47 total views
INNNEWS-Sebuah peristiwa kejahatan yang memilukan terungkap di salah satu pondok pesantren di Desa Mantang, Kecamatan Batukliang, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. Tiga orang santri menjadi korban penganiayaan dengan cara dibakar oleh sesama temannya di lingkungan pesantren tersebut. Akibat peristiwa naas yang terjadi pada November 2025 silam itu, satu korban dikabarkan meninggal dunia, sementara dua lainnya menderita luka bakar serius di sejumlah bagian tubuh dan masih dalam perawatan intensif di rumah sakit .
Kasus ini baru terungkap ke publik setelah rekaman video yang memperlihatkan kondisi para korban beredar luas di berbagai media sosial pada awal Juni 2026. Dalam video yang menjadi perbincangan warganet tersebut, terlihat jelas salah satu korban sedang menangis tersedu-sedu menahan rasa sakit, dengan tubuh yang sebagian besar telah terbalut perban akibat luka bakar yang dideritanya. Di sisi lain, terdengar pula suara anggota keluarga yang berusaha menenangkan korban sambil menangis haru dan marah menyaksikan keadaan anak-anak mereka.
Berdasarkan keterangan yang dihimpun, pelaku diduga melakukan tindakan kejam tersebut dengan cara menyiramkan bahan bakar cair ke tubuh para korban, kemudian membakarnya secara langsung. Motif dari perbuatan biadab ini hingga kini masih menjadi pertanyaan besar, mengingat pelaku dan korban diketahui saling mengenal dan sama-sama menuntut ilmu di tempat yang sama .
Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kota Mataram, Joko Jumadi, membenarkan adanya kejadian tersebut setelah menerima banyak laporan dan pertanyaan dari masyarakat menyusul beredarnya rekaman video tersebut di media sosial. Menurut keterangannya, pihaknya baru mengetahui kasus ini belakangan ini, padahal kejadiannya sudah berlangsung sekitar tujuh bulan yang lalu. “Ada tiga korban dalam peristiwa itu. Dua orang mengalami luka bakar berat dan satu lainnya meninggal dunia,” ungkap Joko saat dikonfirmasi awak media, Kamis (4/6/2026) .
Pihak keluarga korban mengaku sangat terkejut dan tidak menyangka hal mengerikan ini bisa terjadi di lingkungan pendidikan yang seharusnya menjadi tempat yang aman dan penuh kasih sayang. Mereka berharap aparat penegak hukum dapat segera memproses kasus ini secara transparan dan memberikan hukuman yang setimpal bagi pelaku agar tidak ada lagi korban lain di masa mendatang. Sementara itu, pihak pengelola pondok pesantren yang bersangkutan hingga saat ini belum memberikan keterangan resmi terkait kasus yang mencoreng nama baik dunia pendidikan agama ini.
Pihak kepolisian Kabupaten Lombok Tengah dikabarkan telah turun tangan untuk melakukan penyelidikan lebih lanjut, termasuk memeriksa saksi-saksi dan mengumpulkan barang bukti yang ada, guna mengungkap kronologi lengkap serta alasan di balik tindakan kekerasan yang sangat ekstrem tersebut. Masyarakat luas juga berharap kasus ini menjadi perhatian serius bagi semua pihak untuk lebih meningkatkan pengawasan dan pembinaan karakter di setiap lembaga pendidikan, baik formal maupun non-formal .


