41 total views
INNNEWS-Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Sugiono, secara resmi menanggapi masukan dan pandangan yang disampaikan mantan Wakil Menteri Luar Negeri, Dino Patti Djalal, terkait intensitas kunjungan kerja Presiden Prabowo Subianto ke luar negeri dalam kurun waktu satu setengah tahun terakhir . Dalam pernyataannya di sela-sela pertemuan bilateral dengan rekannya dari Madagaskar, Alice N’Diaye, di Jakarta, Rabu (3/6/2026), Sugiono menyambut baik berbagai pandangan yang berkembang di ruang publik, sepanjang hal tersebut disampaikan secara konstruktif dan didasari data yang akurat .
“Saran dan kritik untuk perbaikan itu hal yang sangat bagus dan baik. Tentu saja harus bersifat membangun, serta didasarkan pada fakta dan informasi yang benar,” ungkap Sugiono, menanggapi usulan agar lebih mengoptimalkan pertemuan secara maya atau daring demi efisiensi waktu dan biaya.
Meski mengakui kemajuan teknologi memudahkan komunikasi jarak jauh, Menteri Luar Negeri menegaskan bahwa diplomasi tingkat tinggi, khususnya yang melibatkan kepala negara atau kepala pemerintahan, memiliki karakteristik tersendiri yang tidak sepenuhnya bisa digantikan oleh percakapan lewat layar kaca. Ia menjelaskan bahwa pertemuan langsung memberikan keuntungan lebih besar, mulai dari kemampuan membaca bahasa tubuh, membangun kedekatan emosional, hingga membahas isu-isu yang lebih mendalam dan sensitif secara lebih leluasa.
“Sama seperti hubungan kita sehari-hari, berbicara lewat telepon saja rasanya pasti berbeda jika dibandingkan bertemu langsung. Saat bertatap muka, kita bisa menangkap nuansa, melihat ekspresi, dan menciptakan hubungan pribadi yang erat. Hal inilah yang membuka peluang untuk membicarakan lebih banyak hal secara terbuka dan saling percaya,” tambahnya .
Lebih lanjut, Sugiono menguraikan bahwa dinamika politik dan ekonomi dunia saat ini sedang berada dalam situasi yang tidak menentu, penuh ketidakpastian, serta berubah dengan sangat cepat. Kondisi demikian menuntut Indonesia tidak hanya diam menunggu di dalam negeri, melainkan harus aktif hadir dan ikut menentukan arah pergaulan internasional.
Rangkaian kunjungan luar negeri yang dilakukan Presiden Prabowo, menurutnya, telah membawa hasil nyata bagi kepentingan nasional, baik dalam bentuk perjanjian kerja sama ekonomi, investasi, maupun penguatan posisi tawar Indonesia dalam menyikapi berbagai isu strategis global. Kehadiran langsung pemimpin negara dianggap sebagai modal terkuat untuk memperlihatkan komitmen dan kesungguhan Indonesia dalam menjalin persahabatan dan kerja sama yang saling menguntungkan.
Pemerintah pun menyadari pentingnya keseimbangan antara efisiensi dan efektivitas. Namun, dalam diplomasi tingkat kepala negara, pertemuan tatap muka tetap menjadi instrumen utama yang memiliki nilai tambah yang sangat tinggi dan sulit digantikan metode lain, karena dampaknya yang terasa hingga ke jalinan hubungan jangka panjang antarnegara


