HomeTrendingKondisi Kantor Kejaksaan Agung Usai Jaksa Agung Muda Diuntit

Kondisi Kantor Kejaksaan Agung Usai Jaksa Agung Muda Diuntit

Published on

spot_img

 915 total views

JAKARTA – Kabar mengenai personel Datasemen Khusus Antiteror (Densus 88) yang diduga menguntit Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus), Febrie Adriansyah telah beredar di masyarakat sejak Jumat, 24 Mei 2024.

Sebelumnya, Densus 88 Antiteror yang diduga ketahuan saat menguntit Jampidsus Kejaksaan Agung, Febrie Ardiansyah, telah terungkap.
Kronologi peristiwa ini bermula ketika Febrie Ardiansyah sedang makan di sebuah restoran Prancis di kawasan Cipete, Jakarta Selatan, pada Minggu (19/5).

Petugas militer yang mengawal Febrie merasa curiga dengan alasan anggota Densus 88 tersebut yang mengatakan ingin merokok, tetapi tetap menggunakan masker.

Selain itu, anggota Densus 88 itu juga membawa alat yang diduga sebagai alat perekam dan mengarahkannya ke ruangan Febrie.
Akhirnya, anggota Densus 88 dengan inisial IM yang diduga menguntit Febrie ditangkap oleh petugas militer.

Motif dari anggota Polri yang menguntit pejabat Kejaksaan Agung RI juga masih belum diketahui.
Melalui media sosial Instagram, Pusat Polisi Militer TNI sempat menyatakan akan meningkatkan pengawasan di kompleks Kejaksaan Agung untuk memastikan keamanan dan ketertiban di lingkungan tersebut.

Kantor Kejaksaan Agung di Jakarta Selatan tampak tidak memiliki penjagaan yang ketat seperti pada hari Ahad sebelumnya. Pengamanan di gerbang belakang di Jalan Bulungan juga tidak lagi dijaga oleh Polisi Militer seperti sebelumnya, hanya terdapat petugas keamanan internal Kejaksaan Agung.

Kondisi pelataran Gedung Jaksa Agung Muda Bidang Pidana Militer atau Jampidmil, tempat sementara berkantor Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus atau Jampidsus, juga terlihat tidak ada penjagaan spesifik.

Perbedaan yang mencolok terlihat dalam situasi keamanan di Kejaksaan Agung hari itu dibandingkan dengan hari sebelumnya. Gerbang masuk menuju gedung Kejaksaan Agung, Jakarta Selatan, yang biasanya terbuka, kali ini tertutup pada Ahad pagi, 26 Mei 2024.

Kondisi yang dilihat dari luar, terdapat dua petugas keamanan mengenakan seragam cokelat dan satu orang dengan kaus loreng yang berjaga.

Artikel Terbaru

KPK Tetapkan Eks Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas sebagai Tersangka Korupsi Kuota Haji

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) resmi menetapkan mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi penyelenggaraan ibadah haji tahun 2023-2024. Penetapan ini dikonfirmasi oleh pejabat KPK pada Jumat, 9 Januari 2026.

Pelatihan Mencegah Bullying Sejak Dini di SD Kanisius Yogyakarta

    JUDUL PELATIHAN Pelatihan Mencegah Bullying Sejak Dini di SD Kanisius Yogyakarta   RINGKASAN Pelatihan pencegahan bullying sejak dini...

VENEZUELA: SUATU PERINGATAN : Ketika Negara Dipersonalisasi, Kekuasaan Dipusatkan, dan Institusi Dilumpuhkan

Dalam epilog buku saya Indonesian Dream: Revitalisasi & Realisasi Pancasila sebagai Cita-Cita Bangsa (Kompas, 2018), saya membuka dengan kisah Venezuela. Judulnya singkat: “Indonesia 2030.” Venezuela saya jadikan cermin—sekaligus peringatan.

Pelajaran Mahal dari Venezuela: Otoritarianisme ala Maduro

INNNEWS-Apa yang terjadi di Venezuela pada awal 2026 bukanlah peristiwa yang jatuh dari langit....

artikel yang mirip

KPK Tetapkan Eks Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas sebagai Tersangka Korupsi Kuota Haji

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) resmi menetapkan mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi penyelenggaraan ibadah haji tahun 2023-2024. Penetapan ini dikonfirmasi oleh pejabat KPK pada Jumat, 9 Januari 2026.

Pelatihan Mencegah Bullying Sejak Dini di SD Kanisius Yogyakarta

    JUDUL PELATIHAN Pelatihan Mencegah Bullying Sejak Dini di SD Kanisius Yogyakarta   RINGKASAN Pelatihan pencegahan bullying sejak dini...

VENEZUELA: SUATU PERINGATAN : Ketika Negara Dipersonalisasi, Kekuasaan Dipusatkan, dan Institusi Dilumpuhkan

Dalam epilog buku saya Indonesian Dream: Revitalisasi & Realisasi Pancasila sebagai Cita-Cita Bangsa (Kompas, 2018), saya membuka dengan kisah Venezuela. Judulnya singkat: “Indonesia 2030.” Venezuela saya jadikan cermin—sekaligus peringatan.