HomeGlobalIndeks Saham Hong Kong Anjlok Hampir 10 Persen Imbas Tarif Trump, Indonesia...

Indeks Saham Hong Kong Anjlok Hampir 10 Persen Imbas Tarif Trump, Indonesia Gimana?

Published on

spot_img

 1,674 total views

INN INTERNASIONAL – Pasar saham global kembali didera gejolak signifikan setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan kebijakan tarif impor baru yang disebut sebagai “tarif resiprokal”.

Indeks Hang Seng Hong Kong menjadi salah satu yang terpukul paling parah, anjlok hampir 10 persen dalam sehari, mencatatkan penurunan terburuk dalam beberapa tahun terakhir. Kebijakan proteksionisme Trump ini tidak hanya mengguncang pasar Asia, tetapi juga memunculkan kekhawatiran akan dampaknya terhadap perekonomian global, termasuk Indonesia.

Lantas, bagaimana kebijakan ini memengaruhi Indonesia?

Tarif Trump dan Guncangan Pasar Global

Kebijakan tarif Trump bertujuan untuk mengurangi defisit perdagangan AS dengan menyetarakan tarif impor AS dengan tarif yang dikenakan oleh negara mitra dagang.

Indonesia, sebagai salah satu negara yang terkena tarif resiprokal sebesar 32 persen di atas tarif dasar 10 persen, menghadapi tekanan ekonomi yang tidak ringan.

Pengumuman ini memicu aksi jual besar-besaran di bursa saham global, dengan indeks Nikkei Jepang turun lebih dari 8 persen, ASX 200 Australia terkoreksi 6,3 persen, dan indeks saham utama Eropa seperti FTSE 100 dan DAX juga mencatatkan penurunan tajam.

Hong Kong, sebagai pusat keuangan Asia yang sensitif terhadap perubahan kebijakan perdagangan global, merasakan dampak paling keras.

Penurunan indeks Hang Seng dipicu oleh kekhawatiran investor terhadap sektor teknologi dan ekspor, yang bergantung besar pada pasar AS. Saham perusahaan seperti Lenovo bahkan anjlok hingga 7,5 persen karena tarif yang lebih tinggi akan meningkatkan biaya produksi dan mengurangi daya saing di pasar global.

Dampak pada Indonesia

Indonesia, meskipun belum merasakan guncangan langsung di pasar saham karena libur panjang Idulfitri, diperkirakan akan menghadapi tekanan signifikan saat Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali beroperasi.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi bakal melemah 2-3 persen pada pembukaan perdagangan pasca-libur, sejalan dengan sentimen negatif global. Berikut beberapa dampak yang mungkin dihadapi Indonesia:

Pelemahan Rupiah

Nilai tukar rupiah diperkirakan akan terus tertekan, berpotensi menembus level Rp17.000 per dolar AS. Tekanan ini diperparah oleh sentimen negatif domestik, seperti isu kebijakan populis dan capital outflow yang telah mencapai Rp29,92 triliun sejak awal 2025. Pelemahan rupiah akan meningkatkan biaya impor, terutama untuk bahan baku industri, dan memicu kenaikan harga barang di dalam negeri.

Penurunan Ekspor

Tarif 32 persen yang dikenakan AS terhadap Indonesia akan berdampak pada sektor ekspor utama, seperti tekstil, pakaian jadi, mesin, dan perlengkapan elektrik, yang pada 2024 menyumbang miliaran dolar ke pasar AS. Dengan tarif yang lebih tinggi, produk Indonesia akan kehilangan daya saing, yang dapat menyebabkan penurunan pesanan dari brand internasional dan memukul industri padat karya.

Ancaman PHK dan Penurunan Produksi

Industri yang bergantung pada ekspor ke AS, seperti otomotif dan elektronik, berisiko mengurangi kapasitas produksi atau bahkan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK). Apindo mencatat sudah ada 40.000 pekerja yang terkena PHK pada Januari-Februari 2025, dan angka ini bisa bertambah jika tekanan perdagangan terus berlanjut.

Ketidakpastian di Pasar Modal

Investor asing kemungkinan akan terus melepas saham-saham Indonesia, terutama di sektor perbankan dan blue chip, memperburuk penurunan IHSG.

Ketidakpastian global juga dapat mendorong investor beralih ke aset aman seperti emas atau obligasi pemerintah AS, mengurangi aliran modal ke pasar emerging seperti Indonesia.

Hubungi kami sekarang…

 

Artikel Terbaru

Sidang Putusan Terdakwa Kasus Korupsi LPEI Rp 1,8 Triliun Digelar 22 Juni

INNNEWS – Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta dijadwalkan menggelar sidang putusan terhadap para terdakwa...

BREAKING NEWS!! Istana Terguncang: IHSG Anjlok 4,9%, Rupiah Tembus Rp17.930 per Dolar AS di Tengah Skandal Korupsi BGN

INNNEWS — Istana Kepresidenan menghadapi tekanan berat setelah pasar keuangan Indonesia mengalami gejolak tajam bersamaan...

Nanik S Deyang Pimpin BGN, Publik Kembali Soroti Jejak Kasus Hoaks Ratna Sarumpaet

INNNEWS– Presiden Prabowo Subianto resmi menunjuk Nanik S Deyang sebagai Kepala Badan Gizi Nasional...

AI Forward Deployed Engineer: Profesi Baru yang Muncul di Era Kecerdasan Buatan

INNNEWS– Perkembangan kecerdasan buatan (AI) tidak hanya mengubah cara perusahaan bekerja, tetapi juga melahirkan...

artikel yang mirip

Sidang Putusan Terdakwa Kasus Korupsi LPEI Rp 1,8 Triliun Digelar 22 Juni

INNNEWS – Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta dijadwalkan menggelar sidang putusan terhadap para terdakwa...

BREAKING NEWS!! Istana Terguncang: IHSG Anjlok 4,9%, Rupiah Tembus Rp17.930 per Dolar AS di Tengah Skandal Korupsi BGN

INNNEWS — Istana Kepresidenan menghadapi tekanan berat setelah pasar keuangan Indonesia mengalami gejolak tajam bersamaan...

Nanik S Deyang Pimpin BGN, Publik Kembali Soroti Jejak Kasus Hoaks Ratna Sarumpaet

INNNEWS– Presiden Prabowo Subianto resmi menunjuk Nanik S Deyang sebagai Kepala Badan Gizi Nasional...