22 total views
INNNEWS — Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga acuan untuk pertama kalinya dalam lebih dari tiga tahun. Keputusan diambil dalam rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada Rabu (16/9/2026).
The Fed menaikkan federal funds rate sebesar 25 basis poin atau seperempat poin persentase, dari kisaran 3,50–3,75 persen menjadi 3,75–4,00 persen. Keputusan ini disetujui secara bulat (12-0) oleh seluruh anggota komite.
Alasan Kenaikan
Ketua The Fed Kevin Warsh menyatakan bahwa inflasi masih terlalu tinggi dan telah berlangsung terlalu lama. “The plain fact is that inflation is too high and has been for too long,” kata Warsh dalam konferensi pers.
Dalam pernyataan resmi FOMC, The Fed menyebutkan bahwa aktivitas ekonomi masih tumbuh solid, pertumbuhan produktivitas kuat, dan investasi modal robust. Namun, inflasi tetap elevated. Kenaikan suku bunga ini diharapkan mendukung kembalinya inflasi ke target 2 persen secara lebih tepat waktu.
Latar Belakang
Kenaikan ini menjadi yang pertama sejak Juli 2023. Sebelumnya, The Fed sempat memangkas suku bunga pada Desember 2025 dan mempertahankannya di level sebelumnya hingga rapat September 2026.
Keputusan ini diambil di tengah tekanan dari Presiden Donald Trump yang berulang kali meminta The Fed untuk menurunkan suku bunga. Warsh, yang diangkat oleh Trump lebih awal tahun ini, tetap memilih fokus pada pengendalian inflasi.
Prospek ke Depan
Proyeksi terbaru The Fed (dot plot) menunjukkan mayoritas pejabat memperkirakan setidaknya satu kenaikan suku bunga lagi hingga akhir 2026. Beberapa bahkan melihat kemungkinan dua kali kenaikan.
Kenaikan suku bunga acuan biasanya berdampak pada biaya pinjaman, termasuk kredit rumah, mobil, dan kartu kredit. Sejumlah bank besar di AS, seperti JPMorgan, langsung menaikkan prime rate mereka menyusul keputusan The Fed.
Pasar keuangan merespons dengan hati-hati, sementara The Fed menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas harga.


