968 total views
INN NEWS – Pasar saham Indonesia sedang mengalami masa sulit. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan transaksi yang sangat sepi, bahkan disebut sebagai yang terparah sejak tahun 2019.
Data terkini menunjukkan nilai transaksi harian IHSG kini sering berada di bawah Rp10 triliun, angka yang jauh dari rata-rata wajar perdagangan sebelumnya.
Kondisi ini mencerminkan lesunya aktivitas investor di Bursa Efek Indonesia (BEI), di tengah tantangan ekonomi yang kompleks baik dari dalam negeri maupun global.
IHSG Loyo, Penurunan Drastis Terjadi
Pergerakan IHSG belakangan ini memang tidak menggembirakan. Dalam sebulan terakhir, indeks ini telah anjlok hampir 10%. Jika ditarik dari titik tertingginya pada September 2024, IHSG bahkan sudah turun lebih dari 20%.
Pelemahan ini menjadi sorotan karena terjadi di saat pasar saham seharusnya mulai pulih pasca pandemi. Namun, realitasnya justru berbalik: transaksi harian kian meredup, dan minat investor tampak memudar.
Baca juga:
IHSG Anjlok 5,02 Persen, BEI Hentikan Sementara Perdagangan
Pada hari ini, 18 Maret 2025, IHSG kembali mencatatkan penurunan signifikan. Dalam sesi perdagangan, indeks sempat ambrol hingga lebih dari 5%, bahkan memaksa BEI menghentikan sementara perdagangan (trading halt) untuk mencegah kepanikan lebih lanjut.
Penurunan ini menjadi salah satu yang terdalam sejak masa pandemi Covid-19, menggambarkan betapa rapuhnya sentimen pasar saat ini.
Faktor Penyebab
Ada sejumlah faktor yang diyakini menjadi pemicu sepinya transaksi dan pelemahan IHSG. Dari sisi eksternal, ketidakpastian ekonomi global menjadi beban berat.
Fokus pasar kini tertuju pada kebijakan moneter The Federal Reserve (The Fed), bank sentral Amerika Serikat, yang masih belum memberikan sinyal jelas tentang penurunan suku bunga.
Ketakutan akan resesi di AS, ditambah dengan kebijakan tarif yang tidak menentu di era Donald Trump, semakin memperburuk suasana. Investor global cenderung menarik dana dari pasar berkembang, termasuk Indonesia, untuk mencari aset yang lebih aman.
Sementara itu, dari dalam negeri, tantangan tak kalah pelik. Risiko politik yang meningkat, ditambah dengan daya beli masyarakat yang melemah, menjadi faktor utama yang menekan pasar saham.
Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) massal di beberapa perusahaan besar serta penurunan peringkat kredit Indonesia oleh lembaga internasional seperti Fitch, S&P, dan Moody’s, turut memicu aksi jual saham secara besar-besaran.
Di tengah bulan Ramadhan, yang biasanya menjadi momentum peningkatan konsumsi, pasar justru tampak kehilangan katalis positif untuk bangkit.
Fundamental Kuat, Tapi Pasar Tetap Lesu
Meski demikian, tidak semua pandangan terhadap kondisi ini pesimistis. Erwin Supandi, Head of Equity Retail dari HP Sekuritas, menyatakan bahwa fundamental ekonomi Indonesia sebenarnya masih cukup kuat.
“IHSG sedang mengalami penyesuaian dalam kondisi pasar yang dinamis.
Investor sebaiknya tetap fokus pada strategi jangka panjang dan memanfaatkan koreksi ini sebagai peluang untuk menata ulang portofolio,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa banyak emiten di Indonesia masih memiliki prospek pemulihan yang baik, didukung oleh kinerja bisnis yang solid.
Namun, pernyataan optimistis ini tampaknya belum mampu menggairahkan pasar. Transaksi yang sepi menunjukkan bahwa kepercayaan investor masih rapuh. Saham-saham unggulan (blue chip) seperti BBCA, BMRI, dan BBRI pun tak luput dari tekanan, dengan penurunan harga yang signifikan dalam beberapa sesi perdagangan terakhir.
Apa yang Bisa Dilakukan Investor?
Di tengah kondisi pasar yang penuh ketidakpastian ini, investor disarankan untuk lebih selektif. Analis pasar modal Hans Kwee menyarankan agar investor memperhatikan level support IHSG di kisaran 6.000-6.100 dan resistance di 6.300-6.400 dalam jangka pendek.
“Pasar masih akan fluktuatif. Fokus pada saham dengan fundamental kuat dan hindari spekulasi berlebihan,” katanya.
Koreksi pasar saat ini juga bisa menjadi peluang bagi investor jangka panjang untuk mengakumulasi saham-saham berkualitas dengan harga yang lebih murah. Namun, bagi investor ritel dengan toleransi risiko rendah, menunggu sentimen yang lebih stabil mungkin menjadi pilihan bijak.
Sepinya transaksi IHSG hingga menjadi yang terparah sejak 2019 menunjukkan bahwa pasar saham Indonesia sedang menghadapi ujian berat. Tekanan dari dalam dan luar negeri telah menciptakan suasana suram yang sulit dihindari.
Meski ada harapan dari fundamental ekonomi yang masih terjaga, pemulihan IHSG tampaknya masih membutuhkan waktu dan katalis yang lebih kuat. Bagi investor, kesabaran dan strategi yang tepat akan menjadi kunci untuk bertahan di tengah badai pasar ini.


