HomeTrendingPotret Gen Z dalam Gelombang Demo di Indonesia dan Nepal

Potret Gen Z dalam Gelombang Demo di Indonesia dan Nepal

Published on

spot_img

 2,531 total views

INN NEWS – Gelombang demo terbaru di Indonesia dan Nepal pada 2025 menunjukkan peran signifikan Generasi Z (Gen Z). Gen Z yang umumnya lahir antara 1997-2012, menjadi motor utama penggerak demo.

Mereka memanfaatkan media sosial untuk mobilisasi dan menyuarakan kristik.

Di kedua negara, demo ini mencerminkan ketidakpuasan pemuda terhadap korupsi, kebijakan ekonomi, dan kemunduran demokrasi, dengan Gen Z sering digambarkan sebagai “generasi TikTok” yang kreatif tapi berhadapan dengan respons represif dari pemerintah.

Di Nepal

Demo besar-besaran pecah pada awal September 2025, dipimpin oleh Gen Z yang menuntut akhir korupsi, nepotisme, dan tata kelola buruk di bawah Perdana Menteri KP Sharma Oli.

Protes dimulai sebagai gerakan anti-korupsi, tapi memuncak setelah pemerintah memberlakukan larangan pada 26 platform media sosial seperti Facebook, Instagram, X (Twitter), YouTube, dan TikTok pada akhir Agustus 2025, yang dianggap sebagai upaya sensor untuk membungkam suara pemuda.

Gen Z, yang tech-savvy dan aktif di media sosial, menjadi ujung tombak: mereka mengorganisir melalui Instagram (seperti halaman Gen Z Nepal) dan aplikasi lain sebelum banned, kemudian beralih ke protes jalanan di Kathmandu serta kota-kota lain seperti Pokhara dan Biratnagar.

Puncak kekerasan terjadi pada 8 September 2025, ketika bentrokan dengan polisi dan militer menewaskan setidaknya 19 orang (termasuk anak-anak dan remaja), melukai lebih dari 300, dan menyebabkan parlemen diserbu.

Meski pemerintah mencabut ban media sosial dan memberlakukan jam malam tak terbatas di Kathmandu, protes berlanjut, dengan Gen Z menyerukan perubahan kepemimpinan total dan akuntabilitas atas kekerasan negara.

Banyak media internasional salah membingkai ini sebagai “protes ban media sosial” semata, padahal akarnya adalah frustrasi pemuda atas pengangguran, migrasi paksa ke luar negeri, dan korupsi sistemik.

Di X, narasi serupa muncul: pemuda disebut “Gen Z revolution” yang menuntut keadilan, dengan tagar seperti #NepalProtests dan #EndCorruptionNepal menyebar luas, meski ban menghambat.

Gen Z di Nepal mewakili sekitar 40% populasi muda, dan partisipasi mereka menyoroti pergeseran dari protes tradisional ke gerakan digital-hybrid, mirip dengan yang di Bangladesh atau Kenya.

Namun, korban jiwa—termasuk siswa SMA seperti Shriyam Chaulagai—menimbulkan kritik global dari organisasi seperti Amnesty International.

Di Indonesia

Gelombang demo dimulai sejak akhir Agustus 2025, dipicu oleh kemarahan atas kebijakan ekonomi, pemotongan anggaran, dan kemunduran demokrasi di bawah Presiden Prabowo Subianto.

Gen Z, yang diproyeksikan mencapai 27% tenaga kerja pada 2025, menjadi motor utama, sering disebut “generasi TikTok” yang menggunakan platform digital untuk koordinasi dan ekspresi kreatif seperti bendera, kembang api, serta resistensi anti-polisi.

Protes “Dark Indonesia” (Indonesia Gelap) sejak Februari 2025 fokus pada pemotongan anggaran nasional, peran militer dalam politik, dan undang-undang seperti UU TNI yang dianggap mengancam demokrasi.

Pada 1 September 2025, ratusan mahasiswa berkumpul di kota-kota besar seperti Jakarta, meski ada ketakutan represi setelah kerusuhan mematikan.

Demo berubah menjadi kerusuhan dengan gas air mata, pembakaran, dan korban tewas, mirip gejolak 1998 tapi didorong isu ekonomi seperti penurunan daya beli dan pengangguran.

Gen Z bergabung dengan koalisi mahasiswa, buruh, dan NGO, melakukan aksi online-offline sejak 2019, dengan tuntutan jangka pendek seperti reformasi anggaran.

Di X, diskusi mencakup inspirasi ke Nepal, dengan Gen Z digambarkan lucu tapi gigih, seperti nyalakan Strava saat kejar-kejaran polisi atau kritik moral.

Keterlibatan Gen Z mencerminkan kekhawatiran atas masa depan demokrasi dan ekonomi, dengan proyeksi Indonesia Emas 2045 dipertanyakan.

Meski ada kritik bahwa mereka “rusak moral” atau “terlalu TikTok-an,” partisipasi mereka menunjukkan peningkatan kesadaran politik.

Artikel Terbaru

Demo Berjilid di Indonesia Jadi Sorotan Media Korea, Warganet Keluhkan Liputan Lokal yang “Dibungkam”

INNNEWS– Sebuah video laporan media Korea Selatan yang membahas gelombang demonstrasi di Indonesia viral...

Kebakaran Hutan Besar di Prancis dan Spanyol Paksa Lebih dari 300.000 Orang Mengungsi

INNNEWS – Kebakaran hutan yang dahsyat terus melanda wilayah barat daya Prancis dan beberapa...

Misteri Ijazah Jokowi Kembali Menguap, Ada yang Sengaja Biarkan Terus Dibicarakan?

INNNEWS – Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Timur yang mengabulkan eksepsi Dokter Tifauzia Tyassuma alias Dokter...

Piala Dunia 2026 Pecahkan Rekor Gila: 6,25 Juta Penonton di Stadion & 5 Miliar Orang Saksikan di Layar!

INNNEWS – Piala Dunia FIFA 2026 bukan sekadar turnamen sepak bola biasa. Ajang yang digelar...

artikel yang mirip

Demo Berjilid di Indonesia Jadi Sorotan Media Korea, Warganet Keluhkan Liputan Lokal yang “Dibungkam”

INNNEWS– Sebuah video laporan media Korea Selatan yang membahas gelombang demonstrasi di Indonesia viral...

Kebakaran Hutan Besar di Prancis dan Spanyol Paksa Lebih dari 300.000 Orang Mengungsi

INNNEWS – Kebakaran hutan yang dahsyat terus melanda wilayah barat daya Prancis dan beberapa...

Misteri Ijazah Jokowi Kembali Menguap, Ada yang Sengaja Biarkan Terus Dibicarakan?

INNNEWS – Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Timur yang mengabulkan eksepsi Dokter Tifauzia Tyassuma alias Dokter...