HomeOpiniApakah Benar Dalam 72 Jam Israel Menguasai Teheran?

Apakah Benar Dalam 72 Jam Israel Menguasai Teheran?

Published on

spot_img

 1,205 total views

INN NEWS – Saya membaca artikel Hananya Naftali dengan satu tarikan napas. Judulnya provokatif—“How Israel Took Over The Iranian Skies in 72 Hours”—dan narasinya seperti diambil langsung dari sebuah novel militer. Tapi makin saya mencerna, makin terasa bahwa di balik gaya retoris dan bahasa yang menggelegar, tersembunyi satu realitas pahit: rezim Khamenei mulai retak dari dalam.

Saya bukan orang yang mudah percaya pada propaganda, baik dari Barat maupun Timur. Tapi ketika data, pengamatan, dan pola historis mulai beresonansi, kita harus berhenti sejenak dan bertanya: apa sebenarnya yang sedang terjadi di balik awan?

Tiga hari yang diklaim cukup untuk melumpuhkan sistem pertahanan udara Iran bukanlah peristiwa biasa.

Dalam waktu sesingkat itu, jaringan radar Iran konon dibungkam, bunker-bunker komando dihancurkan, dan bahkan beberapa jenderal senior dilumpuhkan sebelum bisa memberi respons. Bukan hanya soal jet tempur yang menari di langit Teheran, tapi tentang bagaimana sistem kekuasaan yang dibangun selama puluhan tahun bisa dilucuti hanya dalam hitungan jam.

Naftali menyebut ini bukan sekadar air superiority, melainkan air domination. Jika semua yang ditulisnya benar—dan banyak indikator independen menunjukkan kesesuaiannya—maka kita sedang menyaksikan babak baru dalam konfrontasi Timur Tengah: dominasi total dari udara, dengan keterlibatan simultan intelijen, drone dalam negeri, dan infiltrasi yang telah dipersiapkan bertahun-tahun sebelumnya.

Namun, bagi saya, narasi ini bukan hanya kemenangan teknologi dan strategi. Ini juga menunjukkan kerapuhan sebuah rezim. Teheran tidak mungkin dapat ditembus sejauh ini kecuali ada celah dari dalam. Dan celah itu—bisa jadi—adalah rakyatnya sendiri. Rakyat yang lelah dengan sanksi, represi, dan ideologi yang semakin kehilangan makna di generasi muda.

Ketika Mossad bisa menyusupkan senjata dalam wujud perabotan rumah, atau menyembunyikan drone dalam mobil tua di jalanan Iran, kita sedang bicara tentang masyarakat yang tidak lagi solid mendukung kekuasaannya sendiri. Rezim Khamenei bukan hanya diserang dari luar, tetapi sudah terkikis dari dalam.

Ada satu momen dalam artikel Naftali yang sangat simbolis—serangan udara ke gedung televisi negara saat siaran langsung. Itu bukan sekadar target militer. Itu pesan psikologis: “Kami ada di mana-mana. Bahkan di tengah kalian.” Jika pesan ini dimaksudkan untuk menghancurkan rasa aman, maka ia berhasil. Bukan hanya militer Iran yang terguncang, tetapi juga narasi kolektif yang selama ini menopang ketahanan mental bangsa.

Tentu saja, kemenangan seperti ini membawa risiko. Iran yang terluka bisa menjadi lebih ganas. Mereka masih memiliki rudal jarak jauh, jaringan proksi global, dan yang lebih mengkhawatirkan: kemungkinan akselerasi proyek nuklir sebagai bentuk “balas dendam eksistensial.”

Namun yang ingin saya tekankan adalah ini: Israel tidak hanya menunjukkan kemampuan militernya. Ia sedang mengubah arsitektur psikologis dan geopolitik regional. Ketika langit Teheran berubah menjadi koridor jet-jet Israel, pesan yang dikirim tidak hanya ke Iran, tapi ke seluruh dunia Arab, ke Barat, dan ke negara-negara yang selama ini berdansa di antara kompromi dengan teror.

Apakah benar dalam 72 jam Israel menguasai Teheran? Mungkin tidak secara penuh. Tapi jika kita memahami “penguasaan” sebagai kontrol psikologis, disrupsi sistemik, dan peneguhan superioritas strategis—maka jawabannya sangat mungkin: ya.

Dan jika memang demikian, maka sejarah baru sedang ditulis. Bukan oleh kekuatan besar dunia, tapi oleh sebuah bangsa kecil yang berkata: “Cukup sudah. Kami tidak akan tunggu untuk diserang.”

Kini pertanyaannya bukan lagi siapa yang menguasai langit. Tapi: siapa yang mengendalikan narasi sejarah setelah badai reda?

Penulis: Hanny Setiawan

Sumber: Artikel oleh Hananya Naftali

Artikel Terbaru

Kasus Ijazah Jokowi Kembali Di gugat Alumni UGM

INNNEWS - Kasus dugaan keaslian ijazah Presiden Joko Widodo atau Jokowi kembali menjadi sorotan...

Konflik Iran–AS Memanas, Selat Hormuz Tegang, Operasi “Project Freedom” Dihentikan Sementara

INNNEWS - Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali meningkat di kawasan Selat Hormuz,...

PLTSa Putri Cempo Masih Dikritik DPRD Solo, Pengelolaan Sampah Dinilai Belum Matang

INNNEWS – Pembahasan mengenai pengelolaan sampah di Kota Solo kembali menjadi sorotan publik. Proyek Pembangkit...

Pertumbuhan Ekonomi Karena MBG: Sebuah Risiko Sistemik yang Mengkhawatirkan

INNNEWS — Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada Triwulan I-2026 mencapai...

artikel yang mirip

Kasus Ijazah Jokowi Kembali Di gugat Alumni UGM

INNNEWS - Kasus dugaan keaslian ijazah Presiden Joko Widodo atau Jokowi kembali menjadi sorotan...

Konflik Iran–AS Memanas, Selat Hormuz Tegang, Operasi “Project Freedom” Dihentikan Sementara

INNNEWS - Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali meningkat di kawasan Selat Hormuz,...

PLTSa Putri Cempo Masih Dikritik DPRD Solo, Pengelolaan Sampah Dinilai Belum Matang

INNNEWS – Pembahasan mengenai pengelolaan sampah di Kota Solo kembali menjadi sorotan publik. Proyek Pembangkit...