385 total views
CompusicianNews.com – Industri – Industri musik Indonesia ternyata punya sejarah panjang yang perlu diketahui generasi masa sekarang. Sayangnya, tidak banyak dokumen-dokumen yang bisa dijadikan sumber informasi sekaligus bisa diakses dengan mudah.
_x000D_
_x000D_
Bermula di awal 1950-an ketika pertama kalinya rekaman musik dilakukan pada piringan hitam oleh The Indonesia Music Company Limited. Ya, The Indonesia Music Company Limited atau yang lebih dikenal dengan nama label Irama didirikan pada 17 Mei 1951. Pendirinya adalah Sujoso Karsono atau yang akrab disapa Mas Yos.
_x000D_
_x000D_
Sekalipun berprofesi di dunia kemiliteran sebagai penerbang Angkatan Udara Republik Indonesia, hal itu tidak mengurangi kecintaannya pada musik. Pria berpangkat komodor tersebut aktif menyanyi bersama grup musik Hawaiian Lieve Souveniers yang didirikan di Semarang dan Elshinta Hawaiian Senior yang didirikan di Jakarta. Bahkan, pria yang punya julukan ‘The Singing Comodore’ tersebut telah merelakan garasi rumahnya di Jalan Agus Salim, Jakarta Pusat untuk merekam sebuah kuartet jazz yang kemudian menjadi produksi Piringan Hitam Irama pertama.
_x000D_
_x000D_
Label Irama menjadi perusahaan rekaman pertama setelah Indonesia Merdeka. Produksinya pun terus berlanjut untuk grup musik dan penyanyi melayu seperti Hasnah Tahar (“Burung Nuri, “Chajalan dan Penjair”), Munif Bahasun (“Ratapan Ank Tiri”) dan Mas Yos sendiri lewat lagunya “Nasi Uduk” yang diiringi Orkes Maruti.
_x000D_
_x000D_
Kantor Irama terletak di Jalan Blora, sedangkan studio Irama kemudian berpindah tempat ke Jalan Cikini Raya. Namun, semua masih dibuat dengan sederhana sehingga suara hujan bahkan kereta api yang lewat di belakang studio justru lebih keras daripada musik atau vokal penyanyi.
_x000D_
_x000D_
Dari label Irama inilah kemudian muncul nama-nama penyanyi dengan karya-karyanya yang banyak diminati masyarakat. Bing Slamet adalah salah satu penyanyi andalan Irama. Ada pula Rachmat Kartolo yang sempat sangat populer di tahun 1962 dengan lagu “Patah Hati”. Bahkan, setelah 22 tahun, lagu tersebut juga direkam ulang oleh Jeka Records dalam beberapa versi dan tentu saja sukses dipasaran.
_x000D_
_x000D_
Lagu lain yang juga direkam di Irama dan ‘meledak’ adalah lagu berjudul “Kudaku Lari” ciptaan Abdillah Harris. Abdillah Harris sebagai pencipta lagu juga berkiprah sejak tahun 1953 di layar perak, baik sebagai pemain, penata musik, sutradara, maupun penulis skenario.
_x000D_
_x000D_
Label Irama memang merekam semua jenis musik, mulai dari jazz, rock ‘n roll, pop, keroncong, melayu, hingga gambang kromong. Kemudian, Irama pun memiliki pabrik Piringan Hitam sendiri yang kemudian mencantumkan kode huruf di setiap produksinya. Misalnya seperti K untuk (Keroncong), M untuk (Melayu), G untuk (Gambang), DB untuk (Bali) dan masih banyak lagi.
_x000D_
_x000D_
Kemunculan label Irama sebagai cikal bakal industri musik Indonesia memperjelas fakta bahwa industri musik Tanah Air bisa disebut sebagai industri independent. Pasalnya, industri musik kita tidak mungkin dibangun tanpa keberadaan orang-orang yang cinta dan punya komitmen di dunia musik seperti halnya Mas Yos.
_x000D_
_x000D_
Bahkan, sebagai bentuk totalitasnya, Mas Yos pun mengunjungi pabrik PH di luar negeri seperti pabrik PH RCA Victor di Jepang, pabrik PH Polydor di Jerman Barat, RCA, Dot, dan Finebuilt Manufacturing di Amerika Serikat dan Philips di Belanda. Tujuannya jelas untuk mendukung usahanya dalam mengembangkan perekaman lagu di dalam negeri.
_x000D_
_x000D_
_x000D_


