1,471 total views
INN INTERNASIONAL – Pada pertengahan Juni 2025, ketegangan antara Israel dan Iran kembali memanas setelah Iran melancarkan serangan rudal balistik ke wilayah Israel, termasuk kota-kota strategis seperti Tel Aviv dan Haifa.
Di tengah serangan tersebut, sistem pertahanan udara Israel, khususnya David’s Sling, menjadi sorotan karena perannya dalam menangkis ancaman rudal-rudal canggih Iran. Lantas, apa itu David’s Sling, dan bagaimana sistem ini bekerja?
Apa Itu David’s Sling?
David’s Sling, yang dalam bahasa Indonesia dijuluki “Ketapel Nabi Daud,” adalah sistem pertahanan udara jarak menengah hingga jauh milik Israel.
Sistem ini dirancang untuk mencegat berbagai ancaman udara, termasuk rudal balistik, rudal jelajah, roket kaliber besar, dan drone, pada jarak antara 40 hingga 300 kilometer.
Beroperasi sejak 2017, David’s Sling dikembangkan bersama oleh perusahaan pertahanan Israel, Rafael Advanced Defense Systems, dan perusahaan Amerika Serikat, Raytheon, yang juga mengembangkan sistem Iron Dome.
Sistem ini merupakan bagian dari arsitektur pertahanan udara berlapis Israel, yang meliputi:
Iron Dome: Mencegat roket jarak pendek (4-70 km).
David’s Sling: Menangani ancaman jarak menengah hingga jauh (40-300 km).
Arrow 2 dan Arrow 3: Menghadapi rudal balistik jarak jauh, bahkan di luar atmosfer.
David’s Sling menggunakan rudal Stunner, yang tidak dilengkapi hulu ledak peledak, melainkan mengandalkan teknologi hit-to-kill (energi kinetik tabrakan langsung) untuk menghancurkan target.
Rudal ini memiliki kecepatan hingga Mach 7,5 dan dilengkapi dua sensor untuk panduan serta pembaruan data dari radar berbasis darat. Setiap rudal Stunner diperkirakan berharga sekitar USD 1 juta (sekitar Rp 16 miliar).
Peran David’s Sling dalam Menangkis Rudal Iran
Pada serangan Iran terbaru, termasuk gelombang ke-12 dari Operation True Promise III pada 18 Juni 2025, Iran meluncurkan rudal balistik seperti Sejjil, yang memiliki jangkauan hingga 2.000 km dan kemampuan manuver tinggi.
Sejjil, yang menggunakan bahan bakar padat, memungkinkan peluncuran cepat dan sulit dideteksi.
Selain itu, Iran juga menggunakan rudal hipersonik seperti Fattah-1, yang dapat mencapai kecepatan Mach 13-15 dan memiliki lintasan sulit diprediksi, membuatnya menantang bagi sistem pertahanan udara konvensional.
Meskipun sistem Iron Dome kewalahan menghadapi rudal balistik dan hipersonik Iran karena dirancang untuk roket jarak pendek, David’s Sling menjadi andalan Israel untuk mencegat rudal jarak menengah.
Dalam serangan tersebut, David’s Sling dilaporkan berhasil menangkis beberapa rudal Iran, meskipun beberapa proyektil tetap menembus pertahanan dan menyebabkan kerusakan di Tel Aviv dan Haifa.
Menurut laporan, Israel menggunakan strategi pertahanan berlapis, dengan David’s Sling bekerja sama dengan sistem Arrow dan dukungan dari sistem Patriot AS serta kapal perang yang dilengkapi Aegis.
Namun, Iran menerapkan strategi saturation attack (serangan jenuh), meluncurkan ratusan rudal dan drone secara bersamaan untuk menguras kapasitas pertahanan Israel.
Beberapa rudal, termasuk yang diduga Kheybar Shekan-2, dilaporkan mampu menghindari David’s Sling, menunjukkan tantangan besar bagi sistem ini.


