24 total views
INNNEWS – Serangan udara Israel di Lebanon Selatan terus berlanjut dalam beberapa hari terakhir, sementara ketegangan di Selat Hormuz semakin meningkat menyusul ancaman Iran untuk menetapkan zona maritim terbatas baru. Kedua isu ini memperburuk ketidakstabilan di Timur Tengah.
Di Lebanon Selatan, militer Israel melancarkan gelombang serangan udara pada Senin (7/9/2026) dini hari. Serangan di desa Kfar Rumman (Kfar Roummane) di distrik Nabatieh menewaskan sedikitnya 11 orang, termasuk dua anak-anak dan empat perempuan, serta melukai delapan lainnya. Serangan drone terpisah juga menewaskan dua petugas medis yang sedang berada di dalam kendaraan sipil.
Menurut Kementerian Kesehatan Lebanon, dalam tiga hari terakhir serangan Israel telah menewaskan 27 orang dan melukai 69 lainnya. Israel mengklaim serangan tersebut sebagai respons atas peluncuran drone eksplosif oleh Hizbullah yang dianggap melanggar kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat pada Juni 2026. Israel juga menyatakan telah menguasai punggungan strategis Ali al-Taher di dekat Nabatieh.
Sementara itu, di Selat Hormuz, Iran mengancam akan mengumumkan zona maritim terbatas baru dalam beberapa hari mendatang. Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Mohsen Rezaei menyatakan zona tersebut akan dimulai dari garis blokade angkatan laut AS hingga memasuki Teluk Persia. Setiap kapal yang memasuki zona itu akan dimasukkan ke daftar sanksi Iran.
Rezaei juga menyebut bahwa peta koridor pelayaran internasional baru melalui Selat Hormuz yang dikelola Iran bersama Oman akan segera disepakati. Langkah ini diambil setelah serangkaian serangan timbal balik antara AS dan Iran terhadap kapal-kapal di kawasan tersebut selama akhir pekan. Lalu lintas kapal di selat strategis itu turun drastis, dengan rata-rata hanya 10 kapal kargo per hari dalam 10 hari terakhir, level terendah sejak Mei.
Ketegangan ini mendorong harga minyak naik mendekati level tertinggi dalam enam minggu. Iran memperingatkan bahwa infrastruktur energi di Teluk, termasuk aset AS, rentan diserang jika ada aksi militer baru. “Serang aset kami, maka Anda akan diserang,” tegas Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf.
Baik di Lebanon Selatan maupun Selat Hormuz, eskalasi ini menimbulkan kekhawatiran internasional akan potensi perluasan konflik yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.


