HomeGaya HidupAggregator Musik Bantu Musisi ‘Jualan’ Lagu

Aggregator Musik Bantu Musisi ‘Jualan’ Lagu

Published on

spot_img

 929 total views

CompusicianNews – Industri – Di dunia bahkan di Indonesia telah banyak ditemui toko-toko musik digital. Pertanyaan yang muncul adalah bagaimana musisi dapat menjual hasil karya mereka kepada toko musik digital tersebut?

_x000D_
_x000D_

Toko musik digital seperti iTunes atau Spotify akan membantu musisi untuk ‘menjual’ karya mereka secara digital. Namun, toko musik digital biasanya tidak mau langsung berurusan dengan musisi karena rumitnya urusan lisensi dan publishing. Atas alasan itulah toko musik digital lebih memilih terhubung dengan label rekaman atau aggregator musik.

_x000D_
_x000D_

Beberapa label rekaman besar di dunia diantaranya EMI, Warner Music Group dan Sony BMG. Sedangkan untuk di Indonesia ada nama-nama seperti Aquarius Musikindo, Trinity Optima Production dan Nagaswara.

_x000D_
_x000D_

Label rekaman biasanya terlibat dalam semua proses, mulai dari menemukan, membentuk hingga memasarkan seorang artis atau musisi. Label rekaman biasanya menjadi tujuan musisi karena dari label mereka bisa mendapat modal rekaman dengan jaminan bisa terkenal.

_x000D_
_x000D_

Di sisi lain, aggregator musik muncul sebagai perusahaan yang fokus mendistribusikan lagu ke toko musik digital. Mereka biasanya tidak akan terlibat dalam proses internal musisi dalam membuat karya. Aggregator musik menjadi alternatif bagi musisi yang memang tidak ingin terikat kontrak dengan label, entah karena tidak ingin terikat atau soal idealisme bermusik.

_x000D_
_x000D_

The Orchard hadir sebagai pioneer aggregator musik dunia. The Orchard didirikan oleh Richard Gottehrer dan Scott Cohen pada tahun 1997 tepatnya di kota New York. The Orchard muncul beberapa waktu setelah Real Networks baru saja diluncurkan. Google bahkan baru hadir satu tahun setelahnya, yaitu di tahun 1998. Sedangkan Napster sebagai layanan download peer-to-peer juga baru hadir di tahun 1999.

_x000D_
_x000D_

The Orchard bertindak sebagai rekanan para artis independen yang ingin mendistribusikan karyanya di jalur mainstream. Di awal-awal kemunculannya, The Orchard masih fokus pada distribusi album fisik. Namun, seiring perkembangan jaman, mereka mulai mendistribusikan lagu ke toko musik digital dalam berbagai format dan platform. Melalui The Orchard, musisi akan tetap berhak atas master rekaman mereka, sedangkan segala kemungkinan lanjutan termasuk dengan label rekaman bisa jadi sifatnya fleksibel.

_x000D_
_x000D_

 

_x000D_

Artikel Terbaru

Ketika Kuala Lumpur “Hilang”: Panggilan Keras kepada Jakarta!

INNNEWS - Pada 9 Oktober 2026, Kuala Lumpur seolah lenyap di balik kabut tebal....

Kabut Asap Lintas Batas dari Karhutla Indonesia Menyelimuti Malaysia dan Singapura, Sekolah di Johor Ditutup

INNNEWS — Kabut asap tebal akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia kembali...

Menang Politik, Kalah Yuridis: Mengapa Langkah Denny Indrayana dkk Belum Berakhir?

INNNEWS - Putusan Mahkamah Konstitusi telah menutup jalur yuridis yang ditempuh Denny Indrayana dan...

Paguyuban Warga RW13 Solo Tolak Sterilisasi Lahan Parkir di Area Jalan Masjid Sheikh Zayed

INNNEWS – Paguyuban Warga RW13 Solo menggelar aksi penolakan sterilisasi lahan parkir di area...

artikel yang mirip

Ketika Kuala Lumpur “Hilang”: Panggilan Keras kepada Jakarta!

INNNEWS - Pada 9 Oktober 2026, Kuala Lumpur seolah lenyap di balik kabut tebal....

Kabut Asap Lintas Batas dari Karhutla Indonesia Menyelimuti Malaysia dan Singapura, Sekolah di Johor Ditutup

INNNEWS — Kabut asap tebal akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia kembali...

Menang Politik, Kalah Yuridis: Mengapa Langkah Denny Indrayana dkk Belum Berakhir?

INNNEWS - Putusan Mahkamah Konstitusi telah menutup jalur yuridis yang ditempuh Denny Indrayana dan...