HomeGaya HidupTak Hanya di Solo, Ternyata Suhu Dingin Terjadi se-Pulau Jawa, Ini Penyebabnya

Tak Hanya di Solo, Ternyata Suhu Dingin Terjadi se-Pulau Jawa, Ini Penyebabnya

Published on

spot_img

 1,487 total views

SOLO – Belakangan ini, banyak masyarakat di Kota Solo dan sekitarnya merasakan suhu dingin di malam hari.

“Ia, ga tau kenapa, kok tiap malam rasane adem (dingin), sampai bikin menggigil tiap malam,” ujar Dewa, salah satu warga Joyontakan, Solo kepada INN, Selasa (16/7) siang.

Suhu dingin tersebut ramai dikeluhkan warganet di media sosial. Mereka merasa heran dengan fenomena ini.

Penjelasan BMKG

Subbidang Prediksi Cuaca Pusat Meteorologi BMKG dalam keterangannya pada Senin, 16 Juli 2024, Nurul Izzah menjelaskan, suhu udara dingin adalah fenomena alamiah yang umunm terjadi selama bulan-bulan puncak musim kemarau, yaitu Juli hingga September.

Dia menjelaskan bahwa pola tekanan udara yang relatif tinggi di Australia menyebabkan gerakan massa udara dari Australia ke Indonesia, yang dikenal dengan istilah Monsoon atau Muson Dingin Australia.

Monsoon Dingin Australia berhembus menuju wilayah Indonesia melalui perairan Samudera Indonesia yang memiliki suhu permukaan laut relatif lebih dingin.

“Dampaknya adalah suhu di beberapa wilayah di Indonesia, terutama di bagian selatan khatulistiwa seperti Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara, terasa lebih dingin,” ujar Nurul Izzah.

Selain pengaruh angin dari Australia, cuaca dingin di malam hari, khususnya, juga disebabkan oleh berkurangnya awan dan hujan di Pulau Jawa hingga Nusa Tenggara.

“Karena tidak ada uap air dan air, energi radiasi yang dilepaskan oleh bumi pada malam hari tidak dapat disimpan di atmosfer,” jelas Izzah.

Tidak hanya itu, langit yang cenderung bersih tanpa awan (clear sky) menyebabkan panas radiasi balik gelombang panjang langsung terlepas ke atmosfer luar.

“Ini membuat udara dekat permukaan terasa lebih dingin, terutama pada malam hingga pagi hari. Fenomena ini yang kemudian membuat udara terasa lebih dingin, terutama di malam hari,” ujar Izzah.

Izzah menegaskan bahwa ini adalah fenomena yang biasa terjadi setiap tahun.

Fenomena ini juga dapat menyebabkan beberapa tempat seperti Dieng dan daerah dataran tinggi atau pegunungan lainnya berpotensi mengalami embun es (embun upas), yang kadang-kadang dianggap sebagaisalju oleh sebagian orang.

 

Artikel Terbaru

Singapore AI Gratis, Indonesia Makan Gratis: Dua Pendekatan Berbeda untuk Masa Depan Negara

INNNEWS -Di awal 2026, Singapura dan Indonesia mengumumkan program besar dengan prioritas yang sangat...

Jumat Pagi, Banjir Satu Meter Lebih Rendam Kebon Pala Jaktim

Banjir kembali melanda kawasan Kebon Pala, wilayah Jakarta Timur, pada Jumat pagi. Ketinggian air...

Ramai, Kasus Pelecehan Seksual Bermunculan di Kampus

INNNEWS-Gelombang laporan dugaan pelecehan seksual di lingkungan kampus kembali mencuat dan menjadi sorotan publik....

3 Terdakwa Korupsi Chromebook Dituntut 6–15 Tahun Penjara, Konsultan Teknologi Kemendikbudristek Terberat

INNNEWS – Tiga terdakwa dalam kasus dugaan korupsi pengadaan perangkat Chromebook di lingkungan Kementerian Pendidikan,...

artikel yang mirip

Singapore AI Gratis, Indonesia Makan Gratis: Dua Pendekatan Berbeda untuk Masa Depan Negara

INNNEWS -Di awal 2026, Singapura dan Indonesia mengumumkan program besar dengan prioritas yang sangat...

Jumat Pagi, Banjir Satu Meter Lebih Rendam Kebon Pala Jaktim

Banjir kembali melanda kawasan Kebon Pala, wilayah Jakarta Timur, pada Jumat pagi. Ketinggian air...

Ramai, Kasus Pelecehan Seksual Bermunculan di Kampus

INNNEWS-Gelombang laporan dugaan pelecehan seksual di lingkungan kampus kembali mencuat dan menjadi sorotan publik....