972 total views
Laporan Kontributor INN INDONESIA Risman Serang
TUAL, INN INDONESIA – 16 tahun sudah lelaki paroh baya ini setia menunggui lapak kerikilnya di kawasan BTN Un, Kota Tual, Maluku.
Ialah Umar Borut penjual batu kerikil halus dan batu lainnya untuk mendapatkan sesuap nasi.
Lapak kecil Umar terisi dengan batu kerikil yang terbungkus rapi di dalam karung semen bekas.
Lelaki yang sering disapa Bapak Umar ini berani mengambil keputusan untuk hidup belasan tahun dengan kerikil-kerikil kecil demi kelangsungan hidup keluarganya.

Meskipun tak sendiri berjualan kerikil kecil, Tetapi Umar yakin pasti ada rejeki tersendiri yang datang untuknya.
Walau penuh dengan keterbatasan, hasil dari kerikil itu dapat membawa dua dari lima anaknya menempuh pendidikan di salah satu perguruan tinggi ternama di Maluku.
Sementara tiga anak lainnya masih mengenyam pendidikan di bangku SMP dan SMA.
Itu menjadi bukti jerihpayanya mengerjakan pekerjaan yang digelutinya dengan tekunm
“Dari hasil penjualan batu inilah saya dapat sekolahkan anak hingga perguruan tinggi dan mau hampir wisuda,” kata Umar saat ditemui INN Indonesia, Jumat (19/8/2022).
Umar mengaku, pendapatannya tak seberapa, namun dia selalu menyisikan hampir separoh pendapatan untuk ditabung demi biaya pendidikan anak-anaknya.
Kerikil yang dijual per karungnya Rp10 ribu untuk kerikil kasar dan kerikil halusnya itu dijual dengan harga Rp 15 per karung.
Rata rata dalam satu hari bisa laku 50 karung itupun kalau ada yang mau membeli, jika tidak ia pulang dengan tangan hampa
Dia berkerja mulai dari pukul 07.00 pagi hingga pukul 17.oo.
“Kalau biasanya ada proyek yang besar maka orang datang membelinya, tetapi kalau tidak ada proyek, maka tidak ada yang membeli,” ungkap Umar
Umar biasanya berkerja ditemani oleh sang istri yang bergantian jika merasa Lela.
Dia pun sangat mensyukuri apa yang dijalaninya, karena kerja kerasnya anaknya bisa belajar hingga perguruan tinggi.
“Demi anak-anak punya pendidikan kita tetap semangat untuk bekerja,” ucapnya.
Dia juga mengaku, ada rasa bangga tersendiri saat melihat anak-anaknya bisa merasakan pendidikan hingga perguruan tinggi sama seperti anak-anak lainnya.
“Saya sangat bersyukur bisa lihat mereka kuliah,” tambah Umar.
Dia berharap agar pemerintah dapat memperhatikan mereka yang berjualan kerikil.
“Biasanya kontraktor ini datang tawar menawar padahal kasian kita ini kan masyarakat kecil punya pekerjaan sudah disini punya penghasilan juga dari ini dan pemerintah bisa dapat melibatkan dalam membeli kerikilnya,” tutupnya.


