2,975 total views
INN NEWS – Konflik antara Iran dan Israel telah menjadi salah satu isu geopolitik paling kompleks dan berlarut-larut di Timur Tengah, dengan akar sejarah yang panjang dan dinamika yang terus berkembang.
Ketegangan yang kembali memanas, terutama sejak eskalasi serangan rudal dan udara pada Juni 2025, tidak hanya mengancam stabilitas regional tetapi juga memicu bahaya laten yang lebih dalam: konflik identitas dan propaganda perang yang memperparah polarisasi antara kubu pro-Iran dan pro-Israel.
Fenomena ini berpotensi mengguncang tatanan sosial, ekonomi, dan politik global, termasuk di Indonesia, jika tidak diwaspadai dan dimitigasi dengan bijak.
Akar Konflik Identitas dalam Perseteruan Iran-Israel
Konflik Iran-Israel tidak hanya tentang persaingan militer atau geopolitik, tetapi juga pertarungan ideologi dan identitas yang mengakar kuat.
Iran, sejak Revolusi Islam 1979 di bawah Ayatollah Khomeini, memposisikan diri sebagai benteng anti-imperialisme Barat dan pendukung perjuangan Palestina, dengan narasi Syiah yang kuat sebagai identitas nasional.
Sementara itu, Israel, yang didukung oleh kekuatan Barat, khususnya Amerika Serikat, memandang dirinya sebagai negara Yahudi yang mempertahankan eksistensi di tengah ancaman regional, dengan narasi keamanan nasional yang berfokus pada ancaman nuklir Iran dan proksi-proksinya seperti Hezbollah dan Hamas.
Identitas nasional yang saling bertentangan ini telah menciptakan polarisasi tajam, tidak hanya di antara kedua negara tetapi juga di antara komunitas global.
Baca juga:
Selain Hancurkan Nuklir, Benarkah Netanyahu Mau Bebaskan Rakyat Iran dari Rezim Jahat?
Kubu pro-Iran sering kali memandang Israel sebagai simbol imperialisme dan penjajahan, sementara kubu pro-Israel melihat Iran sebagai ancaman eksistensial yang mendukung terorisme.
Polarisasi ini diperparah oleh narasi keagamaan, etnis, dan politik yang dimanfaatkan untuk memperkuat loyalitas masing-masing kubu.
Bahaya Laten Propaganda Perang
Propaganda perang menjadi alat ampuh dalam konflik ini, baik oleh Iran maupun Israel, untuk membentuk opini publik dan memperkuat legitimasi tindakan mereka.
Israel, misalnya, mengklaim serangan udara besar-besaran pada Juni 2025 sebagai “serangan pencegahan” untuk menghentikan program nuklir Iran yang dianggap melanggar Perjanjian Non-Proliferasi Senjata Nuklir (NPT), meskipun Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) menyatakan klaim ini tidak terbukti.
Di sisi lain, Iran menggunakan retorika keras, seperti pernyataan Ayatollah Ali Khamenei yang menyebut Israel sebagai “tumor kanker” yang harus dihancurkan, untuk memobilisasi dukungan domestik dan regional.
Propaganda ini tidak hanya memperdalam kebencian antar-kubu tetapi juga menyebarkan disinformasi yang memperkeruh situasi.
Misalnya, narasi spekulatif di media sosial, seperti klaim bahwa Iran dan Israel “bersekongkol” atau “bersandiwara” dalam konflik ini, meskipun tidak memiliki dasar empiris, dapat memicu kebingungan dan ketidakpercayaan publik terhadap informasi resmi.
Media pemerintah Iran juga mengklaim berhasil menembak jatuh jet tempur F-35 Israel, sebuah narasi yang belum terverifikasi tetapi dapat memicu euforia di kalangan pendukungnya.
Polarisasi Global dan Dampaknya
Polarisasi pro-Iran dan pro-Israel telah meluas ke ranah global, termasuk melalui platform media sosial seperti X, di mana narasi-narasi ekstrem sering kali mendominasi diskusi.
