HomeGaya HidupKemajuan Digital Memecah Belah Industri Musik?

Kemajuan Digital Memecah Belah Industri Musik?

Published on

spot_img

 314 total views

_x000D_
_x000D_
_x000D_
_x000D_
_x000D_

CompusicianNews.com – Industri – Digitasi musik telah membantu merevolusionalkan bisnis hiburan. Tapi kefrustrasian antara industri musik dan teknologi masih penuh dengan masalah musik streaming dan masa depan label rekaman yang menjadi bahan utama perdebatan.

_x000D_
_x000D_

Radiohead frontman, Thom Yorke, memperbaraui serangannya pada layanan musik streaming, Spotify, sebagai “keputusasaan dari bangkai yang sekarat” dan bagaimana mereka menghancurkan hubungannya dengan label-label besar.

_x000D_
_x000D_

Banyak pemegang hak paten telah melindungi produksi musik mereka, termasuk Yorke yang menyebutkan bahwa kerugian mereka karena layanan streaming yang diperoleh per lagu tidak sebesar dibanding jumlah yang dihasilkan dari pengunduhan.

_x000D_
_x000D_

Bagaimanapun, dalam pembelaannya, Spotify menunjukan bahwa mereka sudah membayar kepada pemegang hak paten sejumlah uang dan akan memberikan hasil keuntungan dari layanan ini untuk dikembalikan kepada industri musik.

_x000D_
_x000D_

Spotify juga berkata bahwa pembajakan telah berkurang hingga 25% sejak diluncurkan aplikasi mereka di Swedia 6 tahun yang lalu.

_x000D_
_x000D_

Band asal Inggris, Keane yang sudah berkarir di industri musik selama kurang lebih 10 tahun tidak melihat hal ini sebagai suatu masalah.

_x000D_
_x000D_

Vokalis Keane, Tom Chaplin, berkata “Itu hanyalah dunia dimana kita tinggal. Saya rasa orang-orang suka memilih-milih musik dan saya pun melakukannya. Saya selalu membuat playlist dari lagu-lagu yang saya gemari, kapanpun dari album-album saya yang berbeda”.

_x000D_
_x000D_

Pianis Keane, Tim Rice Oxley, juga tidak begitu khawatir. Ia menyebutkan, “Menurut saya konser musik adalah hal yang paling berharga dalam musik. Ini adalah sesuatu yang tidak dapat ditiru atau dibajak dengan teknologi apapun”.

_x000D_
_x000D_

Disamping tantangan yang sedang berjalan, banyak kalangan dalam industri musik berargumen mengenai kemajuan digital yang lebih konstruktif daripada destruktif. Kemajuan digital ini dapat mengembangkan bakat artis-artis pendatang baru untuk dapat bangkit dan tersohor tanpa bantuan label besar dan hal ini merupakan kehancuran untuk struktur hirarki yang masih tradisional, khususnya perusahaan label rekaman.

_x000D_
_x000D_

Echotape yang memilih sebagai band independen telah menjadi sorotan dengan bantuan media sosial, aplikasi gratis dan self-distribusi platform. Video pertama mereka telah dibayar sekitar Rp 800.000 untuk pertama kali saat ditayangkan.

_x000D_
_x000D_

“Saat memulainya, kami menyadari bahwa kami harus melakukan segala sesuatunya karena kami tidak akan langsung ke perusahaan label  dan meminta bantuan keuangan”, kata drummernya, Mike Bufford.

_x000D_
_x000D_

“Jadi kami semua menabung. Kami membeli iMac, kami memperoleh UAD (kartu yang digunakan untuk menjalankan audio plugin), speaker Genelec yang akan menghasilkan kualitas suara yang bagus yang kami butuhkan untuk rekaman. Kami tidak perlu harus membayar untuk menyewa studio,” pungkas Bufford.

_x000D_
_x000D_

Pemain bass, Dan Morris menambahka, “Semuanya tidak memerlukan biaya banyak, kami hanya bekerja lewat gadget-gadget dan media sosial.”

_x000D_
_x000D_

Dengan tool Sel-Distribution Platform ini dimana setiap orang dapat secara independen dapat melakukan produksi musik sendiri. Masa depan perusahaan label pun dipertanyakan dan kemungkinan banyak perusahaan label yang harus siap gulung tikar karena mereka tidak akan dipakai lagi.

_x000D_
_x000D_

Paul Smernicki, direktur Digital Universal Musik di UK mengakui tanda-tanda kehancuran perusahan label rekaman ini, namun dia berkata bahwa perusahan label tidak akan mati total jika mereka mampu berkompetisi. Mr. Smernicki juga berkata baru-baru ini, Universal, perusahan label yang dia pimpin telah meluncurkan layanannya sendiri di Swedia yang memungkinkan para artis pendatang baru dapat di-streaming-kan ke jaringan label juga.

_x000D_
_x000D_

Dengan banyak label yang bergabung di revolusi ini, maka daripada menghabiskan waktu dan tenaga untuk melawan, lebih baik meminimalisir perdebatan dari perusahaan label tradisional yang mungkin masih bisa berlanjut.

_x000D_
_x000D_
_x000D_

Artikel Terbaru

Ketika Kuala Lumpur “Hilang”: Panggilan Keras kepada Jakarta!

INNNEWS - Pada 9 Oktober 2026, Kuala Lumpur seolah lenyap di balik kabut tebal....

Kabut Asap Lintas Batas dari Karhutla Indonesia Menyelimuti Malaysia dan Singapura, Sekolah di Johor Ditutup

INNNEWS — Kabut asap tebal akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia kembali...

Menang Politik, Kalah Yuridis: Mengapa Langkah Denny Indrayana dkk Belum Berakhir?

INNNEWS - Putusan Mahkamah Konstitusi telah menutup jalur yuridis yang ditempuh Denny Indrayana dan...

Paguyuban Warga RW13 Solo Tolak Sterilisasi Lahan Parkir di Area Jalan Masjid Sheikh Zayed

INNNEWS – Paguyuban Warga RW13 Solo menggelar aksi penolakan sterilisasi lahan parkir di area...

artikel yang mirip

Ketika Kuala Lumpur “Hilang”: Panggilan Keras kepada Jakarta!

INNNEWS - Pada 9 Oktober 2026, Kuala Lumpur seolah lenyap di balik kabut tebal....

Kabut Asap Lintas Batas dari Karhutla Indonesia Menyelimuti Malaysia dan Singapura, Sekolah di Johor Ditutup

INNNEWS — Kabut asap tebal akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia kembali...

Menang Politik, Kalah Yuridis: Mengapa Langkah Denny Indrayana dkk Belum Berakhir?

INNNEWS - Putusan Mahkamah Konstitusi telah menutup jalur yuridis yang ditempuh Denny Indrayana dan...