HomeGlobalIndeks Saham Hong Kong Anjlok Hampir 10 Persen Imbas Tarif Trump, Indonesia...

Indeks Saham Hong Kong Anjlok Hampir 10 Persen Imbas Tarif Trump, Indonesia Gimana?

Published on

spot_img

 1,758 total views

INN INTERNASIONAL – Pasar saham global kembali didera gejolak signifikan setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan kebijakan tarif impor baru yang disebut sebagai “tarif resiprokal”.

Indeks Hang Seng Hong Kong menjadi salah satu yang terpukul paling parah, anjlok hampir 10 persen dalam sehari, mencatatkan penurunan terburuk dalam beberapa tahun terakhir. Kebijakan proteksionisme Trump ini tidak hanya mengguncang pasar Asia, tetapi juga memunculkan kekhawatiran akan dampaknya terhadap perekonomian global, termasuk Indonesia.

Lantas, bagaimana kebijakan ini memengaruhi Indonesia?

Tarif Trump dan Guncangan Pasar Global

Kebijakan tarif Trump bertujuan untuk mengurangi defisit perdagangan AS dengan menyetarakan tarif impor AS dengan tarif yang dikenakan oleh negara mitra dagang.

Indonesia, sebagai salah satu negara yang terkena tarif resiprokal sebesar 32 persen di atas tarif dasar 10 persen, menghadapi tekanan ekonomi yang tidak ringan.

Pengumuman ini memicu aksi jual besar-besaran di bursa saham global, dengan indeks Nikkei Jepang turun lebih dari 8 persen, ASX 200 Australia terkoreksi 6,3 persen, dan indeks saham utama Eropa seperti FTSE 100 dan DAX juga mencatatkan penurunan tajam.

Hong Kong, sebagai pusat keuangan Asia yang sensitif terhadap perubahan kebijakan perdagangan global, merasakan dampak paling keras.

Penurunan indeks Hang Seng dipicu oleh kekhawatiran investor terhadap sektor teknologi dan ekspor, yang bergantung besar pada pasar AS. Saham perusahaan seperti Lenovo bahkan anjlok hingga 7,5 persen karena tarif yang lebih tinggi akan meningkatkan biaya produksi dan mengurangi daya saing di pasar global.

Dampak pada Indonesia

Indonesia, meskipun belum merasakan guncangan langsung di pasar saham karena libur panjang Idulfitri, diperkirakan akan menghadapi tekanan signifikan saat Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali beroperasi.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi bakal melemah 2-3 persen pada pembukaan perdagangan pasca-libur, sejalan dengan sentimen negatif global. Berikut beberapa dampak yang mungkin dihadapi Indonesia:

Pelemahan Rupiah

Nilai tukar rupiah diperkirakan akan terus tertekan, berpotensi menembus level Rp17.000 per dolar AS. Tekanan ini diperparah oleh sentimen negatif domestik, seperti isu kebijakan populis dan capital outflow yang telah mencapai Rp29,92 triliun sejak awal 2025. Pelemahan rupiah akan meningkatkan biaya impor, terutama untuk bahan baku industri, dan memicu kenaikan harga barang di dalam negeri.

Penurunan Ekspor

Tarif 32 persen yang dikenakan AS terhadap Indonesia akan berdampak pada sektor ekspor utama, seperti tekstil, pakaian jadi, mesin, dan perlengkapan elektrik, yang pada 2024 menyumbang miliaran dolar ke pasar AS. Dengan tarif yang lebih tinggi, produk Indonesia akan kehilangan daya saing, yang dapat menyebabkan penurunan pesanan dari brand internasional dan memukul industri padat karya.

Ancaman PHK dan Penurunan Produksi

Industri yang bergantung pada ekspor ke AS, seperti otomotif dan elektronik, berisiko mengurangi kapasitas produksi atau bahkan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK). Apindo mencatat sudah ada 40.000 pekerja yang terkena PHK pada Januari-Februari 2025, dan angka ini bisa bertambah jika tekanan perdagangan terus berlanjut.

Ketidakpastian di Pasar Modal

Investor asing kemungkinan akan terus melepas saham-saham Indonesia, terutama di sektor perbankan dan blue chip, memperburuk penurunan IHSG.

Ketidakpastian global juga dapat mendorong investor beralih ke aset aman seperti emas atau obligasi pemerintah AS, mengurangi aliran modal ke pasar emerging seperti Indonesia.

Hubungi kami sekarang…

 

Artikel Terbaru

Kebakaran Hutan Besar di Prancis dan Spanyol Paksa Lebih dari 300.000 Orang Mengungsi

INNNEWS – Kebakaran hutan yang dahsyat terus melanda wilayah barat daya Prancis dan beberapa...

Misteri Ijazah Jokowi Kembali Menguap, Ada yang Sengaja Biarkan Terus Dibicarakan?

INNNEWS – Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Timur yang mengabulkan eksepsi Dokter Tifauzia Tyassuma alias Dokter...

Piala Dunia 2026 Pecahkan Rekor Gila: 6,25 Juta Penonton di Stadion & 5 Miliar Orang Saksikan di Layar!

INNNEWS – Piala Dunia FIFA 2026 bukan sekadar turnamen sepak bola biasa. Ajang yang digelar...

Konflik AS-Iran Memanas Lagi: Iran Tutup Selat Hormuz, AS Balas Serangan, Harga Minyak Melonjak

INNNEWS – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memuncak pada 13 Juli 2026. Iran...

artikel yang mirip

Kebakaran Hutan Besar di Prancis dan Spanyol Paksa Lebih dari 300.000 Orang Mengungsi

INNNEWS – Kebakaran hutan yang dahsyat terus melanda wilayah barat daya Prancis dan beberapa...

Misteri Ijazah Jokowi Kembali Menguap, Ada yang Sengaja Biarkan Terus Dibicarakan?

INNNEWS – Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Timur yang mengabulkan eksepsi Dokter Tifauzia Tyassuma alias Dokter...

Piala Dunia 2026 Pecahkan Rekor Gila: 6,25 Juta Penonton di Stadion & 5 Miliar Orang Saksikan di Layar!

INNNEWS – Piala Dunia FIFA 2026 bukan sekadar turnamen sepak bola biasa. Ajang yang digelar...