206 total views
INNNews – Pasar keuangan global kembali diguncang pagi ini (Jakarta, 9/3/2026) oleh eskalasi perang AS-Israel melawan Iran yang kini memasuki hari kesepuluh sejak serangan awal pada akhir Februari. Nilai tukar rupiah melemah tajam, sempat menyentuh level Rp17.000 per dolar AS, sementara harga minyak mentah dunia melonjak melewati USD100 per barel, memicu kekhawatiran krisis energi dan inflasi global.
Kurs USD/IDR pagi ini fluktuatif di kisaran Rp16.900 hingga Rp17.016, dengan puncak intraday mencapai Rp17.000–Rp17.011 sebelum sedikit terkoreksi ke sekitar Rp16.980–Rp16.989. Pelemahan ini didorong oleh penguatan dolar AS sebagai aset safe-haven di tengah ketegangan geopolitik, ditambah tekanan impor energi Indonesia yang semakin mahal sebagai negara net importir minyak. Bank Indonesia terus melakukan intervensi untuk menjaga stabilitas, namun sentimen global mendominasi, dengan prediksi volatilitas tinggi berlanjut selama konflik belum mereda.
Di sisi komoditas, harga minyak Brent crude melonjak ekstrem hingga kisaran USD115–USD117 per barel (dengan high mencapai USD119+), naik lebih dari 25% dalam sehari, sementara WTI crude menembus USD115 per barel. Lonjakan ini melebihi ambang psikologis USD100 per barel yang sempat diprediksi analis awal Maret, dipicu gangguan pasokan melalui Selat Hormuz—jalur vital 20% minyak dunia—akibat penutupan efektif oleh Iran, serangan terhadap tanker, dan pemotongan produksi dari Irak, Kuwait, serta ancaman dari produsen Teluk lainnya.
Analis memperingatkan bahwa jika gangguan berlangsung lama, harga minyak bisa menembus USD150 per barel, memicu inflasi energi global dan risiko resesi. Di Indonesia, beban subsidi energi meningkat tajam, sementara rupiah rentan terhadap tekanan lebih lanjut dari impor yang mahal.
Konflik telah meluas ke Lebanon, Irak, dan kawasan Teluk, dengan serangan rudal dan drone saling balas. Pemimpin baru Iran diumumkan, sementara AS memerintahkan evakuasi staf dari Arab Saudi. Pasar saham Asia dibuka merosot, investor diimbau waspada terhadap fluktuasi ekstrem.
Pemerintah Indonesia menyiapkan langkah mitigasi, termasuk penghematan energi dan stabilisasi fiskal. Situasi tetap sangat dinamis, dengan update real-time dari Timur Tengah berpotensi mengubah arah pasar kapan saja.


