1,139 total views
INN INDONESIA – EKONOMI – Direktur Eksekutif Asosiasi Produsen Tepung Terigu Indonesia (Aptindo) Ratna Sari Loppies mengungkapkan, saat ini suplai gandum Indonesia aman, tidak terganggu oleh perang Rusia dan Ukraina.
Hal tersebut diungkapkan Ratna lantaran viralnya informasi harga mi instan yang naik tiga kali lipat dikarenakan harga gandum yang mahal. Namun PT Indofood kini menyebut informasi tersebut tidak benar.
Baca juga: Viral Mi Instan Naik 3 Kali Lipat, Indofood: Tidak Benar, Berlebihan!
Pasokan gandum ke Indonesia kata Ratna, banyak didatangkan dari Australia, Amerika, ataupun Kanada.
“Importir gandum ke Indonesia yang terbesar bukan Rusia. Yang besar itu dari Australia,” ungkap Ratna belum lama ini mengutip TribunNews.
Untuk mi instan sendiri, terdiri dari beragam komponen seperti gula, minyak, cabai, bawang, dan lain-lainnya. Belum lagi pada kemasannya terdapat komponen seperti plastik dan juga karton.
“Mi instan kalau naik kan tidak hanya terigu, dalam mi instan itu komponennya banyak seperti cabai, minyak, ada juga packaging,” ujarnya.
Dalam catatan Aptindo, harga tepung hanya berkontribusi sekitar 20 persen dari total biaya produksi mi instan. Ratna mengatakan kenaikan harga mi instan justru bisa akan berdampak langsung ke komoditas bahan pokok lainnya seperti cabai dan minyak goreng.
Sementara industri berbasis tepung yang lain seperti roti dan biskuit relatif aman.
“Karena di produk tersebut ada gula, mentega, susu, dan bahan lainnya, tidak melulu tepung terigu,” kata Ratna.
Ratna menilai kenaikan harga tepung terigu malah berdampak pada industri berbasis tepung berskala kecil dan menengah.
Beberapa industri tersebut di antaranya mi basah yang biasa dipasok untuk penjual mi ayam hingga kue tradisional.


