HomeRisetRapor Merah 100 Hari Prabowo-Gibran: Ekonomi Terpuruk, Diprediksi Kontraksi

Rapor Merah 100 Hari Prabowo-Gibran: Ekonomi Terpuruk, Diprediksi Kontraksi

Published on

spot_img

 1,723 total views

RISET – Riset & Survei terbaru dari LPEM FEB UI menunjukkan bahwa mayoritas pakar ekonomi menilai kondisi ekonomi Indonesia memburuk sejak pemerintahan Prabowo-Gibran berjalan.

Dalam survei ini, “55% pakar menyatakan ekonomi lebih buruk dibanding tiga bulan sebelumnya,” sementara hanya satu responden yang melihat adanya perbaikan.

Lebih dari separuh responden juga memperkirakan ekonomi “akan terus melemah di periode mendatang,” dengan rata-rata skor -0.36, menunjukkan prediksi kontraksi. Inflasi saat ini relatif stabil, tetapi mayoritas pakar memperkirakan tekanan harga “akan meningkat dalam beberapa bulan ke depan.”

Di sektor ketenagakerjaan, “19 dari 42 pakar menilai pasar tenaga kerja semakin buruk,” dengan rata-rata skor -0.86, yang mengindikasikan semakin sulitnya masyarakat mendapatkan pekerjaan yang layak.

Baca juga:

Ekonomi Memburuk di Awal Pemerintahan Baru

Kondisi ini diperparah dengan iklim bisnis yang juga dinilai menurun, di mana “57% pakar menilai dunia usaha semakin lesu.”

Kebijakan Ekonomi Tidak Meyakinkan, Stabilitas Politik Memburuk

Evaluasi terhadap kebijakan ekonomi pemerintahan Prabowo-Gibran menunjukkan hasil yang sangat negatif.

“Sebanyak 88% pakar menilai kebijakan fiskal tidak efektif,” dengan rata-rata skor -1.05, mencerminkan kebutuhan akan perubahan strategi.

Dari sisi politik, kondisi semakin mengkhawatirkan.

“Sebanyak 28 dari 42 pakar menilai stabilitas politik memburuk,” sementara “tidak ada satu pun responden yang melihat perbaikan.” Korupsi juga menjadi perhatian utama, dengan mayoritas pakar menilai situasi “semakin memburuk atau stagnan.”

Dalam 100 hari pertama pemerintahan Prabowo-Gibran, mayoritas pakar ekonomi memberikan rapor merah, dengan rata-rata skor -1.17, mencerminkan skeptisisme yang tinggi terhadap efektivitas kebijakan ekonomi mereka.

Jika situasi ini tidak segera ditangani, Indonesia berisiko menghadapi perlambatan ekonomi yang lebih dalam.

Oleh: Tim Riset Imadeo

Sumber: 

LPEM Economic Expert Survey – Semester I 2025, LPEM FEB UI.

 

 

Artikel Terbaru

RUMAH BELAJAR PANCASILA SAPARUA DIBUKA: GERAKAN GOTONG ROYONG RAKYAT, ANTITESA PROYEK PENDIDIKAN APBN MILIARAN YANG BERUJUNG MASALAH

INNNEWS — Di tengah maraknya proyek pendidikan berbiaya miliar hingga triliunan rupiah yang dibiayai...

MSCI ANCAM UBAH STATUS PASAR SAHAM INDONESIA: DARI EMERGING MARKET KE STANDALONE MARKET

INNNEWS — Indonesia menghadapi ujian serius terhadap kredibilitas pasar modal setelah Morgan Stanley Capital International...

KELANGKAAN PERTALITE MELUAS, ANTREAN PANJANG TERJADI DI BALI HINGGA MALANG

INNNEWS – Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertalite kembali melanda sejumlah daerah di Indonesia....

Karhutla Berskala Nasional: Mengapa Prabowo–Gibran Belum Menetapkan Bencana Nasional?

INNNEWS - Dua tahun pemerintahan Prabowo–Gibran memperlihatkan berbagai agenda politik dan pembangunan. Namun, ketika...

artikel yang mirip

RUMAH BELAJAR PANCASILA SAPARUA DIBUKA: GERAKAN GOTONG ROYONG RAKYAT, ANTITESA PROYEK PENDIDIKAN APBN MILIARAN YANG BERUJUNG MASALAH

INNNEWS — Di tengah maraknya proyek pendidikan berbiaya miliar hingga triliunan rupiah yang dibiayai...

MSCI ANCAM UBAH STATUS PASAR SAHAM INDONESIA: DARI EMERGING MARKET KE STANDALONE MARKET

INNNEWS — Indonesia menghadapi ujian serius terhadap kredibilitas pasar modal setelah Morgan Stanley Capital International...

KELANGKAAN PERTALITE MELUAS, ANTREAN PANJANG TERJADI DI BALI HINGGA MALANG

INNNEWS – Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertalite kembali melanda sejumlah daerah di Indonesia....