244 total views
INNNEWS – Sebuah peristiwa tragis terjadi di Kabupaten Siak, Riau, ketika seorang siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) dilaporkan meninggal dunia saat mengikuti ujian praktik sains di sekolahnya. Korban berinisial MA (15), siswa kelas IX, tewas setelah senapan rakitan yang digunakannya dalam praktik tiba-tiba meledak.
Peristiwa tersebut terjadi pada Rabu, 8 April 2026, saat kegiatan ujian praktik mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) sedang berlangsung. Dalam kegiatan itu, siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok untuk mempresentasikan hasil karya sains yang telah mereka buat.
Saat giliran kelompok korban tampil, MA meminta teman-temannya untuk menjauh dari lokasi praktik. Ia kemudian memperagakan alat berupa senapan rakitan hasil karyanya sendiri. Namun nahas, ketika alat tersebut diuji coba, tiba-tiba terjadi ledakan keras yang disertai asap dan pecahan material yang berhamburan ke berbagai arah.
Ledakan tersebut menyebabkan korban mengalami luka serius di bagian kepala dan wajah akibat terkena pecahan senapan. Korban sempat dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis, namun nyawanya tidak tertolong.
Kepolisian dari Polres Siak yang menangani kasus ini telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan mengamankan sejumlah barang bukti. Benda yang digunakan dalam praktik tersebut akan diperiksa lebih lanjut di laboratorium forensik guna memastikan penyebab pasti ledakan.
Dari hasil penyelidikan awal, senapan rakitan itu diduga tersusun dari berbagai komponen seperti plastik, potongan besi, serta bahan berupa bubuk hitam. Namun, jenis dan kandungan bahan tersebut masih menunggu hasil uji laboratorium.
Pihak kepolisian juga mengimbau masyarakat untuk tidak berspekulasi terkait penyebab kejadian sebelum hasil resmi keluar. Selain itu, kasus ini turut memunculkan perhatian serius terhadap aspek keamanan dalam kegiatan praktik sains di lingkungan sekolah, terutama yang melibatkan alat atau bahan berisiko tinggi.
Peristiwa ini meninggalkan duka mendalam bagi keluarga korban, pihak sekolah, serta masyarakat setempat. Diharapkan kejadian serupa tidak terulang dan menjadi evaluasi penting dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran di masa mendatang.


