131 total views
INNNEWS – Penunjukan warga negara Australia, Luke Thomas Mahony, sebagai pemimpin PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) memicu kontroversi nasional. DSI merupakan badan baru era Presiden Prabowo Subianto yang mengelola ekspor komoditas strategis Indonesia, mulai dari nikel, batu bara, timah, bauksit, hingga sawit.
CEO Danantara, Rosan Roeslani, mengonfirmasi penunjukan tersebut meski susunan lengkap manajemen belum diumumkan. Publik langsung mempertanyakan mengapa posisi sepenting itu justru diberikan kepada warga negara asing.
Luke Mahony dikenal sebagai eksekutif tambang senior dengan pengalaman di perusahaan global seperti BHP Billiton dan Xstrata Coal. Ia juga pernah menjabat di PT Vale Indonesia Tbk sebelum bergabung dengan Danantara pada 2025.
Meski pemerintah menilai keputusan ini berbasis kompetensi profesional, kritik tetap bermunculan. Banyak pihak menilai pengelolaan ekspor sumber daya strategis menyangkut kedaulatan ekonomi dan kepentingan geopolitik nasional. Dalam situasi persaingan global yang semakin ketat, penempatan WNA pada sektor vital dianggap berisiko menimbulkan konflik kepentingan maupun ketergantungan terhadap pihak asing.
Penunjukan ini juga memunculkan pertanyaan tentang kualitas pengembangan SDM nasional. Setelah bertahun-tahun berbicara tentang bonus demografi dan hilirisasi industri, publik mempertanyakan mengapa Indonesia masih bergantung pada tenaga asing untuk memimpin sektor strategis.
Di media sosial, kritik terus menguat. Banyak netizen menilai langkah tersebut bertentangan dengan semangat nasionalisme ekonomi yang selama ini digaungkan pemerintah.
Kini publik menunggu satu hal: apakah DSI benar-benar mampu meningkatkan devisa dan nilai tambah nasional, atau justru menjadi simbol melemahnya kontrol Indonesia atas kekayaan alamnya sendiri.


