2,632 total views
JAKARTA– Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan dugaan penyebab kasus keracunan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menimpa sejumlah siswa di berbagai daerah.
Dalam rapat kabinet di Istana Negara, Jakarta, pada Senin (5/5/2025), Prabowo menyebutkan bahwa keracunan mungkin terjadi karena siswa tidak menggunakan sendok saat makan dan kurang menjaga kebersihan tangan.
“Saya masuk satu ruangan, ada 30 anak, 20 pakai sendok, tapi 10 tidak mau pakai sendok. Itu tidak salah, karena mereka terbiasa makan dengan tangan. Tapi, kami mendidik mereka untuk cuci tangan. Jadi, bisa saja keracunan itu karena hal-hal seperti ini, hal sepele tapi mendasar,” ujar Prabowo.
Prabowo juga menyinggung kebiasaan budaya makan dengan tangan yang masih umum di beberapa daerah.
Ia menduga, selain tidak menggunakan sendok, keracunan bisa terjadi karena siswa belum terbiasa dengan menu tertentu, seperti susu, yang menyebabkan gangguan pencernaan, seperti diare akibat intoleransi laktosa.
“Ada anak yang pertama kali minum susu, dia butuh waktu penyesuaian. Kalau tidak biasa, bisa diare,” tambahnya.
Meski demikian, Prabowo menegaskan bahwa program MBG telah mencapai tingkat keberhasilan 99,99 persen, dengan kasus keracunan hanya sekitar 0,005 persen dari total 3,4 juta penerima manfaat.
“Dari 3 juta lebih penerima, yang keracunan di bawah 200 orang, dan yang rawat inap hanya lima orang,” klaimnya.
Ia menyebut angka ini menunjukkan keberhasilan program meski masih ada kekurangan yang perlu diperbaiki.
Baca juga:
Prabowo: Makan Bergizi Gratis Berhasil 99,95%, Hanya 200 dari 3,4 Juta Penerima yang Keracunan
Kasus keracunan MBG sendiri telah dilaporkan di beberapa daerah, seperti Cianjur, Bandung, Sukoharjo, dan Bombana.
Di Cianjur, 78 siswa dari MAN 1 dan SMP PGRI 1 mengalami keracunan massal pada 21 April 2025, bahkan ditetapkan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB). Di Bandung, 342 siswa SMPN 35 dilaporkan keracunan pada 29 April 2025.
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana menyatakan bahwa pihaknya telah memperketat prosedur distribusi makanan untuk mencegah kasus serupa.
Langkah-langkah yang diambil meliputi protokol keamanan pengantaran, pembatasan waktu pengiriman, uji organoleptik (tampilan, aroma, rasa, tekstur), dan pelatihan intensif bagi penyedia makanan.
“Kami menargetkan zero accident. Tidak ada kejadian keracunan lagi,” tegas Dadan.
Prabowo juga meminta masyarakat menunggu hasil investigasi resmi dari BGN terkait kasus-kasus keracunan ini, sembari menegaskan bahwa MBG adalah program strategis untuk meningkatkan gizi anak-anak Indonesia.
Ia optimistis jumlah penerima manfaat akan terus bertambah, dengan target 82,9 juta orang pada akhir November 2025.
Namun, pernyataan Prabowo ini menuai sorotan.
Pakar komunikasi dari Universitas Gadjah Mada, Nyarwi Ahmad, menilai bahwa pemerintah perlu memperbaiki cara komunikasi publik agar tidak terkesan meremehkan kasus keracunan.
“Satu kasus keracunan saja tidak bisa dikompromikan, apalagi ini menyangkut keamanan pangan untuk anak-anak,” ujarnya.
Program MBG, yang merupakan salah satu janji kampanye Prabowo-Gibran, terus menjadi perhatian publik.

Meski bertujuan mulia, tantangan dalam pelaksanaan, seperti standar keamanan pangan dan higienitas, masih menjadi pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan.


