HomeTrendingHadiri 'Sablon Kaus Gratis' di Colomadu, Ganjar: 1997 Dibuat Rakyat untuk Lawan...

Hadiri ‘Sablon Kaus Gratis’ di Colomadu, Ganjar: 1997 Dibuat Rakyat untuk Lawan Orba

Published on

spot_img

 1,224 total views

SOLO RAYA – Sekretariat Bersama (Sekber) Relawan Ganjar-Mahfud Solo Raya luncurkan ‘Sablon Kaus Gratis’ untuk menggalang dukungan kepada pasangan Capres Cawapres nomor urut 3 Ganjar Pranowo-Mahfud MD di Sekber Ganjar-Mahfud, Jalan Adi Sucipto, Colomadu, Karanganyar, Jawa Tengah, Sabtu, 30 Desember 2023.

Acara tersebut dihadiri relawan Ganjar-Mahfud se-Solo Raya.

Gerakan tersebut dilakukan dengan menyablon kaus untuk kampanye Ganjar-Mahfud secara gratis dan dilaunching langsung oleh Ganjar.

Saat menyapa relawan di lokasi, Ganjar mengatakan bahwa gerakan kaus rakyat itu merupakan wujud dukungan murni yang datang langsung dari rakyat.

“Inilah ciri-ciri dari gerakan rakyat. Rakyat menginginkan agar republik ini berjalan dengan baik,” ujarnya.

Eks Gubernur Jawa Tengah 2 periode itu juga mengingatkan bahwa gerakan rakyat serupa sudah terjadi sejak tahun 1997 silam.

Situasi launching sablon kaus gratis di Sekber Ganjar-Mahfud, Jalan Adi Sucipto, Colomadu, Karanganyar (Gambar: Istimewa)

Saat itu, PDI sebagai salah satu partai besar hendak dihancurkan oleh penguasa Orde Baru, hingga akhirnya muncul perlawanan dari rakyat.

“Saya masih ingat betul, kira-kira tahun 1996, saat itu PDI masih belum perjuangan diserbu dan ditindas, kemudian muncul gerakan rakyat sampai pada 1999 ikut pemilu dan menang,” ungkap Ganjar.

Menurut Ganjar, perlawanan rakyat saat itu dilakukan dengan berbagai cara yang salah satunya lewat sablon kaus.

“Atribut tidak seragam, ada tampah digambar, ada dinding dicorat-coret, dan ada satu tradisi yang tidak hilang ada baju atau kaus yang disablon seperti ini,” ucap Ganjar.

Atas aksi dari para relawan tersebut menyampaikan apresiasi untuk para pendukungnya. Dial menyebutkan kemenangan Pilpres 2024 nantinya bukan untuk Ganjar-Mahfud, tapi kemenangan untuk masa depan bangsa Indonesia.

“Saya sampaikan terima kasih atas dukungannya. Ini bukan soal Ganjar, ini bukan soal Mahfud, dan ini bukan soal kekuasaan, tapi ini demi masa depan Indonesia,” tegasnya.

Dari pantauan INN Indonesia di lokasi, para relawan dan warga yang berdatangan sangat antusias membawa kaus hingga jaket untuk disablon dengan ornamen-ornamen khas Ganjar Mahfud.

Artikel Terbaru

KPK Tetapkan Eks Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas sebagai Tersangka Korupsi Kuota Haji

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) resmi menetapkan mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi penyelenggaraan ibadah haji tahun 2023-2024. Penetapan ini dikonfirmasi oleh pejabat KPK pada Jumat, 9 Januari 2026.

Pelatihan Mencegah Bullying Sejak Dini di SD Kanisius Yogyakarta

    JUDUL PELATIHAN Pelatihan Mencegah Bullying Sejak Dini di SD Kanisius Yogyakarta   RINGKASAN Pelatihan pencegahan bullying sejak dini...

VENEZUELA: SUATU PERINGATAN : Ketika Negara Dipersonalisasi, Kekuasaan Dipusatkan, dan Institusi Dilumpuhkan

Dalam epilog buku saya Indonesian Dream: Revitalisasi & Realisasi Pancasila sebagai Cita-Cita Bangsa (Kompas, 2018), saya membuka dengan kisah Venezuela. Judulnya singkat: “Indonesia 2030.” Venezuela saya jadikan cermin—sekaligus peringatan.

Pelajaran Mahal dari Venezuela: Otoritarianisme ala Maduro

INNNEWS-Apa yang terjadi di Venezuela pada awal 2026 bukanlah peristiwa yang jatuh dari langit....

artikel yang mirip

KPK Tetapkan Eks Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas sebagai Tersangka Korupsi Kuota Haji

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) resmi menetapkan mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi penyelenggaraan ibadah haji tahun 2023-2024. Penetapan ini dikonfirmasi oleh pejabat KPK pada Jumat, 9 Januari 2026.

Pelatihan Mencegah Bullying Sejak Dini di SD Kanisius Yogyakarta

    JUDUL PELATIHAN Pelatihan Mencegah Bullying Sejak Dini di SD Kanisius Yogyakarta   RINGKASAN Pelatihan pencegahan bullying sejak dini...

VENEZUELA: SUATU PERINGATAN : Ketika Negara Dipersonalisasi, Kekuasaan Dipusatkan, dan Institusi Dilumpuhkan

Dalam epilog buku saya Indonesian Dream: Revitalisasi & Realisasi Pancasila sebagai Cita-Cita Bangsa (Kompas, 2018), saya membuka dengan kisah Venezuela. Judulnya singkat: “Indonesia 2030.” Venezuela saya jadikan cermin—sekaligus peringatan.