HomeOpiniMBG & KMP vs MIT (Bag 1): Lima Masalah Terbesar Indonesia

MBG & KMP vs MIT (Bag 1): Lima Masalah Terbesar Indonesia

Published on

spot_img

 51 total views

INNNEWS -Bayangkan dua anak berusia 15 tahun di Asia hari ini. Yang satu tumbuh dalam ekosistem yang melatih membaca kritis, bernalar, menguasai sains, dan akrab dengan teknologi.

Yang lain lulus dari sistem, belum ekosistem, yang masih berjuang memastikan kemampuan membaca, berhitung, dan berpikir dasar. Lima atau sepuluh tahun lagi, keduanya akan masuk ke pasar kerja global yang sama, tetapi dengan bekal yang sangat berbeda.

Di situlah masa depan bangsa dipertaruhkan: pada mutu manusia yang dibawanya ke medan persaingan.

Dunia tidak menunggu Indonesia. Ekonomi global makin menghargai pengetahuan, teknologi, dan kemampuan naik kelas. Negara-negara lain berlomba memperkuat kualitas manusia, basis industri, riset, dan inovasi mereka. Dalam kompetisi seperti ini, negara yang tidak siap mungkin tetap tumbuh, tetapi tertinggal; tetap bergerak, tetapi hanya menjadi pemain lapis kedua atau ketiga.

Bagi Indonesia, persoalan ini makin mendesak karena kita sedang memasuki jendela bonus demografi. Dalam lima sampai sepuluh tahun ke depan, gelombang besar penduduk usia produktif akan ikut menentukan apakah Indonesia mampu melompat atau justru terjebak. Masalahnya, Indonesia belum siap.

Ketidaksiapan itu tidak hadir dalam satu bentuk. Ia muncul dalam lima kelemahan besar yang saling terkait dan, bila tidak dijawab serius, akan sangat menentukan nasib Indonesia ke depan.

Tulisan ini lahir bukan dari opini atau teori semata, melainkan dari lebih dari tiga puluh tahun penelitian, analisis, pengamatan, dan pengalaman langsung lintas zaman, lintas konteks, dan lintas kenyataan—global maupun domestik.

Secara konkret, pengalaman itu mencakup dua dunia sekaligus: negara adi daya yang maju karena human capital, riset, inovasi, dan teknologi, serta Indonesia sendiri dalam kenyataan yang keras, dari desa sampai kota, dari Timur sampai Barat.

Karena itu, yang diajukan di sini bukan keluhan, melainkan diagnosis atas realitas Indonesia dalam perbandingannya dengan dunia. Dalam dunia medis, salah diagnosis bisa mahal. Obatnya bisa salah, tindakannya bisa keliru, dan hasilnya bukan menyembuhkan, melainkan menunda atau bahkan memperparah penyakit.

Negara bekerja dengan logika yang tidak jauh berbeda. Kebijakan publik yang dibangun di atas diagnosis yang keliru sering tampak sibuk, tetapi tidak efektif; ramai, tetapi dangkal; mahal, tetapi tidak mengubah arah. Karena itu, pertanyaan yang paling penting bukan hanya apa yang harus dilakukan, melainkan lebih dahulu apa sebenarnya penyakit utamanya.

Masalah Terbesar Pertama

Kalau kita ingin memahami mengapa Indonesia masih tersendat, kita harus mulai dari dasarnya. Dalam pembangunan, fondasi bukan pelengkap. Ia penentu. Dasar yang rapuh mungkin masih mampu menopang satu-dua lantai, tetapi tidak akan pernah kuat menahan bangunan yang tinggi. Cepat atau lambat, retaknya akan merambat ke seluruh bangunan.

Dan itulah masalah pertama kita: lemahnya literasi, numerasi, dan STEM sebagai fondasi kemajuan.

Ini bukan masalah kecil. Ini bukan sekadar urusan teknis sekolah. Ini krisis—lama, kronis, dan terlalu lama dianggap biasa. Padahal tidak ada bangsa yang bisa maju jika terlalu banyak anaknya tidak mampu membaca dengan baik, berhitung dengan mantap, bernalar kritis, dan memahami sains secara memadai.

Faktanya telak. PISA 2022 menunjukkan krisis ini pada dua lapis sekaligus: bukan saja dasar kita rapuh, puncak kita pun nyaris kosong.

Proporsi siswa yang mencapai ambang minimum (Level 2+; Maksimum 6)

Negara Math Baca Sains
Indonesia 18% 25% 34%
Korea 76% 74% 73%
Jepang 84% 76% 82%
Singapur 92% 92% 85%

Pada ambang minimum saja, Indonesia sudah tertinggal telak. Dalam tiga bidang sekaligus, jaraknya sekitar 50–60 poin persentase dari Korea, Jepang, dan Singapura. Jadi masalah kita bukan sekadar belum unggul. Batas kompetensi dasar pun masih sangat jauh tercapai dalam skala besar.

