417 total views
SOLO – Hujan deras yang melanda Kota Solo, Jawa Tengah sejak Kamis, 16 Februari 2023 mengakibatkan banjir di 16 kelurahan dan 4 kecamatan serta berdampak bagi hampir 22 ribu jiwa. Sebanyak 3.898 jiwa terpaksa mengungsi ke tempat yang aman.
Namun Sabtu lalu banjir sudah surut dan aktivitas warga kembali normal.
Diungkapkan Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS), Maryadi, ada sejumlah faktor lain yang turut memicu terjadinya banjir di Kota Bengawan itu.
Faktor-faktor tersebut antara lain, ada banyak perubahan tata guna lahan, serta terjadi perubahan iklim atau climate change.
Ia juga menyoroti tentang agak berkurangnya kesadaran masyarakat terhadap lingkungan, seperti masih adanya perilaku warga yang suka buang sampah sembarangan.
Sejumlah upaya kata Maryadi telah dilakukan BBWSBS untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap lingkungan di antaranya dengan sosialisasi.
“Juga kadang banyak petani kita yang menanam tanaman semusim sehingga menyebabkan erosi, yang jadi pendangkalan sungai kita. Pendangkalan terjadi ketika erosi yang dibawa air hujan masuk ke sungai,” tuturnya.
Baca juga: Banjir di Joyotakan Solo Mulai Surut, Ular Piton Masuk Perumahan Warga
Penyebab lain banjir, berupa perubahan tata ruang kota yang pembangunannya sangat masiv, membuat air yang harusnya masuk ke tanah, beralih menjadi aliran permukaan. Sehingga beban sungai semakin bertambah.
Saat banjir itu, pihak BBWSBS sendiri telah melakukan berbagai upaya untuk menangani luapan air akibat hujan deras saat itu.
“Penanganan dari BBWSBS, kita sendiri memiliki 15 stasiun pompa termasuk pintu air. Ketika Sungai Bengawan Solo siaga merah kita langsung menutup pintu-pintu air kita dan memompa air yang berada di titik-titik banjir,” katanya.
Tercatat debit keluaran air yang dipompa dengan menggunakan pompa air BBWSBS ini sebesar 22.000 per detik dan itu terdiri atas 15 stasiun pompa, 4 pompa mobile atau mobile pump, dan 2 trailer pump dengan debit keluaran air sebesar 2500 per detik, ditambah pompa yang dioperasikan Dinas PUPR kota sebanyak 10 sebesar dengan keluaran 2000 liter per detik.
“Jadi kita (BBWSBS) sudah berusaha semaksimal mungkin. Teman-teman di lapangan seperti di stasiun pompa bahkan 3 hari 3 malam stand by, tidak pulang untuk mengendalikan air. Hingga Sabtu pagi sudah kering semua,” pungkasnya.


