18 total views
INNNEWS– Sebuah video laporan media Korea Selatan yang membahas gelombang demonstrasi di Indonesia viral di media sosial. Postingan akun @Novit_aa yang mengunggah video tersebut pada 21 Juli 2026 mendapat perhatian luas, dengan lebih dari 1 juta views, 70 ribu likes, dan 31 ribu repost.
Dalam caption-nya, pemilik akun menulis: “di bungkam oleh media lokal, di beritakan oleh global 🥀 Demo berjilid² tp g ada pejabat yg lengser, mereka buta, tuli dan tak punya empati…”
Video berdurasi sekitar lima menit tersebut menampilkan cuplikan aksi mahasiswa berjaket kuning yang berorasi di tengah kerumunan, grafik pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh kisaran Rp18.000 per dolar AS, pembahasan program Makan Bergizi Gratis (MBG), dugaan korupsi di lembaga terkait, hingga perbandingan dengan situasi ekonomi dan politik di era Soeharto. Laporan itu juga menyinggung keputusan lembaga pemeringkat Fitch yang menurunkan outlook Indonesia menjadi negatif.
Warganet yang mengomentari unggahan tersebut banyak menyuarakan kekecewaan serupa. Beberapa menyebut media lokal dinilai kurang memberi porsi pemberitaan mendalam terhadap aksi-aksi mahasiswa dan masyarakat, sementara media asing justru lebih aktif mengulas isu ekonomi, kebijakan anggaran, dan tuntutan demonstran.
Gelombang unjuk rasa yang dimaksud merujuk pada rangkaian aksi sejak Juni hingga Juli 2026. Mahasiswa dan elemen masyarakat sipil di berbagai kota, termasuk Jakarta, menyampaikan kritik terhadap kondisi ekonomi, pelemahan rupiah, pengelolaan anggaran negara, serta evaluasi program unggulan pemerintah. Meski aksi berlangsung berulang kali, hingga kini belum ada pejabat tinggi yang mengundurkan diri terkait tuntutan tersebut.
Pihak pemerintah sebelumnya sempat menanggapi demonstrasi dengan berbagai pernyataan, termasuk tuduhan adanya pihak yang mendanai aksi. Sementara itu, media internasional seperti AP News, Financial Times, dan sejumlah outlet regional Asia juga sempat memberitakan perkembangan unjuk rasa serta dampaknya terhadap sentimen pasar.
Fenomena viralnya laporan media Korea ini menjadi salah satu contoh bagaimana isu domestik Indonesia kini lebih mudah menyebar ke ruang publik global melalui media sosial, meski pemberitaan di dalam negeri tetap menjadi perdebatan di kalangan warganet.