Proporsi siswa pada lapisan unggul (Level 5+)

Negara Math Baca Sains
Indonesia 0* 0* 0*
Korea 23% 6% 11%
Jepang 23% 14% 18%
Singapur 41% 24% 18%
(0* artinya hampir nol)

Pada lapisan unggul, gambarnya bahkan lebih keras. Hampir tidak ada siswa Indonesia yang mencapai Level 5 ke atas dalam matematika, membaca, maupun sains. Artinya jelas: kita bukan hanya lemah pada fondasi minimum dalam skala besar, tetapi juga sangat miskin lapisan unggul.

Bank Dunia juga mencatat bahwa 53% anak Indonesia pada akhir sekolah dasar belum mampu membaca dan memahami teks sederhana sesuai usianya. Artinya, lebih dari separuh anak kita sudah tersandung di pintu masuk pembelajaran. Jika di sekolah dasar saja sudah tertinggal, jenjang berikutnya juga tidak lebih baik.

Misalnya, pada 2015 OECD melakukan Survey of Adult Skills di lebih dari tiga puluh negara, termasuk Indonesia yang diwakili oleh responden dari Jakarta. Temuannya jelas: hampir 70% orang dewasa berada pada Level 1 atau di bawahnya dalam literasi. Mereka bisa membaca teks, tetapi kurang memahaminya. Itu baru Jakarta. Secara nasional, keadaannya pasti lebih buruk.

Kalau ini bukan krisis, lalu apa? Ketika fondasi membaca lemah, seluruh pembelajaran lain ikut goyah. Ketika numerasi rapuh, kemampuan memahami ekonomi, teknologi, dan pekerjaan modern ikut tertahan. Ketika sains dan nalar kritis tidak tumbuh kuat, inovasi tinggal slogan.

Tidak ada bangsa yang bisa naik tinggi di atas fondasi yang retak. Jika fondasi ini terus dibiarkan lemah, kita bukan hanya gagal mengejar masa depan. Kita sedang mengirim jutaan anak ke masa depan tanpa bekal yang cukup.

Gambaran ini terangkum dalam Human Capital Index Indonesia yang berada di kisaran 0,54. Artinya, anak yang lahir di Indonesia hari ini diperkirakan hanya akan mencapai sekitar 54% dari produktivitas yang seharusnya bisa ia capai bila memperoleh pendidikan penuh dan kesehatan yang baik. Hampir separuh potensinya hilang bahkan sebelum ia benar-benar masuk ke medan persaingan.

Fakta-fakta ini bukan hal baru. Ini sudah berlangsung lebih dari dua dekade. Sudah kronis. Yang tidak ada adalah solusi yang sistematis, terarah, dan berkelanjutan. Kita terlalu sibuk berwacana, terlalu sibuk mengurus pinggiran, bukan yang fundamental, dan terlalu lama membiarkan akar persoalannya tetap utuh. Akibatnya, keadaan yang seharusnya diperlakukan sebagai darurat justru dibiarkan menjadi kronis.

Tanpa membereskan fondasi ini secara serius, Indonesia Emas akan berubah menjadi Indonesia Lemas.

Dari sinilah kita masuk ke masalah fundamental berikutnya.

(Elwin Tobing, Profesor ekonomi, Presiden INADATA, Irvine, AS; Menulis buku “NOW or NEVER” yang memberikan blueprint transformasi ekosistem inovasi nasional sebagai syarat mutlak menuju Indonesia Emas 2050. Elwin juga mengembangkan Gerakan LIFT- Literacy for the Future dan Program NEXUS sebagai suatu ekosistem mentransformasi literasi, karakter, dan minat sains peserta didik Indonesia).

Artikel Terbaru

Agenda solo hari ini,senin 6 april 2026,pagi-siang ada galeri UMKM,malamnya Jazz Triwindu

  INNNEWS - Kota Solo kembali menghadirkan rangkaian kegiatan menarik bagi masyarakat dan wisatawan pada...

Iran Eksekusi Remaja 18 Tahun yang Ditangkap Saat Protes Januari 2026

INNEWS – Rezim Iran kembali melakukan eksekusi mati terhadap seorang remaja. Amirhossein Hatami, pemuda...

Gempa M 7,6 Guncang Sulawesi Utara, Sempat Picu Tsunami dan Sebabkan Korban

INNNEWS — Gempa bumi kuat mengguncang wilayah Sulawesi Utara dan sekitarnya pada Kamis pagi,...

Kehilangan Hutan Tropis Indonesia Melonjak 66% di 2025, Capai 433.751 Hektare – Tertinggi dalam 8 Tahun!

INNNEWS – Menurut laporan kelompok lingkungan Auriga Nusantara yang dirilis Selasa (31 Maret 2026),...

artikel yang mirip

Agenda solo hari ini,senin 6 april 2026,pagi-siang ada galeri UMKM,malamnya Jazz Triwindu

  INNNEWS - Kota Solo kembali menghadirkan rangkaian kegiatan menarik bagi masyarakat dan wisatawan pada...

Iran Eksekusi Remaja 18 Tahun yang Ditangkap Saat Protes Januari 2026

INNEWS – Rezim Iran kembali melakukan eksekusi mati terhadap seorang remaja. Amirhossein Hatami, pemuda...

Gempa M 7,6 Guncang Sulawesi Utara, Sempat Picu Tsunami dan Sebabkan Korban

INNNEWS — Gempa bumi kuat mengguncang wilayah Sulawesi Utara dan sekitarnya pada Kamis pagi,...