818 total views
WASHINGTON, INN INTERNASIONAL – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali menunjukkan pendekatan keras dalam diplomasi internasional dengan mengeluarkan ultimatum kepada Rusia terkait konflik di Ukraina.
Dalam konferensi pers di Gedung Putih bersama Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte pada Senin (14/7/2025), Trump mengancam akan memberlakukan tarif sebesar 100% terhadap produk-produk Rusia jika Moskow tidak mencapai kesepakatan damai dengan Ukraina dalam waktu 50 hari.
Ancaman ini merupakan langkah terberani Trump sejak menjabat untuk periode kedua pada Januari 2025.
“Kami sangat, sangat tidak senang dengan Rusia. Jika tidak ada kesepakatan dalam 50 hari, kami akan menerapkan tarif sekitar 100%,” tegas Trump, menyebut tarif tersebut sebagai “tarif sekunder” yang juga akan menyasar negara-negara pembeli minyak Rusia, seperti Tiongkok dan India.
Tarif ini, menurut Trump, dapat diterapkan tanpa persetujuan Kongres AS, memberikan tekanan ekonomi maksimal untuk memaksa Rusia membuka ruang damai.
Selain ancaman ekonomi, Trump juga mengumumkan pengiriman senjata canggih, termasuk sistem pertahanan udara Patriot, ke Ukraina melalui skema yang melibatkan NATO.
Dalam strategi ini, negara-negara Eropa seperti Jerman, Belanda, Norwegia, dan Kanada akan menanggung biaya logistik dan teknis, sementara AS menyediakan senjata tersebut.
“Kami akan mengirimkan Patriot karena Ukraina sangat membutuhkannya. Putin berbicara manis di siang hari, tapi mengebom semua orang di malam hari,” ujar Trump, menyinggung serangan udara Rusia yang semakin intens.
Kombinasi Keras dan Cerdas
Sejumlah diplomat menilai pendekatan Trump sebagai “kombinasi keras dan cerdas,” menggabungkan tekanan militer, ekonomi, dan diplomasi.
Langkah ini mencerminkan frustrasi Trump terhadap Presiden Rusia Vladimir Putin, yang menurutnya telah menggagalkan upaya damai berulang kali.
“Saya pikir kami sudah hampir mencapai kesepakatan damai empat kali, tapi semuanya gagal,” ungkap Trump, bahkan menyebut peran Ibu Negara Melania Trump dalam membantunya menyadari eskalasi konflik.
Namun, ultimatum ini menuai beragam respons. Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, menyebut tenggat waktu 50 hari terlalu lama, mengingat warga sipil Ukraina terus menjadi korban serangan Rusia setiap hari.
Di sisi lain, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyambut baik komitmen Trump, terutama terkait pengiriman senjata, dalam pertemuan dengan utusan khusus AS Keith Kellogg di Kyiv.
Dampak Ekonomi dan Pasar Global
Ancaman tarif 100% ini langsung memengaruhi pasar minyak global. Harga minyak mentah Brent turun 1,63% ke US$69,21 per barel, dan West Texas Intermediate (WTI) melemah 2,15% ke US$66,98 per barel pada penutupan perdagangan Senin (14/7/2025).
Pasar menilai tenggat waktu 50 hari memberikan ruang negosiasi yang cukup panjang, sehingga ekspektasi sanksi langsung mereda. “Pasar melihat ini sebagai ruang kompromi, jadi responsnya cenderung netral hingga negatif,” kata Phil Flynn, analis senior dari Price Futures Group.
Tantangan Diplomasi
Meski Trump menegaskan keinginannya untuk perdamaian abadi, Rusia tampaknya tetap bergeming. Juru bicara Kremlin, Dmitri Peskov, menyebut negosiasi damai sebagai “sangat penting,” namun Presiden Putin bersikeras pada syarat-syarat seperti status netral Ukraina, demiliterisasi sebagian, dan pengakuan atas wilayah yang dikuasai Rusia.
Analis politik Tatiana Stanovaya dari R.Politik menilai Putin yakin Rusia memiliki sumber daya untuk bertahan lebih lama, sehingga sulit dipaksa bernegosiasi.
Ultimatum Trump ini menandai perubahan signifikan dari sikap awalnya yang cenderung menghindari keterlibatan langsung AS dalam konflik Rusia-Ukraina.
Dengan kombinasi ancaman ekonomi dan dukungan militer, dunia kini menanti apakah tenggat 50 hari ini akan membawa perdamaian atau justru memperkeruh ketegangan geopolitik.


