HomeHeadlineSiswa Sekolah Rakyat Keluhkan Sakit Perut, Mensos: Mungkin Belum Terbiasa Makan Enak

Siswa Sekolah Rakyat Keluhkan Sakit Perut, Mensos: Mungkin Belum Terbiasa Makan Enak

Published on

spot_img

 1,438 total views

INN NEWS – Program makan bergizi gratis (MBG) yang digulirkan pemerintah untuk siswa Sekolah Rakyat (Sera) memicu keluhan dari sejumlah siswa di berbagai daerah.

Banyak siswa mengeluhkan sakit perut setelah mengonsumsi makanan yang disediakan.

Menanggapi hal ini, Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf menyatakan bahwa keluhan tersebut mungkin disebabkan karena siswa belum terbiasa mengonsumsi makanan bergizi berkualitas tinggi.

“Mungkin mereka belum terbiasa makan enak. Tubuhnya perlu adaptasi dengan asupan gizi yang lebih baik,” ujar Saifullah di Jakarta, Selasa (5/8/2025).

Keluhan Siswa dan Respons Pemerintah

Program MBG, yang merupakan salah satu janji kampanye Presiden Prabowo Subianto, resmi diluncurkan pada awal Agustus 2025 di sejumlah Sekolah Rakyat di Indonesia.

Program ini bertujuan meningkatkan gizi anak-anak dari keluarga kurang mampu dengan menyediakan makanan sehat gratis di sekolah.

Namun, sepekan setelah pelaksanaan, laporan keluhan sakit perut mulai bermunculan, terutama dari siswa di daerah pedesaan.

Berdasarkan laporan dari beberapa sekolah di Jawa Tengah dan Sumatra Utara, siswa mengalami gejala seperti mual, kembung, hingga diare ringan setelah menyantap makanan dari program MBG.

Orang tua siswa pun menyuarakan kekhawatiran, mempertanyakan kualitas dan keamanan makanan yang disediakan. “Anak saya bilang perutnya mules setelah makan di sekolah. Padahal makanannya kelihatan bagus, ada nasi, ayam, dan sayur,” ujar Siti, wali murid dari sebuah Sekolah Rakyat di Medan.

Menanggapi keluhan ini, Mensos Saifullah menjelaskan bahwa makanan yang disediakan telah melalui proses pengawasan ketat oleh Kementerian Kesehatan dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Ia menduga keluhan sakit perut terjadi karena perubahan pola makan yang drastis.

“Makanan di program ini dirancang dengan standar gizi tinggi, seperti protein dari daging atau telur, sayuran segar, dan karbohidrat seimbang. Bagi anak-anak yang biasanya makan lebih sederhana, tubuh mereka mungkin perlu waktu untuk menyesuaikan,” katanya.

Tanggapan Pakar dan Kritik Publik

Pernyataan Mensos menuai beragam reaksi. Pakar gizi dari Universitas Gadjah Mada, Dr. Nurul Hidayah, menyatakan bahwa keluhan sakit perut bisa saja terjadi akibat perubahan pola makan, terutama jika siswa sebelumnya jarang mengonsumsi makanan kaya serat atau protein tinggi.

Namun, ia menegaskan pentingnya pemeriksaan menyeluruh terhadap rantai distribusi makanan, termasuk cara penyimpanan dan pengolahan, untuk memastikan tidak ada kontaminasi atau kesalahan penanganan.

“Adaptasi tubuh memang mungkin, tapi pemerintah harus memastikan makanan yang sampai ke anak-anak aman dan higienis,” ujar Nurul.

Sementara itu, kritik juga datang dari sejumlah aktivis pendidikan. Koordinator Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), Ubaid Matraji, menyebut pernyataan Mensos terkesan meremehkan kekhawatiran masyarakat.

 “Mengatakan ‘belum terbiasa makan enak’ itu tidak menjawab akar masalah. Pemerintah harus transparan soal proses pengadaan makanan dan menyelidiki penyebab keluhan ini, bukan malah membuat asumsi,” tegasnya.

Ia juga mendesak pemerintah untuk melibatkan ahli gizi dan tenaga kesehatan di sekolah untuk memantau dampak program MBG.

Tindak Lanjut Pemerintah

Kementerian Sosial berjanji akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan program MBG.

Saifullah menyatakan bahwa timnya akan bekerja sama dengan Dinas Kesehatan daerah untuk memeriksa kondisi siswa yang mengeluh sakit dan mengevaluasi menu yang disediakan.

“Kami akan cek apakah ada masalah di pengolahan atau distribusi. Kalau memang ada yang salah, akan kami perbaiki secepatnya,” ungkapnya.

Selain itu, pemerintah berencana menggelar sosialisasi kepada orang tua dan guru untuk menjelaskan manfaat program MBG serta cara membantu siswa beradaptasi dengan pola makan baru.

Beberapa sekolah juga mulai melibatkan tenaga kesehatan untuk memantau kondisi siswa selama masa transisi program ini.

 

Artikel Terbaru

Gudang Ekspedisi di Depok Terbakar, Percikan Api Mirip Pesta Kembang Api Gegerkan Warga

INNNEWS-Depok – Sebuah gudang ekspedisi di kawasan Jalan Proklamasi, Sukmajaya, Kota Depok, dilaporkan terbakar...

Dunia Tidak Baik-baik Saja, Bos BI Ungkap 3 Tantangan Besar Ekonomi Indonesia

INNNEWS – Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, mengingatkan bahwa kondisi ekonomi global saat ini sedang...

Harga Sembako Naik-Turun di April 2026: Stok Minyak Goreng Jadi Kekhawatiran Pedagang

INNNEWS - Memasuki bulan April 2026, kondisi harga kebutuhan pokok masyarakat (sembako) di tingkat...

Abraham Accords Menyelamatkan Nyawa: Israel Kirim Iron Dome dan Pasukan IDF ke Abu Dhabi untuk Lindungi UAE dari Serangan Iran

INNNEWS – Dalam langkah bersejarah dan belum pernah terjadi sebelumnya, Israel mengerahkan baterai sistem...

artikel yang mirip

Gudang Ekspedisi di Depok Terbakar, Percikan Api Mirip Pesta Kembang Api Gegerkan Warga

INNNEWS-Depok – Sebuah gudang ekspedisi di kawasan Jalan Proklamasi, Sukmajaya, Kota Depok, dilaporkan terbakar...

Dunia Tidak Baik-baik Saja, Bos BI Ungkap 3 Tantangan Besar Ekonomi Indonesia

INNNEWS – Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, mengingatkan bahwa kondisi ekonomi global saat ini sedang...

Harga Sembako Naik-Turun di April 2026: Stok Minyak Goreng Jadi Kekhawatiran Pedagang

INNNEWS - Memasuki bulan April 2026, kondisi harga kebutuhan pokok masyarakat (sembako) di tingkat...