741 total views
INN INTERNASIONAL – Kathmandu, Nepal, menjadi saksi gelombang protes besar-besaran pada 8-9 September 2025, yang dipimpin oleh Generasi Z (Gen Z), kelompok usia muda yang lahir antara 1995-2010.
Demonstrasi yang awalnya dipicu oleh larangan pemerintah terhadap 26 platform media sosial, termasuk Facebook, WhatsApp, Instagram, X, dan YouTube, berujung pada krisis politik yang memaksa Perdana Menteri KP Sharma Oli mengundurkan diri pada Selasa, 9 September 2025.
Peristiwa ini menandai titik balik penting dalam sejarah politik Nepal, menyoroti kekuatan suara kaum muda dan ketidakpuasan mendalam terhadap korupsi serta ketimpangan ekonomi.
Larangan Media Sosial sebagai Pemicu
Pada 4 September 2025, pemerintah Nepal mengeluarkan perintah untuk memblokir sejumlah platform media sosial karena dianggap tidak memenuhi persyaratan registrasi lokal, seperti menunjuk penanggung jawab pengaduan dan menghapus konten yang dianggap bermasalah.
Langkah ini dipandang oleh banyak kalangan, terutama Gen Z, sebagai bentuk sensor dan pelanggaran kebebasan berekspresi.
Reaksi keras segera muncul, dengan ribuan anak muda turun ke jalan di Kathmandu dan kota-kota lain, mengibarkan bendera nasional dan menyanyikan lagu kebangsaan sebelum meneriakkan slogan anti-korupsi dan menentang pelarangan media sosial.
Demonstrasi yang awalnya damai berubah menjadi kekerasan pada 8 September 2025, ketika polisi menggunakan gas air mata, peluru karet, dan bahkan peluru tajam untuk membubarkan massa.
Tragisnya, sedikitnya 19 hingga 22 demonstran tewas, dan ratusan lainnya luka-luka, termasuk seorang mahasiswa berusia 22 tahun, Pabit Tandukar, yang terkena peluru tembaga di kakinya.
Kemarahan publik semakin memuncak ketika para demonstran menerobos zona terlarang di sekitar parlemen, membakar gedung-gedung pemerintahan, kantor polisi, dan bahkan rumah pribadi para politisi, termasuk kediaman Oli dan pemimpin partai besar seperti Nepali Congress.
Lebih dari Sekadar Media Sosial: Frustrasi terhadap Korupsi dan Ketimpangan
Meskipun larangan media sosial menjadi pemicu utama, protes ini mencerminkan ketidakpuasan yang lebih dalam di kalangan anak muda Nepal.
Menurut Rudabeh Shahid dari Atlantic Council’s South Asia Center, akar masalahnya terletak pada korupsi sistemik, nepotisme dalam politik, dan kurangnya peluang ekonomi bagi generasi muda.
Tingkat pengangguran di kalangan pemuda Nepal mencapai 19%, dengan banyak dari mereka terpaksa mencari pekerjaan di luar negeri. Pendapatan per kapita yang hanya sekitar $1.400 per tahun juga menambah beban, terutama ketika elit politik tampak hidup dalam kemewahan.
Data dari Transparency International menunjukkan bahwa 84% penduduk Nepal memandang korupsi sebagai masalah besar.
Gen Z, yang sebagian besar terdiri dari pelajar dan mahasiswa, menggunakan media sosial untuk menyuarakan frustrasi mereka terhadap nepotisme dan ketidakadilan, yang kemudian direspons pemerintah dengan pelarangan.
Hal ini justru memicu gerakan yang lebih besar, yang dikoordinasikan oleh organisasi pemuda seperti Hami Nepal, tanpa afiliasi langsung dengan partai politik.
Dampak Politik: Runtuhnya Pemerintahan Oli
Eskalasi protes memaksa pemerintah mengambil langkah cepat. Pada 8 September malam, Menteri Dalam Negeri Ramesh Lekhak mengundurkan diri dengan alasan tanggung jawab moral atas kematian demonstran.
Keesokan harinya, Perdana Menteri Oli mengumumkan pengunduran dirinya dalam surat kepada Presiden Ramchandra Paudel, menyatakan bahwa langkah tersebut diambil untuk memfasilitasi penyelesaian krisis secara politik dan konstitusional.
Larangan media sosial juga dicabut pada hari yang sama sebagai respons terhadap protes, tetapi hal ini tidak meredam kemarahan publik.
Pemerintah koalisi Oli kehilangan mayoritas setelah beberapa menteri mengundurkan diri dan partai-partai pendukung mempertimbangkan untuk menarik dukungan.
Gedung parlemen yang dibakar, bersama dengan serangan terhadap properti elit politik, menjadi simbol kemarahan rakyat terhadap sistem yang dianggap korup.
Demonstran menuntut lebih dari sekadar pengunduran diri Oli; mereka menyerukan pembubaran parlemen dan pemilu baru untuk membawa perubahan sistemik.
Gen Z sebagai Kekuatan Perubahan
Protes Gen Z di Nepal menunjukkan bagaimana generasi muda dapat mengguncang status quo politik.
Berbeda dengan protes-protes sebelumnya di Nepal, gerakan ini unik karena dipimpin oleh anak-anak muda, banyak di antaranya masih mengenakan seragam sekolah atau kampus.
Mereka tidak hanya menentang larangan media sosial, tetapi juga menyerukan akuntabilitas pemerintah, keadilan ekonomi, dan reformasi politik.
Media sosial, meskipun sempat diblokir, menjadi alat penting dalam mengoordinasikan protes dan menyebarkan pesan mereka ke dunia.
Apa Selanjutnya untuk Nepal?
Pengunduran diri Oli dan pencabutan larangan media sosial belum meredakan ketegangan sepenuhnya. Para demonstran terus melanggar jam malam dan menyerukan perubahan yang lebih luas, termasuk pembubaran parlemen.
Krisis ini telah mengekspos kerapuhan demokrasi Nepal, yang telah mengalami ketidakstabilan politik sejak transisi pada 2008.
Dengan kemungkinan pemilu dini di depan mata, pertanyaan besarnya adalah apakah gerakan Gen Z ini akan menghasilkan perubahan nyata atau hanya menjadi babak lain dalam siklus instabilitas politik Nepal.


