HomeTrendingKedewasaan Demokrasi di Maluku Utara: Tripel Minoritas Memimpin 

Kedewasaan Demokrasi di Maluku Utara: Tripel Minoritas Memimpin 

Published on

spot_img

 1,512 total views

TERNATE, INNINDONESIA.COM – Pemilihan Gubernur (Pilgub) Maluku Utara (Malut) 2024 sangat menarik perhatian publik tanah air. Terutama kepada Paslon nomor 4 Sherly Laos-Sarbin Sehe.

Keduanya unggul dalam quick count atau perhitungan cepat sejumlah lembaga survei usai pencoblosan pada 27 November lalu.

Mereka mengalahkan tiga kandidat lainnya dengan presentase sangat jauh.

Diketahui Sherly merupakan istri dari mendiang Benny Laos, Cagub Malut yang meninggal akibat kecelakaan speed boat saat berkampanye.

Partai pengusung kemudian memilih Sherly untuk menggantikan suaminya.

Berangkat dari ibu rumah tangga yang aktif mendampingi suami saat menjadi Bupati Morotai dan aktif di sejumlah organisasi kemasyarakatan, takdir akhirnya membawa Sherly untuk menjadi gubernur perempuan pertama yang memimpin Malut.

Ini tak mudah, sebab tak hanya seorang perempuan, Sherly juga datang dari etnis Tionghoa dan beragama Kristen.

Apalagi Malut belum pernah dipimpin oleh Gubernur non Muslim, juga perempuan, belum lagi etnis di luar daerah kesultanan itu.

Untuk meraih kemenangan di Malut yang mayoritas penduduknya beragama Muslim, butuh kedewasaan berdemokrasi. Sebab dalam Pemilu Indonesia sangat sensitif dengan isu suku, rasa, dan agama (SARA).

Namun bukan hanya karna nama besar suaminya, kecerdasan, dan respon politik Sherly mampu mencuri perhatian masyarakat.

Banyak isu negatif yang menerpanya, apalagi jelang pencoblosan. Terutama isu agama. Namun Sherly tak lengah untuk membuktikan ke masyarakat bahwa ia mampu membawa Malut bangkit dan berjaya.

Masyarakat Malut rupanya sudah dewasa dalam berdemokrasi, isu-isu ras dan agama tak membuat mereka berhenti mendukung Sherly.

Mereka seolah menaruh harapan besar ke sosok yang mereka nilai mampu membawa Malut berjaya. Sebab Sherly sewaktu mendampingi mendiang suaminya, mereka mampu membawa Morotai dalam jalan kemajuan.

Sherly banyak sekali melakukan aktivitas-aktivitas yang mempromosikan pariwisata Malut.

Kedewasaan Demokrasi di Malut patut menjadi contoh bagi seluruh daerah di Indonesia.

Artikel Terbaru

KPK Tetapkan Eks Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas sebagai Tersangka Korupsi Kuota Haji

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) resmi menetapkan mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi penyelenggaraan ibadah haji tahun 2023-2024. Penetapan ini dikonfirmasi oleh pejabat KPK pada Jumat, 9 Januari 2026.

Pelatihan Mencegah Bullying Sejak Dini di SD Kanisius Yogyakarta

    JUDUL PELATIHAN Pelatihan Mencegah Bullying Sejak Dini di SD Kanisius Yogyakarta   RINGKASAN Pelatihan pencegahan bullying sejak dini...

VENEZUELA: SUATU PERINGATAN : Ketika Negara Dipersonalisasi, Kekuasaan Dipusatkan, dan Institusi Dilumpuhkan

Dalam epilog buku saya Indonesian Dream: Revitalisasi & Realisasi Pancasila sebagai Cita-Cita Bangsa (Kompas, 2018), saya membuka dengan kisah Venezuela. Judulnya singkat: “Indonesia 2030.” Venezuela saya jadikan cermin—sekaligus peringatan.

Pelajaran Mahal dari Venezuela: Otoritarianisme ala Maduro

INNNEWS-Apa yang terjadi di Venezuela pada awal 2026 bukanlah peristiwa yang jatuh dari langit....

artikel yang mirip

KPK Tetapkan Eks Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas sebagai Tersangka Korupsi Kuota Haji

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) resmi menetapkan mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi penyelenggaraan ibadah haji tahun 2023-2024. Penetapan ini dikonfirmasi oleh pejabat KPK pada Jumat, 9 Januari 2026.

Pelatihan Mencegah Bullying Sejak Dini di SD Kanisius Yogyakarta

    JUDUL PELATIHAN Pelatihan Mencegah Bullying Sejak Dini di SD Kanisius Yogyakarta   RINGKASAN Pelatihan pencegahan bullying sejak dini...

VENEZUELA: SUATU PERINGATAN : Ketika Negara Dipersonalisasi, Kekuasaan Dipusatkan, dan Institusi Dilumpuhkan

Dalam epilog buku saya Indonesian Dream: Revitalisasi & Realisasi Pancasila sebagai Cita-Cita Bangsa (Kompas, 2018), saya membuka dengan kisah Venezuela. Judulnya singkat: “Indonesia 2030.” Venezuela saya jadikan cermin—sekaligus peringatan.