HomeTrending"Rencana Tambah Kementerian Prabowo untuk Bagi Jabatan; Peluang Korupsi"

“Rencana Tambah Kementerian Prabowo untuk Bagi Jabatan; Peluang Korupsi”

Published on

spot_img

 531 total views

JAKARTA – Wacana penambahan nomenklatur kementerian oleh capres cawapres terpilih Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming menimbulkan pro kontra.

Wacana penambahan kementria itu berderai usai penetapan presiden dan wakil presiden terpilih oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Wakil Ketua Umum (Waketum) Partai Gerindra Habiburokhman juga telah memberikan tanggapannya tentang wacana tersebut.

Menurutnya, wacana tersebut sangat wajar karena mengingat wilayah Indonesia sangat luas.

“Dalam konteks negara jumlah yang banyak itu artinya besar, buat saya bagus, negara kita kan negara besar. Tantangan kita besar, target target kita besar” ucap Waketum Gerindra itu belum lama ini.

Namun wacana tersebut juga menimbulkan pihak-pihak yang kontra di beberapa kalangan masyarakat.

Salah satunya Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI Jusuf Kalla yang menurutnya isu penambahan kementerian tersebut terlalu politis.

“Tergantung program kabinetnya, kalua programnya gini, itu disesuaikan, tapi 34 itu sudah dihitung perhitungan yang ada. Pernah kita 100 menteri itu, hanya politis amat, memberikan kesempatan semua orang tapi ngga bisa jalan” ucap Jusuf Kalla.

Selain itu, staf Divisi Korupsi Politik Indonesia Corruption Watch (ICW) Seira Tamara juga memberikan tanggapanya terkait wacana tersebut.

“Segala bentuk dukungan yang diberikan pada akhirnya tidak ada yang gratis dan diberikan secara ikhlas. Yang jadi rugi siapa? Masyarakat,” ucap Seira pada Selasa (7/5).

Menurut Seira, rencana tersebut menunjukkan bahwa komposisi kabinet di masa depan hanya akan mencakup posisi-posisi yang dapat diberikan kepada anggota koalisi atau pendukung yang telah ada sebelumnya.

Tidak hanya itu, mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan Mahfud MD juga memberikan tanggapan kontranya terkait isu tersebut.

Menurutnya penambahan kementerian hanya akan membuka lebih lebar peluang untuk korupsi.

Artikel Terbaru

Breaking News: Rupiah Sentuh Rp17.000 per Dolar AS dan Minyak Dunia Tembus USD100 per Barel Akibat Eskalasi Konflik Timur Tengah

asar keuangan global kembali diguncang pagi ini (Jakarta, 9/3/2026)  oleh eskalasi perang AS-Israel melawan Iran yang kini memasuki hari kesepuluh sejak serangan awal pada akhir Februari. Nilai tukar rupiah melemah tajam, sempat menyentuh level Rp17.000 per dolar AS, sementara harga minyak mentah dunia melonjak melewati USD100 per barel, memicu kekhawatiran krisis energi dan inflasi global.

Pembunuhan Pensiunan Pelindo: Perampokan Biasa atau Pesan Berdarah?

INNNEWS - Kematian tragis seorang pensiunan pekerja pelabuhan, Ermanto Usman, di rumahnya di kawasan...

MBG: Program Populis yang Tidak Sensitif terhadap Kecerdasan Bangsa

INNNEWS - Di tengah berbagai perdebatan mengenai program Makan Bergizi Gratis (MBG), satu fakta...

Perang Iran: Ketika Pusat Jaringan Proksi Bertemu Krisis Legitimasi Internal

Di banyak forum internasional, sering muncul perdebatan apakah menyebut Iran sebagai pusat jaringan terorisme regional adalah analisis objektif atau sekadar propaganda geopolitik. Namun jika dilihat secara struktural, bukti yang tersedia menunjukkan bahwa tesis tersebut bukanlah konstruksi retorik semata. Ia adalah hasil dari pola strategi keamanan Iran yang konsisten sejak revolusi 1979.

artikel yang mirip

Breaking News: Rupiah Sentuh Rp17.000 per Dolar AS dan Minyak Dunia Tembus USD100 per Barel Akibat Eskalasi Konflik Timur Tengah

asar keuangan global kembali diguncang pagi ini (Jakarta, 9/3/2026)  oleh eskalasi perang AS-Israel melawan Iran yang kini memasuki hari kesepuluh sejak serangan awal pada akhir Februari. Nilai tukar rupiah melemah tajam, sempat menyentuh level Rp17.000 per dolar AS, sementara harga minyak mentah dunia melonjak melewati USD100 per barel, memicu kekhawatiran krisis energi dan inflasi global.

Pembunuhan Pensiunan Pelindo: Perampokan Biasa atau Pesan Berdarah?

INNNEWS - Kematian tragis seorang pensiunan pekerja pelabuhan, Ermanto Usman, di rumahnya di kawasan...

MBG: Program Populis yang Tidak Sensitif terhadap Kecerdasan Bangsa

INNNEWS - Di tengah berbagai perdebatan mengenai program Makan Bergizi Gratis (MBG), satu fakta...