34 total views
INNNEWS – Harga minyak mentah dunia tetap bertahan di level tinggi pada Rabu, 16 September 2026. Minyak acuan Brent dan West Texas Intermediate (WTI) masih berada di atas US$105–108 per barel, meski sempat mengalami koreksi tipis di awal perdagangan.
Berdasarkan data pasar, harga minyak mentah Brent berjangka berada di kisaran US$107,8–108,1 per barel, sementara WTI berada di level sekitar US$104,8–105,5 per barel. Sehari sebelumnya (Selasa, 15 September), kedua acuan tersebut sempat melonjak tajam. Brent naik hampir 3 persen ke level US$108,75 per barel, dan WTI melonjak lebih dari 4 persen ke US$105,83 per barel—level tertinggi dalam empat bulan terakhir.
Kenaikan harga didorong oleh kekhawatiran gangguan pasokan dari Timur Tengah. Serangan terhadap infrastruktur minyak Arab Saudi, termasuk penutupan sementara pipa East-West yang menghubungkan wilayah produksi ke terminal ekspor Yanbu di Laut Merah, memicu pembatalan sejumlah pengiriman ke Eropa. Gangguan ini menambah tekanan di tengah konflik yang masih berlangsung di kawasan tersebut.
Selain itu, pasar juga mencermati data cadangan minyak Amerika Serikat. Laporan industri menunjukkan kenaikan stok minyak mentah AS yang lebih besar dari perkiraan, yang sempat menekan harga pada Rabu pagi. Meski demikian, risiko pasokan dari Timur Tengah tetap menjadi faktor pendukung utama yang menjaga harga tetap tinggi.
Analis menilai, selama gangguan pasokan belum mereda, harga minyak berpotensi bertahan di atas US$100 per barel. Beberapa lembaga bahkan memperkirakan harga bisa naik lebih tinggi jika eskalasi konflik terus berlanjut.
Bagi Indonesia, harga minyak yang tinggi berpotensi memengaruhi biaya energi dan inflasi, sekaligus memberikan dampak pada penerimaan negara dari sektor migas. Pemerintah dan pelaku pasar diperkirakan akan terus memantau perkembangan geopolitik serta data pasokan global dalam beberapa hari ke depan.


