247 total views
INNNEWS – Menurut laporan kelompok lingkungan Auriga Nusantara yang dirilis Selasa (31 Maret 2026), deforestasi di Indonesia mengalami lonjakan dramatis sebesar 66% sepanjang tahun 2025. Luas hutan yang hilang mencapai 433.751 hektare (setara 4.338 km² atau hampir enam kali luas Singapura), naik tajam dari 261.575 hektare pada 2024.
Lonjakan ini disebut sebagai yang tertinggi dalam delapan tahun terakhir, didorong oleh perluasan pertambangan, perkebunan kelapa sawit, serta program ketahanan pangan dan energi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Hampir setengah dari lahan yang dibuka merupakan hutan alam, termasuk lahan gambut, yang diubah menjadi lahan pertanian pangan (seperti beras) dan bioenergi.
Wilayah yang paling terdampak meliputi Kalimantan, Sumatera, dan Papua. Auriga Nusantara menggunakan citra satelit berkualitas tinggi dan verifikasi lapangan di 49.000 hektare hutan di 16 provinsi untuk menyusun data ini.
Ketua Auriga, Timer Manurung, menyatakan bahwa perlindungan lingkungan yang lemah serta ambisi swasembada pangan dan energi menjadi faktor utama. Program Food and Energy Estate di Papua serta konversi hutan industri untuk biomassa turut berkontribusi signifikan.Kehilangan hutan tropis Indonesia ini menuai kritik keras karena berpotensi memperburuk banjir, longsor, serta ancaman terhadap biodiversitas dan target FOLU Net Sink 2030 (Forestry and Other Land Use – Jumlah Bersih Asap).
Indonesia dikenal sebagai salah satu penyerap karbon terbesar dunia, namun tren ini mengkhawatirkan para aktivis lingkungan.
Video udara yang beredar menunjukkan skala kerusakan yang masif, dengan overlay teks yang menghubungkan perluasan perkebunan sawit dengan peningkatan bencana alam.
Pemerintah belum memberikan tanggapan resmi atas laporan ini. Pantau terus perkembangan berita ini.
Sumber: Reuters, Auriga Nusantara, dan laporan terkait.


