1,753 total views
SOLO – Gelombang demonstrasi yang mengguncang Gedung DPR RI di Jakarta sejak 25 Agustus 2025 kini merembet ke berbagai kota di Indonesia. Solo, Jawa Tengah, menjadi salah satu titik panas di mana kemarahan massa berujung pada kericuhan, bahkan pembakaran.
Aksi protes yang dipicu kenaikan tunjangan anggota DPR sebesar Rp50 juta per bulan serta isu ketenagakerjaan dan pajak telah memicu ketegangan sosial yang kian meluas, menunjukkan ketidakpuasan rakyat terhadap kebijakan pemerintah.
Jakarta: Titik Awal Kericuhan
Aksi di Jakarta dimulai pada Senin, 25 Agustus 2025, dengan puluhan ribu massa dari berbagai elemen masyarakat, termasuk mahasiswa, buruh, pelajar, dan pengemudi ojek online, berkumpul di depan Gedung DPR/MPR.
Mereka menuntut pembatalan kenaikan tunjangan DPR, penghapusan sistem kerja outsourcing, kenaikan upah minimum 2026 sebesar 10,5%, dan pengesahan RUU Perampasan Aset untuk memerangi korupsi.
Namun, demonstrasi yang awalnya damai berubah ricuh. Massa menjebol pagar DPR, membakar sepeda motor, dan merusak pos polisi. Polisi merespons dengan gas air mata dan water cannon, memicu bentrokan hingga malam hari.
Puncak tragedi terjadi pada 28 Agustus 2025, ketika Affan Kurniawan (21), seorang pengemudi ojek online, tewas terlindas kendaraan taktis Brimob di Senayan.
Insiden ini memicu kemarahan massa, yang membalas dengan membakar gerbang tol dan melempar bom molotov.
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo meminta maaf dan menjanjikan penyelidikan transparan terhadap tujuh anggota Brimob yang terlibat. Namun, kepercayaan publik terus terkikis, mendorong aksi lanjutan di berbagai daerah.
Kericuhan Meluas ke Daerah
Protes tidak hanya terbatas di Jakarta. Di Bandung, pada 29 Agustus 2025, ribuan demonstran, termasuk pengemudi ojek online dan mahasiswa, menggelar aksi di depan Gedung DPRD Jawa Barat.
Situasi memanas ketika massa membakar sebuah rumah yang diduga menjadi pos polisi, disertai pelemparan bom molotov dan perusakan fasilitas umum.
Di Surabaya, demonstrasi di depan Gedung Grahadi juga diwarnai ketegangan, meski tidak seintens di Bandung.
Solo menjadi sorotan karena kericuhan yang signifikan. Massa yang terdiri dari mahasiswa, buruh, dan warga setempat menggelar aksi solidaritas menuntut keadilan atas kematian Affan dan penolakan kebijakan DPR.
Mereka membakar gedung DPRD dan sejumlah fasilitas publik lainnya.
Aksi di depan Gedung DPRD Solo berujung pada pembakaran pagar dan sebuah sepeda motor. Polisi berusaha membubarkan massa dengan gas air mata, namun demonstran tetap bertahan hingga malam hari, menjadikan Solo salah satu episentrum protes di luar Jakarta.
Tuntutan dan Dinamika Sosial
Tuntutan massa tidak hanya terfokus pada kenaikan tunjangan DPR, tetapi juga mencakup isu yang lebih luas, seperti penghapusan outsourcing, kenaikan upah minimum, dan reformasi pajak yang lebih adil.
Presiden KSPI Said Iqbal mengancam mogok kerja nasional jika pemerintah tidak segera merespons.
Mahasiswa, melalui BEM Universitas Indraprasta PGRI dan aliansi lainnya, juga menyerukan pembubaran DPR dan kebijakan yang lebih pro-rakyat.Di platform X, sentimen publik mencerminkan kemarahan dan kekecewaan.
Banyak pengguna menyebut kekerasan aparat sebagai pelanggaran HAM, sementara sebagian lain menduga adanya “penunggang gelap” yang memanfaatkan situasi untuk kepentingan politik. Meski klaim ini belum terverifikasi, narasi tersebut memperkeruh suasana.
Dampak dan Tantangan ke Depan
Kericuhan ini menyebabkan gangguan besar, termasuk penutupan Jalan Gatot Subroto di Jakarta, kemacetan di berbagai kota, dan kerusakan fasilitas publik.
Di Solo, suasana tegang masih terasa, dengan polisi meningkatkan pengamanan di titik-titik rawan. PT GoTo Gojek Tokopedia, perusahaan tempat Affan bekerja, menyatakan dukungan kepada keluarga korban, sementara tokoh seperti Najwa Shihab menyerukan reformasi pengendalian massa oleh aparat.
Pemerintah kini dihadapkan pada tantangan besar: meredam kemarahan rakyat sambil menjawab tuntutan yang mendasar.
Dialog dengan perwakilan demonstran menjadi opsi yang mendesak untuk mencegah eskalasi lebih lanjut. Said Iqbal menegaskan bahwa aksi akan berlanjut di kota-kota industri seperti Bekasi dan Cikarang jika pemerintah tidak bertindak cepat.
Gelombang protes yang kini melanda Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Solo menunjukkan bahwa ketidakpuasan rakyat terhadap kebijakan pemerintah telah mencapai titik kritis.
Kericuhan di Solo, yang ditandai dengan pembakaran dan bentrokan, menjadi peringatan bahwa kemarahan rakyat tidak lagi terpusat di ibu kota.
Tanpa dialog konstruktif dan kebijakan yang berpihak pada rakyat, nyala api protes berisiko terus membesar, mengancam stabilitas nasional.


