43 total views
INNNEWS — Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) menilai kematian 108 warga di lokasi pengungsian pasca gempa bumi Nusa Tenggara Timur (NTT) sebagai bukti kegagalan negara dalam melindungi penyintas bencana.
Berdasarkan catatan WALHI hingga 25 September 2026, sedikitnya 156 orang meninggal dunia sejak gempa Magnitudo 7,7 melanda Pulau Flores pada 15 Agustus 2026. Dari jumlah tersebut, 48 orang meninggal akibat dampak langsung gempa, sementara 108 lainnya meninggal ketika berada di tenda dan lokasi pengungsian.
Kepala Divisi Penguatan Organisasi WALHI Nasional, Umbu Wulang Tanaamah Paranggi, menegaskan bahwa angka tersebut menunjukkan ancaman terbesar bagi warga tidak berhenti ketika guncangan gempa berakhir.
Justru setelah berhasil selamat dari bencana, ratusan ribu warga harus menghadapi kondisi pengungsian yang tidak mampu menjamin keselamatan dan pemenuhan kebutuhan dasar mereka.
Ketika mereka meninggal di pengungsian, maka yang harus dievaluasi adalah sistem perlindungan negara, bukan kondisi para korban,” tegas Umbu Wulang.
WALHI mencatat hingga saat ini masih terdapat sekitar 46.461 warga yang mengungsi dan lebih dari 103 ribu rumah mengalami kerusakan.
Bersama relawan, WALHI mendampingi sekitar 450 titik pengungsian mandiri yang belum seluruhnya terjangkau layanan pemerintah..


