38 total views
INNNEWS – Wabah Ebola yang sedang berlangsung di Republik Demokratik Kongo (DR Congo) resmi menjadi yang paling mematikan dalam sejarah negara tersebut. Data terbaru dari Institut Kesehatan Masyarakat DR Congo menunjukkan jumlah korban meninggal dunia telah mencapai 2.325 orang, melampaui rekor wabah 2018–2020 yang menewaskan 2.299 jiwa.
Hingga laporan terakhir (pertengahan Agustus 2026), tercatat 4.945 kasus terkonfirmasi, termasuk ratusan kasus baru dalam hitungan hari. Tingkat kematian (case fatality rate) kini mencapai sekitar 46–47 persen, artinya hampir satu dari dua pasien yang terinfeksi berakhir meninggal dunia.
Penyebaran Sangat Cepat
Wabah ini, yang merupakan wabah Ebola ke-17 di DR Congo, pertama kali dinyatakan secara resmi pada 15 Mei 2026. Namun, analisis genetik menunjukkan virus telah beredar sejak Februari. Virus yang bertanggung jawab adalah strain Bundibugyo, jenis Ebola yang relatif jarang dan belum memiliki vaksin atau pengobatan resmi yang disetujui.
Menurut pejabat PBB dan WHO, wabah ini merupakan yang tercepat penyebarannya dalam sejarah. “Epidemi ini membunuh seseorang setiap 30 menit,” kata Tom Fletcher, Kepala Urusan Kemanusiaan PBB. WHO menyebut laju transmisi “luar biasa” dan memperingatkan bahwa virus masih “berlari lebih cepat” daripada respons penanganan.
Provinsi Ituri di timur DR Congo menjadi pusat wabah, menyumbang sebagian besar kasus dan kematian. Virus telah menyebar ke enam dari 26 provinsi di negara itu. Konflik bersenjata, pergerakan penduduk, infrastruktur kesehatan yang lemah, serta ketidakpercayaan masyarakat terhadap otoritas menjadi faktor utama yang menghambat penanganan.
Tantangan Besar
Lebih dari 70 persen kematian terjadi di komunitas, bukan di pusat perawatan, karena banyak pasien terlambat atau tidak mampu mengakses fasilitas kesehatan. Tenaga medis juga terdampak: setidaknya 155 petugas kesehatan terinfeksi, dengan 45 di antaranya meninggal dunia.
Saat ini, sekitar 730 pasien masih dirawat di isolasi atau rumah sakit, sementara lebih dari 1.000 orang telah sembuh. Uji coba vaksin untuk strain Bundibugyo sedang berlangsung, termasuk yang menggunakan teknologi mirip vaksin AstraZeneca Covid-19.
Respons Internasional
PBB telah mengalokasikan puluhan juta dolar untuk mendukung respons. WHO dan mitra internasional memperluas upaya surveilans, isolasi, dan pelacakan kontak. Negara tetangga seperti Uganda, Sudan Selatan, dan Afrika Tengah memperkuat kewaspadaan perbatasan.
Wabah ini kini menjadi yang kedua paling mematikan di dunia setelah epidemi Afrika Barat 2014–2016 yang menewaskan lebih dari 11.000 orang. Namun, dengan kecepatan penyebaran saat ini, para ahli memperingatkan bahwa jumlah korban di DR Congo berpotensi terus meningkat jika respons tidak segera ditingkatkan secara signifikan.
Pihak berwenang DR Congo dan komunitas internasional terus menyerukan solidaritas global untuk menghentikan penyebaran virus sebelum situasi semakin memburuk.


