HomeHeadlineViral Kata 'Ndasmu', Guru Besar Etnolinguistik UNS: untuk Luapkan Emosi, Menghina 

Viral Kata ‘Ndasmu’, Guru Besar Etnolinguistik UNS: untuk Luapkan Emosi, Menghina 

Published on

spot_img

 363 total views

SOLO – Viral kata ndasmu, ‘ndas’ atau lebih tepatnya ‘endhas’ dari bahasa Jawa yang belakangan ini membuat heboh warganet lantaran dilontarkan oleh salah satu calon presiden dalam pidatonya.

Lalu apa sebenarnya makna kata ‘endhas’ dan bagaimana konteks penggunaannya?

Dalam bahasa Jawa ndas atau tepatnya endhas/ndhas berarti kepala. Kata ‘endhas’ ini dalam bahasa Jawa merupakan bahasa ngoko.

Dalam bahasa Jawa, terdapat tiga tingkatan tutur, yaitu ngoko, krama, dan krama inggil. ‘Endhas’ termasuk dalam tingkatan ngoko yang merupakan tingkatan tutur yang paling kasar.

Kata ini biasanya digunakan oleh orang-orang yang sudah akrab satu sama lain atau orang-orang yang memiliki derajat sosial yang sama.

Endhas merupakan salah satu umpatan kasar dalam bahasa Jawa. Kata ‘Endhas’ atau biasanya dituturkan ‘ndasmu’ digunakan untuk mengungkapkan kekecewaan, ketidaksetujuan, atau candaan.

Ketika digunakan sebagai umpatan, ‘ndasmu’ biasanya ditujukan kepada orang yang tidak disukai atau yang tidak sepaham. Kata ini digunakan untuk merendahkan atau menghina orang tersebut.

Secara semiotik, ‘endhas’ mewakili simbol kehormatan seseorang. Oleh karena itu, ketika seseorang menggunakan kata ‘endhas’ untuk menghina orang lain, maka ia secara tidak langsung merendahkan kehormatan orang tersebut.

Guru Besar Etnolinguistik Universitas Sebelas Maret (UNS), Prof. Dr. Wakit Abdullah Rais, M.Hum mengungkapkan, karena ‘endhas’ itu masuk ragam bahasa Jawa kasar maka tidak heran pemakaiannya sering digunakan untuk berkelakar dengan teman akrab.

“Atau digunakan untuk bahasa sehari-hari bagi yang belum paham unggah-ungguh bahasa atau tingkat tutur bahasa Jawa yg lebih sopan (yaitu krama, krama inggil),” terang Prof Wakit kepada INN Indonesia, Senin (18/12) siang.

Selain itu Prof Wakit menerangkan, kata ‘endhas’ bisa jadi dipakai untuk meluapkan emosi seseorang kepada orang lain.

Sebab secara semiotik kata ‘endhas’ menunjukan bagian atas tubuh manusia ‘kepala’ sebagai simbol kehormatan seseorang.

Lanjut Prof Wakit, penggunaan kata ‘endhas’ juga barangkali untuk menghina atau merendahkan orang lain yang tidak disenangi karena tidak sepaham dll.

Diberitakan sebelumnya, Viral sebuah video yang memperlihatkan calon presiden (capres) nomor urut 2 Prabowo Subianto mengatakan “ndasmu etik” di Rakornas Gerindra. Video Prabowo mengucapkan ndasmu itu pun menjadi sorotan publik.

Video berdurasi 1 menit 5 detik itu pertama kali diunggah oleh akun TikTok @mas.anam.al_katiri. Dalam video terdengar Prabowo menirukan perkataan capres nomor urut 1 Anies Baswedan saat menanyakan soal etik di debat perdana capres 2024, pada Selasa, 12 Desember lalu.

“Bagaimana perasaan Mas Prabowo soal etik? Etik? Etik?” kata Prabowo menirukan Anies sambil menggoyangkan kepalanya. Prabowo lalu lanjut berucap, “Ndasmu etik.”

Untuk konteks Prabowo, Prof Wakit tak berkomentar lantaran menjaga etika keprofesian.

Artikel Terbaru

Kalau Tak Ada Reformasi, PDIP: Tidak Ada Tukang Kayu Jadi Presiden, Sekarang Songong

Jakarta - PDI Perjuangan (PDIP) menggelar Diskusi Kudatuli dalam rangka mengenang peristiwa pengambilalihan secara paksa Kantor DPP PDIP yang dikuasai Megawati Soekarnoputri oleh massa pendukung Ketum PDI hasil kongres Medan, Soerjadi, pada 27 Juli 1996.

Teguh Prakosa Resmi Jadi Wali Kota Solo

SEMARANG - Pj Gubernur Jateng Nana Sudjana resmi melantik Teguh Prakosa Wali Kota Solo menggantikan Gibran Rakabuming Raka di Gedung Gradhika Bakti Praja, Kota Semarang, Jateng, Jumat (19/7) malam.

Menteri PMK Bilang Rp7.500 Sudah Sangat Besar untuk Makan Bergizi Gratis  

INN NEWS - Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Muhadjir Effendy turut buka suara soal anggaran program makan bergizi gratis Prabowo-Gibran yang mau dipangkas menjadi Rp 7.500 per porsi.

Makan Bergizi Gratis Prabowo-Gibran Ala Ahok, Gimana Itu?

JAKARTA - Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), mantan Gubernur DKI Jakarta yang dikenal dengan nama Ahok, memberikan komentarnya tentang program makan siang gratis yang menjadi program utama presiden terpilih Prabowo-Gibran. 

artikel yang mirip

Kalau Tak Ada Reformasi, PDIP: Tidak Ada Tukang Kayu Jadi Presiden, Sekarang Songong

Jakarta - PDI Perjuangan (PDIP) menggelar Diskusi Kudatuli dalam rangka mengenang peristiwa pengambilalihan secara paksa Kantor DPP PDIP yang dikuasai Megawati Soekarnoputri oleh massa pendukung Ketum PDI hasil kongres Medan, Soerjadi, pada 27 Juli 1996.

Teguh Prakosa Resmi Jadi Wali Kota Solo

SEMARANG - Pj Gubernur Jateng Nana Sudjana resmi melantik Teguh Prakosa Wali Kota Solo menggantikan Gibran Rakabuming Raka di Gedung Gradhika Bakti Praja, Kota Semarang, Jateng, Jumat (19/7) malam.

Menteri PMK Bilang Rp7.500 Sudah Sangat Besar untuk Makan Bergizi Gratis  

INN NEWS - Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Muhadjir Effendy turut buka suara soal anggaran program makan bergizi gratis Prabowo-Gibran yang mau dipangkas menjadi Rp 7.500 per porsi.