21 total views
INNNEWS-Demak – Ratusan santri di Kabupaten Demak, Jawa Tengah, dilaporkan mengalami gejala keracunan massal yang diduga berasal dari makanan yang dikonsumsi di lingkungan pesantren. Peristiwa ini sontak menghebohkan warga setempat dan menjadi perhatian serius aparat kepolisian serta dinas terkait.
Para santri mulai merasakan gejala seperti mual, muntah, pusing, dan diare dalam waktu yang hampir bersamaan setelah mengonsumsi makanan yang disediakan oleh dapur MBG (Makan Bergizi Gratis) SPPG. Dugaan sementara mengarah pada makanan yang terkontaminasi, meskipun penyebab pasti masih dalam proses penyelidikan lebih lanjut oleh pihak berwenang.
Petugas kesehatan dengan sigap mengevakuasi para santri yang terdampak ke sejumlah fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan penanganan medis. Beberapa di antaranya harus menjalani perawatan intensif, sementara sebagian lainnya diperbolehkan rawat jalan setelah kondisi mereka dinyatakan membaik.
Menindaklanjuti kejadian tersebut, aparat kepolisian langsung memasang garis polisi di area dapur MBG SPPG yang diduga menjadi sumber makanan. Langkah ini dilakukan guna mengamankan lokasi sekaligus memudahkan proses penyelidikan dan pengumpulan barang bukti. Sampel makanan yang dikonsumsi para santri juga telah diambil untuk diuji di laboratorium guna memastikan adanya kandungan berbahaya.
Pihak kepolisian menyatakan bahwa mereka masih mendalami kasus ini dan akan memeriksa sejumlah pihak terkait, termasuk pengelola dapur dan penyedia bahan makanan. Selain itu, koordinasi dengan dinas kesehatan juga terus dilakukan untuk mengidentifikasi penyebab pasti serta mencegah kejadian serupa di kemudian hari.
Sementara itu, pihak pesantren menyampaikan keprihatinan mendalam atas insiden yang menimpa para santri. Mereka berkomitmen untuk bekerja sama dengan aparat dan memastikan standar keamanan serta kebersihan makanan ditingkatkan ke depannya.
Kasus ini menjadi pengingat pentingnya pengawasan ketat terhadap penyediaan makanan dalam jumlah besar, terutama di lingkungan pendidikan seperti pesantren. Pemerintah daerah diharapkan dapat memperketat regulasi dan pengawasan guna menjamin keamanan konsumsi masyarakat, khususnya bagi para pelajar yang tinggal di asrama.


