HomeTrendingDianiaya Pendukung Capres Nomor 2 di Yogya, Muhandi Meninggal Usai Koma 4...

Dianiaya Pendukung Capres Nomor 2 di Yogya, Muhandi Meninggal Usai Koma 4 Hari 

Published on

spot_img

 1,286 total views

YOGYAKARTA – Muhandi Mawanto akhirnya tutup usia setelah koma selama empat hari di RSPAU dr. S. Hardjolukito Bantul usai dianiaya oleh oknum pendukung Paslon Capres Cawapres nomor urut 2 baru-baru ini di Sleman, Yogyakarta.

Penganiayaan berat terhadap warga ini dilakukan oleh peserta arak-arakan pendukung Prabowo – Gibran pada hari minggu, 24 Desember 2023, sekitar pukul 15.00 di wilayah Maguwo, Sleman, Yogyakarta.

Romy Jiwaperwira, juru bicara muda Relawan Perjuangan Demokrasi (Repdem) dalam keterangan resmi yang diterima, Sabtu (30/12) dari gesuri.id mengecam keras tindakan kriminal tersebut.

“Kami mengecam keras tindak kriminal penganiayaan warga hingga tewas ini. Juga pembiaran pelaku penganiayaan oleh polisi. Ini sudah benar-benar keterlaluan. Kita tidak bisa membiarkan orang sekeji Hitler atau Pol Pot menguasai negeri ini”, tegas Romy.

“Dari rekaman video yang kami terima, ada dua titik keributan yang dibuat oleh gerombolan pendukung paslon nomor 2 ini. Pertama, di dekat perempatan Jalan Godean dengan Ring Road Barat Yogya, ini malah mencoba berbuat onar kepada TNI yang ada disitu. Kedua, di Maguwo menyerang warga ini!”, terangnya lagi.

“Menurut informasi dari warga disana, mereka datang dan dengan beringas mencopoti APK paslon lain. Kemudian korban tewas ini bersama rekannya keluar ke jalan raya dan langsung dianiaya. Anehnya, polisi tidak langsung menangkap pelaku, tapi cenderung kasar kepada warga yang menjadi korban tersebut. Sampai akhirnya warga sekitar ramai-ramai melakukan perlawanan,” tambahnya.

Repdem menuntut pihak kepolisian segera menangkap pelaku penganiayaan dan oknum polisi yang membiarkan penganiayaan itu.

“Hukum harus ditegakkan! Bukan diakali. Dan cara-cara represif sampai terjadinya penganiayaan hingga menimbulkan korban jiwa untuk memenangkan paslon nomor 2 ini justru menunjukkan sifat fasis dan menghalalkan segala cara untuk curang! Justru itu kebalikan demokrasi! Repdem mengajak seluruh warga melawan neo orde baru ini. Tidak bisa kita membiarkan orang keji perpaduan Soeharto, Hitler dan Polpot ini berkuasa di negeri yang kita cintai ini!” tutup Romy.

 

 

Artikel Terbaru

KPK Tetapkan Eks Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas sebagai Tersangka Korupsi Kuota Haji

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) resmi menetapkan mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi penyelenggaraan ibadah haji tahun 2023-2024. Penetapan ini dikonfirmasi oleh pejabat KPK pada Jumat, 9 Januari 2026.

Pelatihan Mencegah Bullying Sejak Dini di SD Kanisius Yogyakarta

    JUDUL PELATIHAN Pelatihan Mencegah Bullying Sejak Dini di SD Kanisius Yogyakarta   RINGKASAN Pelatihan pencegahan bullying sejak dini...

VENEZUELA: SUATU PERINGATAN : Ketika Negara Dipersonalisasi, Kekuasaan Dipusatkan, dan Institusi Dilumpuhkan

Dalam epilog buku saya Indonesian Dream: Revitalisasi & Realisasi Pancasila sebagai Cita-Cita Bangsa (Kompas, 2018), saya membuka dengan kisah Venezuela. Judulnya singkat: “Indonesia 2030.” Venezuela saya jadikan cermin—sekaligus peringatan.

Pelajaran Mahal dari Venezuela: Otoritarianisme ala Maduro

INNNEWS-Apa yang terjadi di Venezuela pada awal 2026 bukanlah peristiwa yang jatuh dari langit....

artikel yang mirip

KPK Tetapkan Eks Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas sebagai Tersangka Korupsi Kuota Haji

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) resmi menetapkan mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi penyelenggaraan ibadah haji tahun 2023-2024. Penetapan ini dikonfirmasi oleh pejabat KPK pada Jumat, 9 Januari 2026.

Pelatihan Mencegah Bullying Sejak Dini di SD Kanisius Yogyakarta

    JUDUL PELATIHAN Pelatihan Mencegah Bullying Sejak Dini di SD Kanisius Yogyakarta   RINGKASAN Pelatihan pencegahan bullying sejak dini...

VENEZUELA: SUATU PERINGATAN : Ketika Negara Dipersonalisasi, Kekuasaan Dipusatkan, dan Institusi Dilumpuhkan

Dalam epilog buku saya Indonesian Dream: Revitalisasi & Realisasi Pancasila sebagai Cita-Cita Bangsa (Kompas, 2018), saya membuka dengan kisah Venezuela. Judulnya singkat: “Indonesia 2030.” Venezuela saya jadikan cermin—sekaligus peringatan.