1,255 total views
JAKARTA – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan kesepakatan strategis dengan Indonesia yang memberikan akses penuh bagi AS ke berbagai sumber daya dan pasar di Indonesia tanpa tarif.
Kesepakatan ini diumumkan setelah pembicaraan dengan Presiden Indonesia Prabowo Subianto, yang disebut Trump sebagai “presiden yang luar biasa, populer, kuat, dan cerdas.”
Dalam pernyataannya, Trump menegaskan bahwa pengusaha AS akan sangat diuntungkan dari perjanjian ini.
Akses Penuh Tanpa Tarif untuk AS
Menurut Trump, kesepakatan ini memungkinkan AS untuk mengakses sumber daya alam Indonesia, term Tembaga, yang merupakan salah satu kekuatan utama Indonesia, tanpa dikenakan tarif impor.
“Kami tidak akan membayar tarif apa pun. Mereka memberi kami akses ke Indonesia yang belum pernah kami miliki sebelumnya. Ini mungkin bagian terpenting dari kesepakatan,” ujar Trump dalam pernyataan yang disiarkan melalui kanal YouTube resmi Gedung Putih pada 16 Juli 2025.
Sebagai bagian dari kesepakatan, Indonesia berkomitmen untuk mengimpor energi senilai 15 miliar dolar AS (sekitar Rp244 triliun) dan komoditas pertanian AS senilai 4,5 miliar dolar AS (sekitar Rp73 triliun).
Selain itu, Indonesia juga disebut akan membeli 50 pesawat jet Boeing untuk memperkuat armada Garuda Indonesia.
Tarif Impor Indonesia Turun, Namun Ekonom Khawatir
Sebagai imbalannya, AS menurunkan tarif impor untuk produk Indonesia dari 32% menjadi 19%, yang dianggap sebagai hasil perundingan alot oleh Presiden Prabowo Subianto.
Namun, ekonom menyatakan bahwa kesepakatan ini lebih menguntungkan AS ketimbang Indonesia. Bhima Yudhistira, Direktur Eksekutif Centre of Economic and Law Studies (Celios), menyebut posisi Indonesia menjadi lemah karena AS tidak dikenakan tarif, sementara Indonesia masih harus membayar tarif 19% untuk ekspor ke AS.
“Ini preseden yang kurang bagus dan bisa menjadi contoh bagi negara lain untuk menekan Indonesia,” kata Bhima.
Selain itu, persyaratan impor bahan bakar minyak (BBM), LPG, gandum, dan produk pertanian AS dengan nilai kontrak besar dalam jangka panjang juga dinilai merugikan Indonesia. “Ini bukan negosiasi yang menguntungkan bagi Indonesia,” tambah Bhima.
Tanggapan Pemerintah Indonesia
Presiden Prabowo Subianto menyatakan bahwa kesepakatan ini merupakan hasil dari perundingan yang mempertimbangkan kepentingan kedua belah pihak.
“Kami memahami kepentingan mereka, dan mereka memahami kepentingan kami,” ujar Prabowo usai kunjungan ke beberapa negara pada 16 Juli 2025. Ia juga menyinggung pembelian pesawat Boeing sebagai bagian dari upaya memperkuat Garuda Indonesia.
Namun, larangan ekspor bijih tembaga dan konsentratnya sejak Januari 2025 melalui Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 10 Tahun 2024 menimbulkan pertanyaan mengenai klaim Trump tentang akses penuh ke tembaga Indonesia. Menteri Investasi Bahlil Lahadalia belum memberikan klarifikasi rinci terkait hal ini.
Dampak bagi Perekonomian Indonesia
Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menyatakan kekhawatiran atas dampak kesepakatan ini terhadap industri padat karya, seperti garmen, sepatu, dan tekstil, yang bergantung pada pasar AS.
Ketua Umum Apindo, Shinta Widjaja Kamdani, menyebutkan bahwa tarif 19% dapat melemahkan daya saing produk Indonesia di AS, yang menyumbang ekspor pakaian dan aksesoris hingga 4,5 miliar dolar AS.
Di sisi lain, beberapa ekonom melihat peluang bagi Indonesia untuk memanfaatkan kebijakan tarif ini, seperti yang dilakukan Vietnam pada perang dagang AS-China sebelumnya.
Dengan strategi yang tepat, Indonesia bisa mengambil alih pasar dari negara-negara kompetitor seperti China, Vietnam, dan Thailand, yang dikenakan tarif lebih tinggi oleh AS.
Sentimen Publik di Media Sosial
Kesepakatan ini memicu beragam reaksi di media sosial. Beberapa akun di X memuji langkah ini sebagai diplomasi ekonomi cerdas, sementara yang lain mengkritiknya sebagai keputusan yang merugikan Indonesia. Salah satu unggahan menyebutkan, “Kita ini memang bangsa besar,” dengan nada sindiran, merujuk pada ketimpangan tarif dalam kesepakatan ini.
Ke Depan
Meskipun kesepakatan ini membuka peluang perdagangan yang lebih luas bagi AS, tantangan bagi Indonesia adalah memastikan manfaat yang seimbang, terutama dalam melindungi industri lokal dan memperluas pasar ekspor alternatif.
Pemerintah Indonesia juga perlu merumuskan strategi untuk memitigasi dampak tarif dan meningkatkan daya saing produk lokal di tengah dinamika perdagangan global yang semakin kompetitif.
Dengan langkah reformasi perpajakan dan penghapusan kuota impor untuk barang tertentu, Presiden Prabowo berupaya menjaga stabilitas ekonomi dalam negeri.
Namun, keberhasilan kesepakatan ini akan bergantung pada implementasi yang transparan dan strategi jangka panjang untuk memperkuat posisi Indonesia di kancah global.