Komunitas internasional terbelah: sebagian mendukung Israel karena aliansi dengan Barat, sementara yang lain bersimpati pada Iran karena narasi anti-imperialisme atau solidaritas dengan Palestina.
Di Indonesia, polarisasi ini terlihat dalam diskusi publik yang sering kali emosional, terutama terkait isu Palestina, yang menjadi sentral dalam konflik ini.
Bahaya laten dari polarisasi ini adalah munculnya konflik identitas di tingkat lokal, yang dapat memicu ketegangan sosial.
Di Indonesia, misalnya, sentimen pro-Palestina yang kuat dapat memunculkan narasi anti-Israel yang ber sometimes berlebihan, bahkan menjurus pada anti-Semit, yang berpotensi memecah belah masyarakat.
Sebaliknya, dukungan terhadap Israel di kalangan tertentu dapat memicu tuduhan sebagai “antek Barat,” yang juga memperkeruh kohesi sosial.
Dampak Ekonomi dan Keamanan
Eskalasi konflik Iran-Israel memiliki dampak langsung terhadap ekonomi global, terutama karena posisi strategis Timur Tengah dalam pasokan minyak. Iran, sebagai salah satu produsor minyak terbesar, dan Selat Hormuz, yang mengangkut 20-30% pasokan minyak dunia, menjadi titik kritis.
Gangguan akibat konflik dapat menyebabkan lonjakan harga minyak, yang berdampak pada inflasi dan pelemahan nilai tukar di negara-negara seperti Indonesia.
Penutupan wilayah udara di sejumlah negara Timur Tengah dan pembatalan rute penerbangan juga mengganggu konektivitas global, seperti yang dialami 42 WNI yang terjebak di Tel Aviv akibat penutupan Bandara Ben Gurion.
Dari sisi keamanan, konflik ini meningkatkan risiko perang regional yang melibatkan proksi Iran seperti Hezbollah dan Houthi, serta sekutu Israel seperti AS.
Ancaman Iran untuk menyerang pangkalan militer AS jika konflik berlanjut menambah ketegangan global. Selain itu, serangan terhadap fasilitas nuklir Iran, seperti Natanz dan Isfahan, memicu kekhawatiran akan perlombaan senjata nuklir di kawasan.
Strategi Mitigasi dan Peran Indonesia
Untuk mengantisipasi bahaya laten konflik identitas dan propaganda perang, diperlukan langkah-langkah strategis.
Pendidikan Literasi Media: Masyarakat perlu dididik untuk memverifikasi informasi dan menghindari jebakan propaganda. Pemerintah dan lembaga pendidikan dapat mengampanyekan literasi digital untuk mencegah penyebaran disinformasi.
Diplomasi Multilateral: Indonesia, dengan posisinya sebagai negara netral dan berpengaruh di dunia Islam, harus terus mendorong penyelesaian konflik melalui forum seperti PBB. Fokus pada isu Palestina sebagai akar konflik dapat membantu meredakan ketegangan.
Stabilitas Ekonomi: Pemerintah Indonesia perlu memperkuat cadangan devisa dan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah untuk mengantisipasi guncangan ekonomi akibat kenaikan harga minyak.
Dialog Antar-Komunitas: Untuk mencegah polarisasi di dalam negeri, dialog antar-kelompok dengan pandangan berbeda perlu difasilitasi untuk membangun pemahaman bersama dan mengurangi ketegangan sosial.
Konflik Iran-Israel bukan hanya pertarungan militer, tetapi juga perang identitas dan narasi yang memperdalam polarisasi global.
Propaganda perang yang dimainkan kedua belah pihak berpotensi memicu konflik sosial, ketidakstabilan ekonomi, dan eskalasi keamanan yang lebih luas.
Indonesia, sebagai negara yang rentan terhadap dampak ekonomi dan polarisasi sosial, harus waspada terhadap bahaya laten ini.
Dengan memperkuat literasi media, mendorong diplomasi, dan menjaga stabilitas domestik, Indonesia dapat berperan sebagai penyeimbang sekaligus melindungi kepentingan nasionalnya di tengah ketegangan global yang kian memanas.


