1,637 total views
INN INDONESIA – LIFE STYLE – Belakangan ini fenomena lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) tengah menjadi sorotan publik lantaran dikampanyekan beberapa tokoh publik di media. Tidak hanya di media, kampanye tersebut kini hadir dengan beragam bentuk di media sosial, fashion, bahkan film.
Mayoritas dari masyarakat tentu resah dengan aktivitas para kaum LGBT yang mulai frontal, seolah bergerak menuju pada legalisasi LGBT.
Beberapa negara barat bahkan sudah melegalkan perkawinan sejenis, padahal dulunya negara itu mayoritas menentang perilaku LGBT. Namun karena lewat kampanye-kampanye yang tak terduga, pelegalan itu pun terjadi.
Gawatnya adalah kampanye LGBT menyasar anak-anak dan remaja dengan menyisipkan perilaku atau karakter LGBT di acara-acara kartun dan animasi. Apalagi sinema kartun dan animasi adalah tayangan yang paling disukai anak-anak dan remaja.
Belum lama ini, Kartun Jurassic World Camp Cretaceous yang tayang di Netflix mendapat perhatian sejumlah pihak lantaran serial yang masuk kategori ‘TV Cartoons’ dan ‘Family Watch Together TV’ itu menampilkan adegan ciuman karakter lesbian.
Berdasarkan informasi yang dihimpun dari berbagai sumber, beberapa serial kartun lainnya yang dinilai mengandung LGBT seperti The Simpsons, How to Train Your Dragon, The Legend of Korra, Batman: Bad Blood, Attack on Titan, Sausage Party, BoJack Horseman, Zootopia, Adventure Time, Superman: Red Son, hingga Frozen (2013, Disney), dan masih banyak lagi.
Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Retno Listyarti mengatakan, keberadaan konten berbau LGBT dalam media publik seperti film dan internet tentu berpotensi kuat memberikan dampak kepada masyarakat.
Dampak tersebut kata Retno akan lebih bertahan lama bila menyasar kalangan muda dan anak-anak.
“Terlebih film, sangat mampu membuat orang menganggap apa yang ditayangkan itu adalah sebuah kebenaran. Dengan tampil di media, orang akan berpikir bahwa tindakan itu merupakan hal biasa yang tidak salah apabila dilakukan,” kata Retno, mengutip Kumparan.
Dia menyebut perilaku anak-anak bisa terpengaruh dengan konten seperti itu. Terlebih jika sang anak memang pernah memiliki pengalaman terkait dengan LGBT atau trauma dengan lawan jenis.
Begitu juga dengan pola asuh yang tidak baik, sehingga dia semakin terdorong dengan konten-konten macam itu.
“Sehingga membuat dia menjadi gay dan ketika menonton ia mendapat pembenaran terhadap kondisi dirinya,” kata Retno.
Untuk itu, para orangtua wajib waspada dan selalu mendampingi anak-anak dalam memilih film yang harus ditonton dan media sosial yang diakses.
Jangan memperbiasakan anak untuk bebas melakukan apa saja sesuka hati yang berujung terpengaruh dengan hal-hal yang mengarah ke penyimpangan.


