HomeHeadlineBayang-bayang Orde Baru: Bahaya Laten Kembalinya Otoritarinisme Di Indonesia

Bayang-bayang Orde Baru: Bahaya Laten Kembalinya Otoritarinisme Di Indonesia

Published on

spot_img

 418 total views

Indonesia bersiap menyambut Pemilu 2024, diiringi kebangkitan platform ideologis Orde Baru (Orba) di bawah pemerintahan otoriter Soeharto. Munculnya calon presiden yang memiliki hubungan erat dengan Orba memicu kekhawatiran akan kembalinya masa kelam penuh represi dan pembatasan hak asasi manusia.

Salah satu contoh nyata represi Orba adalah Instruksi Presiden No.14/1967 yang melarang perayaan hari raya Tionghoa. Kebijakan ini mencerminkan diskriminasi dan pelanggaran hak asasi yang sistemik terhadap etnis Tionghoa di Indonesia. Kegelapan Orba ini kemudian dihapuskan oleh Gus Dur, presiden keempat Indonesia, melalui Keppres Nomor 6 Tahun 2000 yang mencabut Inpres No.14/1967.

Semangat demokratisasi Gus Dur menjadi simbol perlawanan terhadap represi Orba. Gus Dur, seorang pejuang kemanusiaan dan pluralisme, memajukan toleransi dan kesetaraan bagi semua kelompok masyarakat. Keberaniannya melawan diskriminasi dan otoritarianisme Orba menjadi teladan bagi generasi muda dalam menjaga demokrasi.

Pada Pemilu 2024, semangat Gus Dur harus dikobarkan kembali. Kita harus menolak kembalinya Orba dengan segala bentuk represi dan diskriminasinya. Dukungan terhadap pasangan calon presiden yang terkoneksi dengan Orba berarti membahayakan demokrasi dan mengantarkan Indonesia kembali ke masa kelam.

Mari kita jaga demokrasi dengan memilih pemimpin yang berkomitmen pada toleransi, pluralisme, dan hak asasi manusia. Jangan biarkan bayang-bayang Orba menghantui masa depan Indonesia. Semangat Gus Dur dalam melawan represi dan diskriminasi harus menjadi inspirasi bagi kita semua untuk terus memperjuangkan demokrasi yang adil dan sejahtera.

Mari kita wujudkan Indonesia yang demokratis, toleran, dan sejahtera dengan menolak kembalinya Orba di Pemilu 2024.

Dr. Hanny Setiawan, MBA

Artikel Terbaru

Beras Mahal, Nasi Pecel hingga Rocket Chicken Naik Harga 

SOLO - Melihat laman Badan Pangan Nasional, harga rata-rata nasional beras per Rabu, 21 Februari 2024 Rp 16.230 /Kg, harga Tertinggi Rp 24.920 /Kg untuk wilayah Papua Tengah.

Yayasan Barong Salurkan Bantuan Hunian Layak untuk Warga Miskin di Sorong 

SORONG - Yayasan Barong (Barisan Gotong Royong) Indonesia Baru terus menggencarkan project Membangun Nusantara Baru (MNB) di sejumlah wilayah di Indonesia.

Harga Beras Capai Rp25.000/Kg, Tiap Jam Bisa Berubah, Pedagang di Solo Curiga Akibat Bansos

SOLO - Harga beras masih terpantau mahal di pasaran hingga hari ini, Selasa, 20 Februari 2024.

Harga Beras Tambah Mahal, Akibat Bansos untuk Kampanye?

INN NEWS - Beberapa hari setelah Pemilu 2024, harga beras dan sejumlah bahan pangan lainnya mengalami pelonjakan.

artikel yang mirip

Beras Mahal, Nasi Pecel hingga Rocket Chicken Naik Harga 

SOLO - Melihat laman Badan Pangan Nasional, harga rata-rata nasional beras per Rabu, 21 Februari 2024 Rp 16.230 /Kg, harga Tertinggi Rp 24.920 /Kg untuk wilayah Papua Tengah.

Yayasan Barong Salurkan Bantuan Hunian Layak untuk Warga Miskin di Sorong 

SORONG - Yayasan Barong (Barisan Gotong Royong) Indonesia Baru terus menggencarkan project Membangun Nusantara Baru (MNB) di sejumlah wilayah di Indonesia.

Harga Beras Capai Rp25.000/Kg, Tiap Jam Bisa Berubah, Pedagang di Solo Curiga Akibat Bansos

SOLO - Harga beras masih terpantau mahal di pasaran hingga hari ini, Selasa, 20 Februari 2024.