46 total views
INNNEWS-4 Juni 2026* – Nilai tukar rupiah kembali menjadi perhatian setelah mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Pada perdagangan terbaru, rupiah bergerak di kisaran Rp17.970 hingga sempat menyentuh rekor terendah sekitar Rp18.045 per dolar AS. Pelemahan ini terjadi bersamaan dengan tekanan besar yang melanda pasar keuangan domestik, termasuk anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
IHSG tercatat mengalami penurunan tajam dalam beberapa hari terakhir. Pada perdagangan sebelumnya, indeks sempat merosot lebih dari 3 persen hingga turun ke bawah level psikologis 6.000. Tekanan jual terjadi di berbagai sektor seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap kondisi ekonomi global dan domestik.
Sejumlah faktor dinilai menjadi penyebab utama pelemahan rupiah. Penguatan dolar AS di pasar global, ketidakpastian ekonomi dunia, arus keluar modal asing dari negara berkembang, serta meningkatnya ketegangan geopolitik internasional membuat investor lebih memilih aset yang dianggap aman. Kondisi tersebut meningkatkan permintaan terhadap dolar AS dan memberikan tekanan pada mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Di sisi lain, perhatian pasar juga tertuju pada perubahan kebijakan ekonomi dan keuangan di Indonesia. Sejumlah lembaga pemeringkat internasional telah menurunkan prospek kredit Indonesia dari stabil menjadi negatif karena kekhawatiran terhadap kredibilitas kebijakan dan independensi regulator keuangan. Sentimen tersebut turut memengaruhi kepercayaan investor terhadap pasar domestik.
Menanggapi kondisi tersebut, *Bank Indonesia* menegaskan akan terus melakukan langkah stabilisasi di pasar keuangan. Bank sentral menyatakan siap mengoptimalkan berbagai instrumen kebijakan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan memastikan likuiditas valuta asing tetap terjaga. Selain itu, BI juga memperkuat kerja sama penggunaan mata uang lokal dalam transaksi internasional guna mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS.
Pelaku pasar kini menantikan perkembangan ekonomi global, kebijakan suku bunga Amerika Serikat, serta langkah lanjutan pemerintah dan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional. Dalam jangka pendek, arah pergerakan rupiah dan IHSG diperkirakan masih akan dipengaruhi oleh sentimen global dan arus modal asing yang masuk maupun keluar dari pasar Indonesia.


