Jadi iman politik Jokowi cuma satu, Gibran dan Prabowo Subianto,” pungkasnya.

 

Artikel Terbaru

Besok Jurnalis di Solo Raya Gelar Aksi Massa Tolak RUU Penyiaran

Draf Rancangan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang penyiaran yang sedang bergulir di Badan Legislasi DPR dianggap memuat sejumlah pasal kontroversial, sehingga menuai kritik dari berbagai pihak terutama yang berkaitan dengan kegiatan jurnalistik.

Presiden Iran dan Menlu Meninggal dalam Kecelakaan Heli

INN Internasional - Presiden Iran Ebrahim Raisi dan Menlu Hossein Amirabdollahian meninggal akibat kecelakaan helikopter.

Tak Hanya Mahasiswa, Calon Mahasiswa Keluhkan Kenaikan UKT yang Mencekik

JAKARTA – Mahasiswa dan calon mahasiswa di berbagai perguruan tinggi di Indonesia menyuarakan keluhan mereka terhadap kenaikan Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang dianggap membebani.

Sepekan Ini Ramai Anak Bunuh Orang Tua, Ada yang Nikam Pakai Garpu Tanah

Sepekan ini berturut-turut kejadian anak bunuh orang tua yang terjadi di beberapa wilayah di Indonesia.

artikel yang mirip

Besok Jurnalis di Solo Raya Gelar Aksi Massa Tolak RUU Penyiaran

Draf Rancangan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang penyiaran yang sedang bergulir di Badan Legislasi DPR dianggap memuat sejumlah pasal kontroversial, sehingga menuai kritik dari berbagai pihak terutama yang berkaitan dengan kegiatan jurnalistik.

Presiden Iran dan Menlu Meninggal dalam Kecelakaan Heli

INN Internasional - Presiden Iran Ebrahim Raisi dan Menlu Hossein Amirabdollahian meninggal akibat kecelakaan helikopter.

Tak Hanya Mahasiswa, Calon Mahasiswa Keluhkan Kenaikan UKT yang Mencekik

JAKARTA – Mahasiswa dan calon mahasiswa di berbagai perguruan tinggi di Indonesia menyuarakan keluhan mereka terhadap kenaikan Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang dianggap membebani.